Cerita Istri Pertama Hadiahi Kyai Dede dengan Pernikahan Baru: Kewalahan Urus Pondok, Sekolah hingga Banyak Usaha

KUNINGAN (MASS) – Pernikahan seorang kiai di Kabupaten Kuningan, mendadak viral di media sosil karena kabarnya, pernikahan istri kedua itu “kado ulang tahun” dari istri pertama.

Adalag Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid (40), pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya. Didampingi istri pertamanya, Wida (34), dan istri keduanya, Syifa Sri Wahyuni (20), Dede menyampaikan pernikahan tersebut bukan semata-mata hadiah ulang tahun dari sang istri.

“Jadi itu diantaranya sebagai kado ulang tahun, tapi bukan sebatas itu saja. Itu tidak semerta-merta sebatas kado ulang tahun karena ada visi misi diantaranya,” ujar Dede, Jumat (12/6/2026).

Dede menceritakan, keluarganya tidak hanya mengelola pondok pesantren tetapi juga lembaga sekolah, hingga sejumlah unit usaha seperti konstruksi bangunan, perikanan hingga katering.

“Mungkin istri itu istilahnya sudah kewalahan, kami usahakan dari dulu juga melatih tenaga kerja, mendidik tenaga kerja supaya bisa membantu aktifitas kami dalam mengelola berbagai bidang. Tapi kendalanya setelah bertahun-tahun banyak yang akhirnya keluar karena menikah atau membantu orang tuanya,” tuturnya.

Ia menjelaskan dari kondisi tersebut muncul gagasan dari sang istri untuk mencari sosok istri kedua.

“Inisiatif istri, sekarang mah daripada terus-menerus mendidik orang lain yang akhirnya tidak sesuai harapan, ya mending mendidik istri (istri kedua) sekalian, manfaatnya manjang,” katanya.

Dede juga menanggapi berbagai tudingan dan isu yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan proses poligami yang dijalaninya telah melalui prosedur hukum dan syariat yang berlaku.

Menurutnya, ia telah memperoleh izin dari Pengadilan Agama setelah memenuhi berbagai persyaratan, termasuk pemeriksaan kemampuan finansial, data kekayaan, hingga dokumen pendukung lainnya.

“Kami menempuh semua, data-data kekayaan, penghasilan pun diminta. Berkasnya tebal dan prosesnya tidak mudah. Tapi kami profesional, sportif untuk menempuhnya, kami tidak ada keberatan, istri mendukung, calon istri menerima dengan senang hati,” ujarnya.

Ia juga membantah isu yang menyebut istri keduanya telah hamil sebelum menikah. Dede menjelaskan calon pengantin telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan prosedur calon pengantin sebagaimana ketentuan yang berlaku.

“Bahkan dari hasil pemeriksaan kesehatan, kami justru disarankan untuk menunda kehamilan terlebih dahulu karena kondisi kesehatan calon pengantin saat itu,” katanya.

Dede mengungkapkan rencana poligami tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Ia mengaku telah meminta pandangan dari keluarga, santri, jamaah, hingga wali santri jauh sebelum pernikahan berlangsung.

Sementara itu, Wida mengungkapkan rencana mencarikan istri kedua bagi suaminya sebenarnya telah dipersiapkan sejak sekitar tiga tahun lalu. Ia menilai suaminya merupakan sosok guru dan pemimpin keluarga yang mampu membimbing dirinya serta anak-anak dalam kehidupan beragama.

“Dia bagi saya adalah sosok imam yang baik, luar biasa. Maka bagi saya sebagai istrinya, dia pantas mendapatkan istri lagi, karena dia mampu mendidik saya dengan baik, insyaallah saya percaya dia juga mampu mendidik istri keduanya,” kata Wida.

Menurutnya, momen ulang tahun hanya menjadi kebetulan karena jadwal acara pernikahan akhirnya bertepatan dengan bulan kelahiran sang suami.

Ia juga menegaskan dirinya tidak merasa terpaksa menerima poligami. Bahkan sebelum pernikahan berlangsung, ia telah meminta persetujuan dari anak-anaknya.

“Saya sudah beberapa hari menjalani poligami ini. Dia adil, dia bijaksana. Kami juga menjalankan semuanya secara terbuka karena tidak ada yang ingin disembunyikan,” ujarnya.

Wida berharap masyarakat dapat menghormati keputusan yang telah mereka ambil. Menurutnya, yang terpenting adalah menjalani kehidupan sesuai keyakinan, aturan hukum, dan syariat yang berlaku. (didin)