Penjualan Buku Bahasa Sunda Ke Murid TK Disoal, Ketua IGTKI Kuningan Jelaskan Begini

KUNINGAN (MASS) – Belakangan santer rencana penjualan Buku Bahasa Sunda kepada siswa TK se Kabupaten Kuningan. Praktik tersebut dikeluhkan ortu siswa lantaran harganya di angka 58 ribu. 

“Bukannya kalo siswa TK itu diajak bermain ya,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya, Minggu (4/10/2026). 

Setelah ditelusuri kuninganmass.com, penjualan buku dikoordinir oleh organisasi IGTKI Kuningan bekerjasama dengan penerbit buku ternama. Bahkan kabarnya, telah diketahui pejabat Disdikbud Kuningan meski tidak mengeluarkan surat tertulis. 

IGTKI meminta bantuan para kepala TK untuk menyosialisasikannya ke ortu murid yang kemudian muncul reaksi keberatan dari sejumlah ortu murid. 

Saat dikonfirmasikan, Ketua IGTKI Kuningan, Yuli Pramiati SPd MPd membenarkan rencana penjualan buku tersebut. Sosialisasinya baru dilaksanakan beberapa hari ke belakang. 

“Kita harus akui, kenyataan sekarang jarang anak-anak menggunakan basa sunda dalam keseharian. Itu jadi keprihatinan kita di IGTKI. Siapa yang mau ngamumule basa sunda kalau tidak kita mulai sejak usia dini,” ungkap Bunda Yuli, sapaan akrabnya, Senin (5/10/2026). 

Keprihatinan IGTKI rupanya gayung bersambut. Ada salah satu penerbit buku yang mau bekerjasama dalam memproduksi buku basa sunda. Bahkan penerbit tersebut akan melaksanakan pelatihan bagi para guru TK secara gratis. 

“Kami pikir ini positif dalam upaya ngamumule basa sunda. Buku ini selain juga untuk panduan anak-anak belajar bahasa sunda, juga sangat bermanfaat bagi guru mengenal lebih dalam lagi mengajarkan bahasa sunda ke anak. Kepemilikan buku ini dirasa tidak memberatkan, karena bisa dicicil sampai akhir tahun,” terang Yuli. 

Ia mengakui sebelumnya telah membuat buku pedoman kurikulum Gunung Ciremai. Namun setelah disebarkan, implementasi dari pedoman kurikulum tersebut kurang efektif. Program “Kamis Nyunda” tidak berjalan. 

“Maka dari itu, dengan buku ini yang langsung ke siswa, jadi jawaban dari harapan kita. Ditambah dengan adanya pelatihan ke guru-guru,” ucapnya. 

76 Tahun IGTKI Tak Punya Sekretariat

Sebagai organisasi yang beranggotakan banyak guru TK, kondisi IGTKI Kuningan cukup memprihatinkan. Sudah 76 tahun berdiri namun tidak memiliki sekretariat. Untuk ukuran Jabar, hanya IGTKI Kuningan yang belum memilikinya. 

“Sering pindah-pindah. Di Ciayumajakuning cuma di Kuningan yang gak punya sekretariat. Selama ini kita tidak berani melakukan pungutan secara khusus untuk pengadaan sekretariat,” ungkap Bunda Yuli. 

Kendati begitu, pengurus IGTKI Kuningan terus melakukan ikhtiar meski dana hibah dari pemda belum sempat teralokasikan. Sebab dirinya tahu betul kebutuhan sekretariat sangat mendesak. (deden)