Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Uncategorized

Halaqah, Ulama-Ulama Sepuh Siap Kawal Khittah NU dan NKRI

KUNINGAN (MASS) – Halaqah Alim Ulama se-wilayah 3 Cirebon, Ciamis dan Banjar diselenggarakan oleh PCNU Kuningan Selasa (24/10/2017) malam. Temanya ‘Penguatan Fikrah Nahdliyyah dan Ekonomi Umat’.

Halaqah yang bertempat di Pesantren Mursyidul Falah di bawah asuhan KH Busyrol Karim itu, dihadiri langsung oleh Rois Aam PBNU Prof Dr KH Ma’ruf Amin dan Wakil Rois Aam KH Miftahul Akhyar.

Halaqah yang dihadiri ulama utusan pesantren dari wilayah 3 Cirebon, juga utusan dari Kabupaten Banjar dan Ciamis itu diawali sambutan PWNU Jabar yang disampaikan oleh salah satu wakil ketua tanfidziyah Prof Dr H Ali Anwar Yusuf.

“Menjadi pengurus NU merupakan khidmah atau pengabdian, yang dilandasi oleh tiga hal yaitu ilmu, keikhlasan dan kesungguhan (al-juhdu),” ucapnya.

Selanjutnya KH Miftahul Akhyar Wakil Rois ‘Aam PBNU mengingatkan kembali filosofi 3 simbol yang disampaikan Mbah Kholil kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Q.S.Thoha ayat 17-23, tongkat dan tasbih.

Para muassis menginginkan NU yang ‘sakti’ seperti tongkat Nabi Musa. Filosofi tongkat menunjukkan aspek kepemimpinan, sehingga NU sebenarnya tidak alergi terhadap politik namun tentu saja politik yang santun, bermoral dan menjunjung kemaslahatan umat.

Miftahul Akhyar melanjutkan, simbol tasbih sebagai pondasi ruhaniyah dan religiusitas dalam ber-NU.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Untuk menyambut 100 tahun NU Miftahul Akhyar mengusulkan perlunya tiga hal yaitu grand design, grand strategy dan grand control dalam menjalankan roda organisasi.

Berikutnya taujihat utama disampaikan oleh Rois Aam PBNU Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Ia memberikan tamsil bahwa pengurus NU itu ibarat sopir, sedangkan pemiliknya adalah para ulama.

Para ulama diharapkan membantu pengurus untuk kebesaran NU, bukan hanya ‘isman’ (besar namanya semata), tapi juga haqiqatan (memang sungguh-sungguh besar).

Tugas utama ulama menurut Ma’ruf Amin, selain persoalan agama tafaqquh fiddin, juga tugas mas’uliyah ummatiyah yaitu penguatan akidah juga pemberdayaan ekonomi umat.

“NU itu ciri utamanya adalah fikrah, yaitu aswaja an-nahdliyyah. Kenapa harus ditambahkan an-nahdliyyah karena ada yang mengaku aswaja namun menolak akidah asyariyah dan maturidiyah,” terangnya.

Aswaja itu selain tawassuth (moderat) juga tathawwuriyah (dinamis) namun tetap bermanhaj (manhajiyah). NU bermadzhab qouli dan manhaji. Tidak tekstualis, juga tidak liberal tetapi manhajiyyan menurut madzahibul arba’ah.

Rois Aam mengajak untuk terus menerus melakukan dinamisasi pemikiran (tathwirul fikrah an-nahdliyyah), dengan mencari solusi atau jalan keluar keagamaan (makharij al-fiqhiyyah), salah satunya dalam mencari solusi kebangsaan (makharij al-wathaniyyah).

“Dengan demikian cara berfikir NU itu solutif atau makharijiyyah (selalu mencari jalan keluar),” ungkapnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Selain fikrah, NU juga adalah harakah (gerakan) khususnya dalam rangka perbaikan umat (islahul ummah). Salah satunya lewat pemberdayaan ekonomi umat dan perubahan sistem ekonomi nasional. Ma’ruf Amin memberi gagasan tentang arus baru ekonomi Indonesia yang lebih mengedepankan penguatan ekonomi umat yang merata dan berkeadilan.

Sementara itu, Sekretaris PCNU Kuningan KH Aang Asy’ari berharap agar acara halaqah ini menjadi momentum untuk menjadikan NU sebagai organisasi tangguh, memperkuat dan mengembangkan pemikiran Aswaja An-Nahdiyyah dan menjaga eksistensi NKRI dari ideologi, gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merongrongnya. Harapan yang sama juga disampaikan oleh ketua PCNU Kuningan KH Aam Aminuddin. (deden)

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Bank Kuningan

You May Also Like

Advertisement