KUNINGAN (MASS) – Tragedi korban meninggal, pengemudi ojol, dalam aksi tanggal 28 Oktober 2025 kemarin, mendapat respon dari sejumlah Ormas LSM di Kabupaten Kuningan.
Gabungan Ormas LSM beserta Ojol, telah menggelar rapat terbuka di sekretariat FK-GOL dalam menyikapi hal tersebut yang dianggap telah mencoreng wajah demokrasi Indonesia.
Gabungan Ormas LSM itu telah bersepakat membentuk Komite Aksi Peduli Demokrasi untuk turun ke jalan dan mengecam keras atas tindakan represif aparat keamanan tersebut.
Rencananya, Komite Aksi Peduli Kuningan akan melakukan aksinya pada Minggu (31/8/2025) mendatang, dari sore sampai malam. Aksi itu akan dimulai dari orasi, berjamaah sholat magrib dilanjut sholat gaib.
Rencana aksi itulah yang disampaikan Ketua Barak, Nana Rusdiana S.IP. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya insiden, melainkan bukti nyata adanya kekerasan oleh negara melalui aparat keamanan terhadap masyarakat sipil.
“Aparat yang seharusnya menjaga keamanan kini sudah berubah menjadi alat represif untuk merampas hak rakyat,” ujarnya, Jumat (29/8/2025).
Selanjutnya, lanjut Nana, demokrasi yang semestinya memberikan ruang kebebasan berpendapat dan berkumpul serta memberikan jaminan keselamatan bagi warga negara yang menyampaikan aspirasi, justru telah berubah.
“Dan kita saksikan bersama menjadi ketakutan, kekerasan dan menimbulkan korban jiwa,” tuturnya.
Namun Nana menyakini bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh rekan-rekan di Jakarta bukanlah tindakan tanpa makna, tetapi ekspresi murni dari keresahan rakyat atas adanya kebijakan yang tidak adil dan merugikan rakyat.
Nana mengajak masyarakat untuk turun ke jalan sebagai bentuk wujud nyata bahwa demokrasi masih ada meski harus dibayar dengan korban jiwa. “Kita tidak boleh diam ketika menjadi korban kekerasan negara,” ajak Nana. (eki)
