Kuningan Catat 3.800 Kasus Katarak, Baru 1.381 yang Berhasil Operasi

KUNINGAN (MASS) – Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mata melalui pemeriksaan dan deteksi dini secara berkala. Menurutnya, skrining mata menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat berdampak terhadap kualitas hidup, pendidikan, hingga produktivitas masyarakat.

Ajakan itu disampaikan Tuti saat memberikan sambutan pada Peringatan World Sight Day (Hari Penglihatan Sedunia) Jawa Barat Tahun 2026 di Aula BJB Kuningan, Rabu (28/10/2026).

Tuti mengatakan, kesehatan mata merupakan bagian mendasar dari kualitas hidup dan pembangunan manusia. Penglihatan yang baik memungkinkan anak-anak mengikuti pembelajaran secara optimal, masyarakat bekerja dan beraktivitas dengan aman, serta kelompok lanjut usia tetap menjalani kehidupan secara mandiri.

Sebaliknya, gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dan tertangani dapat membatasi kesempatan belajar, menurunkan produktivitas, hingga mengurangi partisipasi seseorang dalam kehidupan sosial.

“Penglihatan yang baik membantu anak mengikuti proses pembelajaran secara optimal, memungkinkan masyarakat bekerja dan beraktivitas dengan lebih aman, serta mendukung lanjut usia agar tetap mandiri,” ujar Tuti.

Ia mengungkapkan, persoalan gangguan penglihatan masih menjadi tantangan serius, termasuk di Kabupaten Kuningan. Berdasarkan data deteksi dini indera tahun 2025, dari sekitar 202 ribu warga yang diperiksa, sebanyak 19.702 orang atau hampir 10 persen teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan.

Selain itu, tercatat sekitar 3.800 kasus katarak, namun baru 1.381 kasus yang berhasil menjalani operasi. Artinya, masih terdapat ribuan kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk gangguan refraksi, glaukoma, dan low vision.

Sementara berdasarkan data BPS, Kabupaten Kuningan memiliki 6.220 penyandang disabilitas, dengan 332 orang di antaranya merupakan penyandang disabilitas netra. Populasi tersebut terutama tersebar di Kecamatan Maleber, disusul Kecamatan Kuningan dan Ciawigebang.

Menurut Tuti, upaya penanganan gangguan penglihatan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan akses pelayanan, minimnya tenaga dokter spesialis mata, hingga persoalan ekonomi masyarakat.

Saat ini, pelayanan spesialis mata masih terpusat di wilayah perkotaan, yakni di RSUD 45, RS Linggajati, RS Juanda, dan Kuningan Eye Center. Kabupaten Kuningan juga baru memiliki empat dokter spesialis mata, sehingga pemerataan pelayanan menjadi tantangan tersendiri.

Kondisi tersebut semakin dirasakan masyarakat di wilayah pelosok, terutama anak-anak yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dan kacamata, tetapi terkendala biaya transportasi maupun keterbatasan ekonomi keluarga.

Di tengah tantangan ini, penunjukan Kabupaten Kuningan sebagai lokus program penanggulangan gangguan penglihatan bersama mitra strategis The Fred Hollows Foundation (FHF) diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan hingga tingkat komunitas.

Program ini menyediakan 500 kuota operasi katarak gratis dan 500 kacamata gratis bagi anak sekolah. Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh akses pemeriksaan dan penanganan gangguan penglihatan secara lebih mudah.

Tuti menegaskan, tema nasional tahun ini, ‘Skrining Mata, Langkah Kecil untuk Manfaat Besar’, menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mata dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti mengenali gejala, melakukan pemeriksaan berkala, dan segera mencari pelayanan kesehatan ketika mengalami gangguan penglihatan.

Ia juga mengajak seluruh perangkat daerah, satuan pendidikan, keluarga, kader kesehatan, puskesmas, tenaga medis, organisasi profesi IROPIN dan GAPOPIN, serta mitra pembangunan untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kesadaran dan pelayanan kesehatan mata.

Menurutnya, upaya tersebut harus dilakukan secara terintegrasi melalui edukasi, pencegahan, skrining primer, pemberian kacamata, akses pelayanan kesehatan, hingga tindak lanjut bagi masyarakat yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan.

Dalam kesempatan itu, Tuti turut mengapresiasi pelaksanaan Talkshow Kesehatan Mata yang menghadirkan dr Revanggi Marendra SpM dari PERDAMI Kuningan sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai penanganan kelainan refraksi serta deteksi berbagai penyakit mata.

Ia juga menekankan kegiatan skrining tidak boleh berhenti pada tahap pemeriksaan. Masyarakat yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan harus mendapatkan tindak lanjut dan penanganan yang sesuai.

“Saya mengajak masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan para lanjut usia, untuk menjadikan kesehatan mata sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. Jangan menunggu sampai gangguan penglihatan menghambat kegiatan sehari-hari untuk memeriksakan mata,” pesannya.

Tuti berharap Peringatan Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mata melalui pemeriksaan secara berkala. (didin)