KUNINGAN (MASS) – Kementerian Hutan Republik Indonesia (Kemenhut RI) menggelar kegiatan bertajuk “Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030” di Taman Nasional Gunung Ciremai.
Kegiatan yang rencananya digelar selama 3 (tiga) hari itu, dibuka pada Senin (11/5/2026) kemarin dan akan berlangsung hingga Rabu (13/5/2026).
Kegiatan yang digelar untuk menekan emisi karbon pada tahun 2030 mendatang, menjaga alam lebih baik dengan meminimalisir efek ruma kaca, diikuti lintas lembaga/kementerian, mitra hutan, LSM, media serta influencer dan masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP), Kepala Biro HKLN Dr Arya Sandiyuda S Sos M Sc. Acara berlanjut dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan tim FOLU, Kepala BTNGC dan mitra serta influencer.
PPK FOLU Net Sink 2030 RBC Arga Paradita Sutiyono S Hut MSM, menjelaskan lebih jauh tentang apa itu FOLU Net Sink 2030, serta urgensinya menggandeng peran gender.
“FOLU (Forestry and Land Use) adalah kebijakan dan cara untuk menjaga hutan dan lahan agar mengurangi gas rumah kaca. Dengan melindungi dan merawat hutan, bumi akan tetap sehat dan tidak panas,” ucapnya.
Bukan tanpa sebab target itu dikejar. Pasalnya, kata Arga, diprediksi pada 2030 mendatang, jika Indonesia tidak coba menurunkan gas rumah kaca, pada tahun 2030 emisi Indonesia bisa mencapai 2,3 milliar ton CO2. Jumlah ini bisa membuat iklim di Indonesia semakin buruk.
“Dengan usaha Indonesia sendiri, serta bantuan pihak internasional, diperkirakan Indonesia dapat menekan kenaikan emisi gas rumah kaca sebesar 1,6 milliar ton. Sehingga yang seharunya Indonesia menghasilkan GRK sebanyak 2,8 milliar ton CO2 dapat ditekan menjadi 1,2 milliar ton saja,” jelasnya.
Adapun beberapa langkah yang menjadi kunci menekan emisi rumah kaca mulai dari menjaga sisa hutan alam, menaikkan kapasitas serapan karbon, serta mencegah kebakaran hutan gambut atau restorasi. (eki)