KUNINGAN (MASS) – Budidaya ikan dewa, bukan perkara mudah. Proses pembibitan ikan yang dinilai sakral oleh masyarakat Kabupaten Kuningan tersebut bahkan disebut setara dengan penelitian jenjang S2, bukan sekadar penelitian mahasiswa strata satu.
Pemilik budidaya ikan dewa di Desa Cibinuang, Dodo Ahda, mengatakan penelitian terkait ikan dewa memiliki tingkat kesulitan tinggi. Bahkan, penelitian budidaya ikan dewa yang dilakukan di tempatnya telah diuji langsung oleh dua profesor yang memang meneliti ikan tersebut.
“Untuk pengambilan penelitian ikan dewa itu setara S2. Alhamdulillah di sini sudah diuji dua profesor, langsung di lapangan. Profesor Ismail menguji malam hari, dan Profesor Eman seharian penuh dari pagi sampai malam,” ujar Dodo, Sabtu (3/1/2025).
Menurut Dodo, ikan dewa bisa dibudidayakan melalui proses pemijahan dengan beberapa metode. Salah satunya adalah sistem semi-alami, yaitu dengan menyuntikkan obat perangsang langsung ke induk ikan.
“Setiap satu ikan disuntik. Ada juga semi buatan, disuntik lalu dilakukan stripping atau dipijat,” jelasnya.
Menurutnya, proses budidaya ikan dewa tersebut telah berlangsung sejak tahun 2019 dan hasil pemijahannya sebagian dibagikan ke masyarakat dan restoking untuk kolam kolam Kramat yang ada di Kuningan .
“Benih ikan dewa yang di bagikan serta restoking berukuran 7-10 cm umur 8-10 bulan dari proses pemijahan,” katanya
Meski memungkinkan untuk dibudidayakan, ikan dewa di Kuningan tidak dikonsumsi oleh masyarakat karena dianggap memiliki nilai sakral. Nilai sakral tersebut turut memengaruhi harga jual ikan dewa. Menurutnya secara umum harga ikan dewa bisa mencapai Rp1 juta per kilogram.
“Itu karena kita ada standar. Kalau dijual secara ulayat mungkin bisa lebih murah. Tapi standar paling murah di daerah lain seperti Sumedang dan Bogor itu Rp1,2 juta per kilo. Bahkan indukan bisa sampai Rp10 juta di Bogor dan Sumedang,” kata Dodo.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan di Aceh. Azhari, mahasiswa Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Aceh asal Desa/Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, menyebut ikan dewa di daerahnya justru dikonsumsi sehari-hari.
“Kalau di Aceh paling sekitar Rp100 ribu per kilo. Kalau dijual hidup sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu,” ungkap Azhari.
Ia menambahkan, banyak warga kota datang ke daerahnya untuk memancing ikan dewa dan ikan baung. Azhari yang saat ini berada di Kuningan mengaku datang dengan tujuan khusus, yakni mempelajari budidaya ikan dewa.
“Saya ke sini itu tujuannya untuk belajar ikan dewa, karena ikan dewa ini hampir punah di Aceh. Banyak yang mengonsumsi, tapi sulit bagaimana cara membudidayakannya,” pungkasnya. (didin)










