KUNINGAN (MASS) – Penutupan aktivitas tambang batu di wilayah Desa Cileleuy, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, memicu keresahan warga. Ratusan pekerja tambang yang merupakan warga setempat menggelar audiensi dengan Pemerintah Desa Cileleuy dan Camat Cigugur, Rabu (28/2/2025).
Audiensi yang berlangsung di Bale Desa Cileleuy itu dihadiri sekitar 150 pekerja. Mereka menyampaikan aspirasi dan keluhan terkait penutupan tambang yang dilakukan oleh Kantor UPT Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat Wilayah VII.
Camat Cigugur, Yono Rahmansyah menuturkan, lahan tambang tersebut merupakan tanah pribadi milik warga setempat yang telah lama dijadikan aktivitas pertambangan, bahkan diperkirakan sudah beroperasi sekitar 50 tahun.
Ia mengaku, penyegelan tambang tersebut tidak ada koordinasi terlebih dulu, baik dengan pemerintah desa maupun kecamatan.
“Tidak ada koordinasi, saya juga baru tau di situ (pertambangan) ada penyegelan dan dasarnya apa saya tidak tahu karena tidak ada informasi sebelumnya. Kami kaget juga ada informasi seperti itu,” ujar Yoyon.
“Tadi kita berdialog dengan warga penambang sekitar 150 orang. Mereka kaget ketika ada penyegelan kemudian berkoodinasi dengan perang desa dan dilanjut ke saya,” tuturnya.
Melalui audiensi tersebut, Yono mendengarkan aspirasi yang disampaikan para penambang yang hadir di di bale desa. Ia menyampaikan para pekerja menerima penyegelan tersebut namun dengan solusi yang tepat.
“Aspirasi mereka banyak, diantaranya yang pertama, kaitan dengan penutup tambang silahkan tapi juga mohon diperhatikan kehidupan kami kedepan, karena kami selama puluhan tahun menggantung hidupnya disini (pertambangan),” kata Yono.
Lebih lanjut Yono juga akan melaporkan hasil audiensi tersebut ke pemerintah daerah khususnya Bupati Kuningan, Dr Dian Rachmat Yanuar.
Senada dengan camat, Kepala Desa Cileleuy, Sadar, juga mengaku terkejut dengan adanya pemasangan spanduk penyegelan di lokasi tambang. Menurutnya, tindakan penutupan tersebut dilakukan tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah desa, camat, hingga Polsek setempat.
“Tiba-tiba udah ada pemasangan spanduk, masyarakat resah. Masyarakat kita kebanyakan buruh dari galian batu. Kalo kita tutup tadi mereka mempersilahkan tapi harus ada solusinya gimana,” tuturnya.
Ia menyinggung galian batu di wilayah Pasawahan yang ditutup oleh KDM. Menurutnya penutup tersebut langsung dibarengi dengan solusi.
“Intinya pengennya sama, silahkan tutup tapi solusinya bagaimana,” pungkasnya. (didin)







