KUNINGAN (MASS) – Perjalanan meraih mimpi tak selalu dimulai dari bakat yang langsung bersinar. Bagi Suryani Dewi Sri Asyifa, siswi kelas XII SMAN 1 Jalaksana, cinta pada dunia tarik suara adalah proses panjang yang ditempa oleh kegigihan, kegagalan, dan keyakinan pada diri sendiri.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Dewi telah menyukai dunia menyanyi. Namun, ia menyadari, kecintaannya pada musik tidak serta-merta dibarengi dengan kemampuan teknis, ia mengaku sempat belum memahami cengkok dan vibrasi suara. Meski begitu, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah.
Proses pengasahan bakat mulai ia tekuni secara serius sejak SMP, hingga menunjukkan perkembangan signifikan saat menginjak bangku SMA. Dengan kerja keras dan latihan mandiri secara otodidak, Dewi perlahan mulai dikenal di lingkungan sekolahnya. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi energi tersendiri yang menguatkan langkahnya.
Di sekolah, Dewi aktif memegang berbagai peran seni. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Seni Musik, Koordinator Seni Sunda, serta terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni. Prestasi demi prestasi pun diraih, meski tidak melalui jalan yang mudah.
“Juara satu itu tidak datang begitu saja. Banyak proses yang harus dilewati, berkali-kali gagal, lalu mencoba lagi. Alhamdulillah membuahkan hasil,” tutur Dewi.
Menurutnya, salah satu pencapaian membanggakan adalah keberhasilannya meraih Juara 1 Pop Sunda pada ajang lomba tingkat Ciayumajakuning yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kuningan tahun 2025. Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena Dewi tidak pernah mengikuti kursus vokal secara formal.
Tantangan terbesar baginya adalah harus bersaing dengan para penyanyi hebat yang sudah sering menjuarai berbagai kompetisi di wilayah Kuningan. Namun, keterbatasan itu justru menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Di luar dunia sekolah, Dewi juga sempat mengisi acara live music di beberapa kafe, meski saat ini ia memilih fokus pada penampilan solo. Menjelang kelulusan, ia memutuskan untuk sementara mengurangi aktivitas lomba demi konsentrasi pada pendidikan.
“Sekarang karena sudah kelas 12, saya fokus dulu. Nanti kalau sudah tidak terlalu sibuk, saya ingin kembali ikut kejuaraan, khususnya dangdut,” ujarnya penuh optimisme.
Dewi sendiri berasal dari Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan ketekunan, keberanian bangkit dari kegagalan, serta dukungan lingkungan, mimpi dapat diraih setahap demi setahap. (didin)







