KUNINGAN (MASS) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan berhasil dipadamkan. Pos Lapangan Karhutla Ciremai resmi ditutup kemarin, Minggu (25/10/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menyebut api yang muncul sejak Rabu malam, 21 Oktober 2026 pukul 20.45 WIB di Blok Karang Dinding dan Blok Bukit Seribu Bintang (BSB) telah berhasil dipadamkan melalui operasi gabungan darat dan udara.
“Berdasarkan hasil rapat koordinasi dan evaluasi, hari ini penyisiran dan pendinginan di dua titik yaitu Blok Karang Dinding dan BSB. Ada beberapa titik api yang masih menyala berhasil dipadamkan, sehingga Pos Lapangan karhutla Ciremai di tutup. Monitoring tetap dilakukan oleh BTNGC untuk hari-hari selanjutnya,” ujar Indra saat dikonfirmasi, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, vegetasi yang terbakar berupa semak belukar, alang-alang, serasah kering, dan pohon pinus. Luasan lahan yang terbakar masih dalam proses pendataan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Indra menjelaskan, penanganan dilakukan selama 4 hari berturut-turut dengan melibatkan 136 personil gabungan. Operasi gabungan melibatkan TNI, Polri, Brimob Polda Jabar, Yonif TP 839/SA, Pemprov Jabar, BPBD Provinsi, BTNGC, BPBD Kuningan, Cirebon, Majalengka, Ciamis, Damkar, Tagana, Baznas, hingga relawan dan masyarakat sekitar.
Pada Jumat, 23 Oktober, operasi water bombing menggunakan Heli Caracal TNI AU dikerahkan dari Lanud Sugiri Sukani setelah orientasi medan. BNPB juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Bandara Kertajati sebanyak 2 sortie pada Sabtu dan 3 sortie pada Minggu.
“Hasil pantauan PUTA dan Drone Thermal cukup signifikan. Dari 13 titik api pada Kamis malam, turun jadi 10 titik pada Jumat sore, dan tersisa 3 titik pada Sabtu sore. Minggu sudah padam total,” jelas Indra.
Selama penanganan, Posko didirikan di Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan. Penanganan sempat mendapat kunjungan langsung dari Gubernur Jawa Barat, Sekda Jabar, Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, Kapolres Kuningan, Dirjen Planologi Kemenhut, hingga Kepala Dinas Kehutanan Jabar.
BPBD mencatat kebutuhan darurat saat operasi meliputi water bombing, tim penanganan, peralatan pemadaman, frekuensi dan alat komunikasi, alat berat, serta logistik. (didin)
