Cerita Muslim Korea

Oleh : Ustadz Jajang Aisyul Muzakki (Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Korea Selatan)

Ahad 25 Ramadhan kemarin, Masjid Al-Anwar Incheon Korea Selatan kedatangan tamu dari para Dai asal Mekkah. Mereka sama sepertiku menjalankan tugas dakwah di Korea selama sebulan. Alhamdulillah ku bisa berbahasa Arab sehingga tidak kesulitan untuk berdialog dengan mereka.

Mereka datang setelah sholat ashar saat aku sedang berada di Masjid. Ada yang menarik dari kunjungan para Dai Mekkah ini, yaitu mereka menghadirkan seorang muslim Korea yang baru 8 tahun masuk Islam. Muslim di Korea yang asli penduduk Korea Selatan hanya 35.000 muslim dari total sekitar 47 juta penduduk Korea Selatan. Salah satunya adalah seorang Muslim yang hadir di Masjid ini.

Sayangnya orang Korea ini hanya bisa bahasa Korea sehingga ku tidak bisa berdialog langsung dengannya.

Dengan bantuan Pekerja Migran Indonesia yang sudah lancar berbahasa Korea, akhirnya ku memahami apa yang diucapkan muslim Korea ini.

Dia namanya Umar Kim, usianya 52 tahun. Asli Korea, baru 8 delapan tahun masuk Islam. Sejak masuk Islam dia berpisah dengan isteri dan tiga anaknya.

Berawal ketika ayahnya meninggal karena minuman keras, dia bingung nasib ayahnya setelah meninggal bagaimana?. Dia juga tidak merasakan ketenangan hidup walaupun harta melimpah. Dari situlah dia mulai mencari ketenangan, dia pelajari semua agama yang ada di dunia ini, dia sering baca tentang islam di internet. Hingga akhirnya dia memilih Islam sebagai agamanya, setelah mendapatkan pencerahan dari jamaah tabligh asal Banglades yang sedang dakwah khuruj di Korea.

Kata dia, sebenarnya orang Korea tidak memeluk Islam bukan karena tidak tertarik kepada Islam, tetapi karena mereka belum tahu tentang Islam yang sebenarnya.

Perilaku dan akhlaq mulia orang Islam yang dilihat orang Korea, akan mempengaruhi orang Korea untuk mempelajari Islam dan akhirnya ada yang masuk Islam.

Umar Kim ini merasa senang dengan orang Islam asal Indonesia yang ada di Korea. Katanya muslim indonesia very good, baik-baik dan sopan-sopan.

Perjalanannya mempelajari Islam sampai ke Daerah Kinanah di Mesir. Di sana dia khusus belajar membaca Qur’an. Saat ku minta untuk membaca surat Al-Fatihah, dia pun membacakannya dengan benar dan fashih untuk ukuran seorang muallaf Korea.

30 menit menjelang berbuka puasa, ku suruh dia berbicara di hadapan jamaah (Pekerja Migran Indonesia) dengan berbahasa Korea. Para jamaah tentunya bisa memahami bahasa Korea. (sementara aku hanya menggunakan feeling untuk memahaminya. He he).

Pertemuanku dengannya diakhiri dengan makan setelah sholat Maghrib. Kebetulan menu makannya tempe dan baso. Ternyata dia seneng baso juga, bahkan bisa menyebut baso dengan fashih.***

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com