KUNINGAN (MASS) – Demo yang awalnya menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro rakyat kini berakhir tragis. Agenda besar—pembubaran DPR-RI, pembatalan gaji fantastis pejabat, dan penolakan terhadap regulasi yang dianggap mencekik—perlahan menghilang dari perbincangan publik. Seperti kabut yang tersapu angin, tuntutan itu menguap.
Apa yang tersisa? Judul-judul muram yang menghiasi media sosial: “Polisi Tidak Pro Rakyat”, “Brimob Pembunuh Perjuangan Demokrasi”, dan segudang narasi yang mengadu domba rakyat dengan aparat. Skenario ini seakan bukan hal baru. Pola lama dimainkan lagi: ketika kepentingan elit terguncang, geser perhatian publik dengan konflik horizontal.
Bayangkan sebuah panggung besar. Aktor utamanya adalah rakyat. Mereka berteriak, mengibarkan poster, dan memenuhi jalanan. Awalnya, mereka tahu siapa lawannya: DPR, kebijakan pemerintah, dan sistem yang timpang. Namun, tiba-tiba adegan berubah. Tiba-tiba, ada “tokoh antagonis” baru yang masuk: polisi.
Polisi yang sejatinya hanya menjalankan perintah, mendadak menjadi sasaran kebencian. Aparat yang bertugas mengamankan demo kini dicap musuh demokrasi. Dan rakyat pun mengalihkan amarahnya. Hasilnya? Isu utama pun terkubur hidup-hidup. Tepuk tangan untuk para “sutradara” yang mahir menulis naskah.
Di ruang berpendingin udara, para politisi duduk manis. Kopi panas tersaji, tawa kecil terdengar, layar televisi menayangkan adegan kericuhan. Mereka tersenyum puas: “Bagus. Fokus mereka sudah berubah. Kita aman.”
Ironisnya, kita bukan hanya korban, kita juga penonton setia drama ini. Media sosial penuh hujatan. Timeline berubah menjadi arena adu argumentasi antara yang pro-polisi dan anti-polisi. Meme, video potongan bentrokan, hingga narasi “Polisi vs Rakyat” mendominasi trending topic.
Dan di tengah panggung ini, ada darah yang mengalir. Affan, seorang pejuang, kini menjadi martir. Ia turun ke jalan demi aspirasi rakyat, namun pulang dalam keadaan tak bernyawa. Namanya kini menghiasi dinding-dinding dunia maya dengan doa dan duka. Namun, apakah perjuangan yang ia bela masih kita jaga? Ataukah sudah kita gadaikan demi sensasi dan provokasi murahan?
Turut berduka cita, Bang Affan. Semoga surga menjadi tempatmu beristirahat. Sementara kami di sini, masih sibuk saling menyerang di kolom komentar.
Strategi pecah belah adalah seni tua yang tidak pernah gagal. Saat kekuatan rakyat mulai solid, ciptakan musuh baru. Provokasi disebar, emosi dimainkan, dan konflik horizontal pun meledak. Pecah belah, kuasai, nikmati. Itu rumus klasik politik.
Lihat bagaimana mulusnya skenario ini berjalan:
• Rakyat sibuk memaki polisi.
• Polisi sibuk bertahan dari hujatan dan fitnah.
• Media sibuk mengangkat konflik, bukan isu utama.
• Dan para elit? Mereka sibuk menambah pasal, mengamankan anggaran, dan tersenyum penuh kemenangan.
Kita terlalu sibuk bertanya, “Siapa yang menembak?” sampai lupa bertanya, “Siapa yang menulis skenario ini?”
Perjuangan ini tidak boleh mati sebagai trending topic semalam. Jangan biarkan pengorbanan berubah jadi tontonan. Jika benar kita peduli, maka kita harus kembalikan arah: fokus pada kebijakan, pada sistem yang timpang, pada para aktor sesungguhnya yang nyaman di balik panggung.
Selama kita sibuk mencari musuh di jalanan, mereka akan terus menyiapkan drama episode berikutnya—dengan kopi panas dan tawa sinis yang tak pernah padam.***
Penulis : Latif Pratama
Pengamat kebijakan
