Gelisah dalam Kosong: Paradoks Manusia dan Kefanaan Dunia

KUNINGAN (MASS) – Manusia adalah makhluk paradoksal. Kita diciptakan dengan potensi sempurna, namun dalam dada selalu ada celah kosong yang sulit dijelaskan. Anehnya, kita kerap menambal kekosongan itu dengan kekosongan yang lain: ramai tapi sepi, tertawa tapi hampa, dikelilingi banyak orang tapi tetap merasa sendirian. Inilah ironi eksistensial yang jarang kita akui.

Kehidupan bergerak dinamis, kadang di atas, sering pula di bawah. Ada masa kita dikhianati, ada masa dikasihani. Ada waktu diperlakukan begitu baik, lalu di lain waktu seolah tak dianggap. Semua silih berganti, tak satu pun yang abadi. Hakikat ini sebenarnya bukan untuk dikutuk, melainkan untuk disadari: bahwa tak ada kesempurnaan sejati di dunia. Ia hanyalah fatamorgana.Islam memandang fenomena ini bukan sebagai cacat kehidupan, melainkan sebagai desain ilahiah. Allah Swt. berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui .”(Q.S. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat ini adalah diagnosis mendalam atas keresahan manusia. Dunia dan segala isinya disebut la‘ib dan lahw—permainan dan senda gurau—bukan untuk diremehkan, tapi untuk dipahami hakikatnya. Permainan selalu menyenangkan di awal, tapi cepat menjemukan. Begitu pula kenikmatan dunia: ia menipu daya, memabukkan sesaat, lalu meninggalkan kehampaan yang sama. Di tempat lain, Allah menegaskan:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. ”(Q.S. Al-Hadid: 20).

Kesenangan yang menipu—mata‘ul ghurur. Inilah jawaban dari paradoks kehampaan di puncak kebahagiaan. Kita mengejar validasi, harta, cinta manusia, lalu bertanya-tanya mengapa semua itu tak kunjung mengisi lubang di jiwa. Sebab ruh kita memang tidak diciptakan untuk dipuaskan oleh yang fana. Ia merindukan sesuatu yang kekal. Di sinilah letak kesadaran itu penting. Gelisah dalam kosong bukanlah penyakit yang harus dimusnahkan, melainkan sinyal spiritual bahwa kita sedang mencari tambatan yang salah. Selama kita mengejar bayangan, kita hanya akan mendapatkan keletihan. Tapi begitu hati berlabuh pada Yang Abadi, dunia tetap akan terasa sebagai permainan—hanya saja kita tidak lagi terperdaya olehnya. Allah mengingatkan:

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. ”(Q.S. An-Nahl: 96).

Akhirnya, menerima bahwa hidup ini fana bukanlah pesimisme. Justru di sanalah letak kebebasan sejati. Ketika kita paham bahwa kebahagiaan absolut tidak mungkin ditemukan di sini, kita berhenti menuntut dunia memberi apa yang tak dimilikinya. Kita berdamai dengan kehampaan, sembari menambatkan hati pada sesuatu yang tak akan pernah sirna. Sebab hanya di sisi-Nyalah, gelisah berubah menjadi sakinah, dan segala kosong terisi dengan makna yang tak bertepi.

Oleh: Muhammad Ghiyass, Mahasiswa STIS Husnul Khotimah