KUNINGAN(MASS) – Kabar duka dalam pelaksanaan ibadah haji, adanya laporan mengenai jemaah asal Kuningan yang meninggal dunia di tanah suci. Peristiwa ini pun memicu sorotan dan evaluasi dari kalangan aktivis mahasiswa di daerah.
Aktivis Mahasiswa IMK Haerul Tamami mengkritik peran dan fungsi Kemenhaj yang kecolongan ketika ada Jemaah haji meninggal dan wafat karena sakit di Jeddah, Arab Saudi. Almarhumah mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (28/6/2026) sekitar pukul 16.00 waktu setempat.
“Ibadah haji memang sebuah momen yang dinantikan, namun kiranya ketika seorang Jemaah haji itu sakit bagaimana peran dan fungsi kemenhaj atau panpel yang terlibat, apakah jemaah itu seolah dipaksakan,” tuturnya kepada kuninganmass.com Jumat (3/7/2026).
Dalam pemberitaan sebelumnya, sebelum dinyatakan wafat, almarhumah dikabarkan mengalami penurunan kondisi kesehatan atau sakit seusai menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Akibat kondisi tersebut, ia terpaksa harus dirawat di rumah sakit setempat dan tidak bisa pulang bersama rombongan kloternya.
Kabar wafatnya Nursih dibenarkan oleh Kepala Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Kuningan, Ahmad Fauzi. “(Jemah haji yang meninggal, yang sebelumnya sakit?) Iya,” ujar Ahmad Fauzi singkat.
Haerul menilai aspek pencegahan dan antisipasi dini terhadap kesehatan jemaah harus dievaluasi total. Menurutnya, pihak Kemenhaj seharusnya bisa mengambil langkah tegas sejak awal pembekalan jika mendapati ada jemaah yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
“Saya rasa ini harus dicermati dan dievaluasi, harusnya Kemenhaj kan bisa mengambil langkah agar hal tersebut tidak terjadi, bisa saat awal pemberangkatan dicegah,” pungkasnya. (raqib)