KUNINGAN (MASS) – Kondisi bangunan sekolah ini nampak sudah tua. Atap-atapnya hampir ambruk dan sebagian harus ditahan dengan bambu. Bahkan, dua ruang kelas di lembaga pembelajaran ini terpaksa ditutup pihak sekolah karena sudah sangat lapuk dan dianggap membahayakan.
Bayang-bayang dan kekhawatiran atap robih atau bangunan ambruk itulah yang terus dirasakan oleh guru dan murid di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cimalaka, yang berada di Kampung Cimalaka Dusun Puhun Desa Subang Kecamatan Subang.
Murid dan guru, terpaksa harus membiasakan diri melakukan kegiatan belajar mengajar di ruangan yang atapnya lapuk. Selain melihat papan tulis, para pelajar juga berdampingan dengan bambu-bambu penyangga atap yang ditegakkan di samping meja belajar.
Madrasah swasta yang berdiri di tanah milik desa ini, kondisinya memang memprihatinkan dari tahun ke tahun. Bahkan tahun ini, MI Cimalaka tak menerima murid baru sama sekali, tidak ada kelas 1. Mungkin orang tua/wali kadung khawatir dengan kondisi bangunan.
Pihak MI Cimalaka, melalui salah satu tenaga pengajarnya Munawwar Taufik, mengamini kondisi itu dialaminya bertahun-tahun. Ia juga tak menampik ada kekhawatiran bangunan roboh.
“Kondisi MI CImalaka saat ini memprihatinkan, beberapa ruangan sudah sangat tidak layak, khwatir kalo ada hujan atau angina kenceng ditakutkan roboh,” kata Munawwar Taufik, Jumat (25/9/2026) kemarin.
Taufik bilang, segenap civitas MI Cimalaka dan peserta didik tentu berharap kondisi ini bisa segera diperbaiki, sehingga pada saat belajar mengajar, baik guru atau siswa bisa merasa aman.
“Kami juga setiap tahun selalu mengajukan (bantuan ke Pemerintah). Kebetulan di Kemenag ada link SIMSARPRAS untuk ajuan rehab atau barang alat yang dibutuhkan sekolah,” jelas Taufik.
Meski terus mengajukan, bahkan pihak Kemenag Kuningan juga memantau langsung ke MI Cimalaka dan mendorong ajuan bantuan ke Pusat, tapi memang ada kendala regulasi soal status tanah.
“Kami juga memahami regulasi yang ada, tentang status tanah, karena tanah ini belum sertifikat dan punya desa, masih hak guna pakai. Sementara dalam regulasi sekarang (mengharuskan penerima bantuan adalah madrasah dengan) tanah yang bersertifikat. Mungkin ini kendala bagi kami (sehingga) ajuan belum direalisasikan,” ungkapnya.
Saat ini, jumlah total siswa di MI Cimalaka tinggal 22 siswa. Padahal, di masa-masa sebelumnya, siswa disana cukup banyak karena diminati juga oleh anak-anak dari Desa Jalatrang (perbatasan).
Karena serba keterbatasan itu, MI Cimalaka membuka donasi. Beberapa dari alumni dan orang tua, memberikan donasi baik dalam bentik uang ataupun barang. Ada yang menyumbang pasir, hingga kayu, bahkan sebagian masih dijatahkan kayunya dari kebun.
Diceritakan Taufik, bangunan MI Cimalaka rusak parah selama kurang lebih 5 tahun terakhir. Biasanya, perbaikan dilakukan dengan prioritas yang paling rusak, bergantian setiap tahun karena keterbatasan dana.
Meski membuka donasi karena tidak ada bantuan yang cukup mengcover, Taufik tidak menghilangkan bantuan yang diberikan dari Pemerintah. Pemdes masa Kuwu Irin, kata Taufik sempat membantu TPT.
Kemudian, lanjut Taufik, BAZNAS juga sempat memberikan bantuan mabeler dan uang senilai Rp 5 juta. Punbegitu dari Kemenag Kuningan yang meninjau dan memberi bantuan.

Taufik bilang, pihaknya berterima kasih atas perhatian-perhatian tersebut. Meski tidak mengover kebutuhan yang begitu besar, namun sedikit meringankan.
Dan saat ini, MI Cimalaka membuka donasi melalui pamflet yang disebar. Bagi siapapun yang ingin turut membantu, bisa menghununhi 082116419398 Rumhanah S PdI (pengajar MI Cimalaka) atau transfer melalui norek 01330104269750 BRI. (eki)
