KUNINGAN (MASS) – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan melalui Bidang Bina Marga tengah mengkaji rencana pengadaan alat produksi aspal skala kecil atau mini Asphalt Mixing Plant (AMP) dengan estimasi investasi sekitar Rp10 miliar.
Rencana ini digagas sebagai upaya meningkatkan kecepatan pelayanan pemeliharaan jalan, terutama untuk menangani kerusakan jalan skala kecil yang membutuhkan penanganan cepat dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Bina Marga PUTR Kabupaten Kuningan, Teddy Bisma, mengatakan keberadaan mini AMP disebut dapat membantu pemerintah daerah memproduksi material hotmix secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada pembelian dari luar daerah.
“Konsep kita, jika kedepan kita memiliki satu set alat produksi mini AMP secara mandiri, ini bisa menjadi langkah strategis yang sangat krusial bagi Dinas PU daerah. Nilai investasi alat ini sekitar 10 miliar, lain halnya kalau AMP besar skala industri, itu bisa ratusan miliar investasinya,” ujar Teddy, Minggu (18/10/2036).
Menurutnya, AMP skala industri umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan proyek dalam volume besar. Kondisi itu dinilai kurang fleksibel untuk mendukung pekerjaan pemeliharaan jalan skala kecil yang membutuhkan material dalam jumlah terbatas.
“AMP skala industri (komersial) dirancang untuk proyek besar, puluhan hingga ratusan ton per jam, artinya cost yang harus disiapkan juga besar dan beroperasi berdasarkan pesanan minimum. Hal ini membuat pemenuhan material perbaiki jalan skala kecil sering kali terkendala,” tuturnya.
Dengan fasilitas mini AMP, Dinas PUTR Kuningan berharap dapat melakukan penanganan kerusakan jalan secara lebih responsif, sekaligus menjaga kondisi ruas jalan yang sudah mantap agar tidak mengalami penurunan kualitas.
“Jika memiliki unit mini AMP hotmix, membuat Dinas PUTR berpindah dari pola penanganan jalan yang bersifat reaktif jangka panjang menjadi preventif operasional secara real time,” sebutnya.
Teddy menjelaskan, saat ini tingkat kemantapan jalan kabupaten berada di angka 78 persen dari total panjang jalan sekitar 771 kilometer. Untuk mempertahankan kondisi jalan yang sudah mantap, dibutuhkan anggaran sedikitnya Rp75 juta per kilometer, termasuk untuk pemeliharaan drainase dan penambalan kerusakan.
Ia juga menyebutkan, harga hotmix jenis latasir yang dibeli secara loco saat ini mencapai sekitar Rp2,1 juta per ton, belum termasuk PPN dan biaya lainnya. Dalam perhitungannya, satu ton material tersebut rata-rata dapat digunakan untuk penanganan sekitar 40 meter persegi.
Teddy memperkirakan penggunaan mini AMP berpotensi menekan pembiayaan hingga sekitar 40 persen. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan awal yang perlu dikaji lebih lanjut melalui perhitungan teknis dan finansial.
“Harga hotmix jenis latasir sekarang beli locco saha sudah 2,1 juta per ton belum PPN dan lainnya. Per ton itu rata-rata untuk 40 m2 saja. Jadi kalau punya mini AMP mungkin bisa berhemat 40 persenan dari pembiayaan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari persiapan, Bidang Bina Marga PUTR Kuningan telah melaksanakan studi tiru ke Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Kabupaten Bandung. Daerah tersebut menjadi salah satu referensi karena memiliki panjang jalan kabupaten sekitar 1.400 kilometer dengan tingkat kemantapan jalan mencapai 84 persen.
Selain Kabupaten Bandung, pihaknya juga berencana menggali informasi dari sejumlah daerah yang telah memiliki atau mengoperasikan fasilitas AMP, di antaranya Kota Solo, Kabupaten Blora dan Kabupaten Sidoarjo.
Teddy menegaskan, rencana pengadaan tersebut masih dalam tahap gagasan dan penyusunan kajian. Pihaknya akan menyiapkan kajian terperinci untuk disampaikan kepada Bupati Kuningan, sebelum melangkah ke tahapan berikutnya.
“Ini masih niatan kami, salah satunya coba memberikan solusi pelayanan di tengah keterbatasan anggaran. selain PR besar yang sedang dihadapi yaitu JLTS,” katanya.
Ia berharap rencana tersebut dapat memperoleh dukungan pimpinan daerah dan dinilai memungkinkan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
“Jika pimpinan berkehendak dan tim TAPD menyatakan memungkinkan, bukan tidak mungkin dalam dua atau tiga tahun bisa kita miliki (mini AMP),” pungkasnya. (didin)
