Ayah, Pulanglah ke Hati Anakmu

KUNINGAN (MASS) – Setiap tanggal 29 Juni selalu diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Dilansir dari unggahan akun Instagram resmi Kemendukbangga/BKKBN, bahwa tema pada peringatan Hari Keluarga Nasional 2026 adalah “Ayah Wajib Hadir”.

Kehadiran ayah bukan sekadar ada secara fisik di rumah. Tema ini memanggil ayah untuk terlibat secara emosional dan psikologis dalam pengasuhan sehari-hari: mendengarkan, merespons, dan menemani tumbuh kembang anak. Sebab, keterlibatan aktif ayah berdampak langsung pada perkembangan kognitif anak, kestabilan emosi dan kepercayaan diri.

Selain itu, kehadiran ayah juga dapat menurunkan tingkat stres ibu pasca melahirkan, yang turut mendukung keberhasilan ASI eksklusif dan mampu mencegah stunting. Sehingga, sosok ayah yang hadir secara utuh (lahit dan batin) adalah fondasi keluarga yang lebih kuat.

Ayah adalah sosok yang menjadi tulang punggung keluarga. Dengan tanggung jawab yang besar, ayah bekerja keras dengan penuh ikhlas untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya. Namun, peran ayah tidak hanya berhenti di situ. Ayah juga adalah sosok yang memberikan perlindungan, kasih sayang, dan teladan bagi anak-anaknya.

Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anaknya. Dengan kasih sayang dan kesabaran, ayah dapat membentuk anak-anaknya menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berakhlak mulia. Ayah juga dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.

Dalam Islam, ayah memiliki peran yang sangat penting dan mulia dalam keluarga dan masyarakat. Berikut beberapa makna dan peran ayah dalam Islam, yaitu sebagai pemimpin keluarga, ayah dianggap sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan anggota keluarganya menuju jalan yang benar.

Sebagai pemberi nafkah, ayah memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya. Teladan. Ayah harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya dalam segala aspek kehidupan, termasuk akhlak, perilaku, dan ibadah. Sebagai pendidik, ayah memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya tentang agama, moral, dan nilai-nilai kehidupan. Sebagai pengayom, ayah harus menjadi pengayom dan pelindung bagi keluarganya, memberikan rasa aman dan nyaman.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua, termasuk ayah. Beberapa ayat yang relevan antara lain: QS. Al-Isra’ [17] ayat 23-24: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”. Dan, dalam QS. Luqman [31] ayat 14-15: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya…”

Kemudian, dalam hadits Nabi SAW, beliau bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, peran ayah dalam Islam sangat penting dan mulia, serta memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang baik dan beriman. Sayangnya, seringkali kita tidak menyadari betapa besarnya peran ayah dalam kehidupan kita.

Kita sering kali menganggap ayah sebagai sosok yang hanya memberikan materi, tanpa menyadari bahwa ayah juga memberikan kasih sayang, perlindungan, dan teladan. Oleh karena itu, mari kita hargai ayah kita dengan cara yang lebih baik. Berikanlah kasih sayang, perhatian, dan penghargaan kepada ayah. Beritahu ayah, betapa berartinya ayah bagi kita.

Ayah adalah pahlawan yang tak pernah menghilang. Meskipun ayah mungkin tidak selalu menampakkan perasaannya, tapi ayah selalu ada untuk kita. Ayah adalah sosok yang selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga, tanpa mengharapkan balasan. Oleh karena itu, mari kita jadikan ayah sebagai teladan dalam hidup, berikan kasih sayang serta penghargaan yang terbaik bagi ayah.

Dengan demikian, kita dapat memahami betapa pentingnya peran ayah dalam keluarga. Ayah adalah pahlawan yang tak pernah menghilang, dan kita wajib menghargainya dengan cara yang terbaik. Wallahu a’lam.

Penulis : Imam Nur Suharno

Penulis Buku Keluarga Samara Sehidup Sesurga, Pembina Forum Ayah Kabupaten Kuningan, serta Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat