Produktivitas Meningkat, Panen Ubi Jalar di Kuningan Capai 42 Ton per Hektare, Diskatan Seriusi Boled Jadi Komoditas Menjanjikan

KUNINGAN (MASS) – Kabupaten Kuningan mendorong ubi jalar jadi salah satu komoditas pangan yang bisa jadi sumber nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan petani. Bukan tanpa alasan memilih ubi jalar alias boled, hasil demplot Pemkab Kuningan yang telah dipanen menunjukkan produktivitas ubi jalar mencapai sekitar 42 ton per hektare, meningkat dari kisaran 20–25 ton per hektare sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan produktivitas sebelumnya sebesar 25 ton per hektare, terdapat tambahan produksi sekitar 17 ton per hektare. Dengan asumsi harga ubi jalar Rp 4.000 per kilogram, tambahan produksi tersebut secara bruto memiliki nilai sekitar Rp 68 juta per hektare. Alasan itulah yang membuat Pemkab Kuningan menggagas GEMBOL (Gerakan Menanam Boled).

GEMBOL diluncurkan langsung oleh Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dalam rangkaian kegiatan Sosialisasi Demplot Pertanian, Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani, dan Penyerahan Bantuan Sarana Produksi Pertanian Tahun 2026 di Lapangan Upacara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Senin (21/9/2026) kemarin.

Sekitar 300 petani dari 14 kecamatan mengikuti kegiatan tersebut. Hadir secara langsung Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., serta jajaran Diskatan, para Kepala UPTD KPP, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kelompok tani, Gapoktan, serta pelaku sektor pertanian.

Dalam kesempatan itu, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengatakan pembangunan pertanian harus ditempatkan sebagai bagian penting dari upaya menjaga kehidupan sekaligus membangun masa depan masyarakat.

“Ketika kita berbicara tentang pertanian, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kehidupan dan masa depan. Pangan lahir dari tanah yang diolah, benih yang ditanam, air yang dijaga, dan tangan-tangan petani yang setiap hari bekerja dengan ketekunan,” kata Dian.

Menurutnya, peningkatan produktivitas harus menjadi pintu masuk menuju penguatan ekonomi petani. Karena itu, pengembangan ubi jalar tidak boleh berhenti pada budidaya dan produksi.

“Jangan berhenti pada produksi. Kita harus berpikir tentang pascapanen, pengolahan, pemasaran dan hilirisasi. Dengan begitu, komoditas pertanian dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani,” katanya.

Ia menegaskan GEMBOL harus tumbuh sebagai gerakan yang berkelanjutan dan melibatkan seluruh ekosistem pertanian, mulai dari petani, penyuluh, kelembagaan, pemerintah, pelaku usaha hingga pasar.

Kuningan Miliki Kawasan Ubi Jalar 2.530 Hektare

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., mengatakan pengembangan GEMBOL memiliki basis potensi yang kuat. Kabupaten Kuningan telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Pertanian Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 02/Kpts/RC.040/M/01/2025.

Dalam kebijakan tersebut, kawasan pertanian Kabupaten Kuningan mencakup sejumlah komoditas tanaman pangan, yakni padi seluas 27.716 hektare, jagung 2.500 hektare, ubi kayu 1.182 hektare, serta ubi jalar 2.530 hektare.

“Penetapan kawasan pertanian nasional bukan sekadar angka dalam dokumen. Ini adalah amanah, peluang sekaligus tanggung jawab yang harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas dan kesejahteraan petani,” ujar Wahyu.

Menurutnya, peningkatan produktivitas melalui demplot harus menjadi pengetahuan yang dapat direplikasi di lahan petani, dengan tetap memperhatikan kondisi agroekosistem dan pendampingan teknis.

“Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi. Pertanian adalah fondasi pangan, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus bagian penting dari masa depan daerah. Karena itu, yang kita bangun bukan hanya produksi, tetapi juga kekuatan petani, ketahanan pangan dan kemandirian Kabupaten Kuningan,” katanya.

300 Petani Ubi Jalar Mendapat Dukungan Sarana Produksi

Sebagai bagian dari penguatan budidaya, Pemerintah Kabupaten Kuningan menyerahkan bantuan sarana produksi pertanian kepada 300 petani ubi jalar. Bantuan mencakup sarana pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, antara lain Insektisida Purdan Plus, Fungisida Benazeb, Insektisida BM Promax, Insektisida Benape, Pupuk Futura, Pupuk Fruitka, Pupuk Impetus dan Pupuk Solutus.

Wahyu menegaskan bantuan tersebut harus diposisikan sebagai instrumen peningkatan produktivitas, bukan sekadar distribusi barang.

“Pupuk dan sarana produksi adalah input. Tujuan akhirnya bukan pupuk, tetapi produksi. Dan produksi pun bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah usaha tani yang lebih produktif, lebih menguntungkan, dan keluarga petani yang semakin sejahtera,” tegasnya.

Dukungan tersebut, lanjut Wahyu, perlu berjalan bersama pendampingan agar teknologi dan inovasi yang diterapkan dapat dipahami dan diadopsi petani.

Demplot Buktikan Potensi Peningkatan Produktivitas

Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, demplot merupakan ruang pembelajaran sekaligus sarana untuk melihat hasil penerapan teknologi dan inovasi secara langsung.

Bupati Dian meminta demplot tidak berhenti sebagai lahan percontohan, tetapi menjadi tempat belajar yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi yang sesuai dengan kondisi lahannya.

“Demplot harus menjadi tempat belajar. Bantuan harus menjadi sarana meningkatkan produksi. Dan kelembagaan petani harus menjadi kekuatan bersama,” ujar Dian.

Ia juga meminta jajaran pertanian, mulai dari UPTD hingga penyuluh, memastikan pengetahuan dan inovasi benar-benar sampai kepada petani.

“Ilmu harus turun ke sawah. Teknologi harus sampai kepada petani. Inovasi harus menjadi perubahan nyata dalam cara bertani,” tegasnya.

Kata Petani

Salah seorang petani peserta, M. Bangun, mengatakan hasil demplot yang telah dipanen menunjukkan perubahan produktivitas yang nyata.

Menurut Bangun, sebelum penerapan teknik budidaya melalui demplot, produktivitas ubi jalar berada pada kisaran 20–25 ton per hektare. Pada demplot yang telah dipanen, hasilnya mencapai sekitar 42 ton per hektare.

“Sebelumnya produktivitas boled kami sekitar 20 sampai 25 ton per hektare. Setelah mengikuti demplot dan menerapkan teknik budidaya yang diarahkan, hasil panen bisa mencapai sekitar 42 ton per hektare,” ujar Bangun.

Dengan menggunakan angka pembanding 25 ton per hektare, peningkatan tersebut setara dengan tambahan produksi sekitar 17 ton per hektare.

Pada asumsi harga Rp4.000 per kilogram, tambahan produksi 17 ton tersebut memiliki nilai sekitar Rp 68 juta per hektare secara bruto.

Nilai tersebut merupakan tambahan nilai produksi dan belum memperhitungkan biaya produksi, sehingga tambahan keuntungan bersih petani bergantung pada struktur biaya masing-masing usaha tani.

Bangun mengatakan, bagi petani, hasil panen demplot menjadi bukti penting bahwa peningkatan produktivitas dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan.

“Bagi kami, ini yang paling penting. Demplot bukan hanya tempat melihat teori, tetapi kami bisa melihat langsung hasilnya. Kalau produktivitas meningkat, tentu peluang pendapatan petani juga semakin besar,” katanya.

Ia berharap teknologi dan teknik budidaya yang diterapkan dalam demplot dapat terus didampingi dan diperluas ke lahan petani lainnya.

“Kami petani siap mengikuti inovasi. Harapannya, teknologi dan cara budidaya yang sudah diterapkan di demplot ini bisa terus didampingi dan diterapkan di lahan petani lainnya. Kalau produksinya meningkat dan pasarnya semakin terbuka, manfaatnya akan semakin terasa bagi petani,” ujarnya.

Dari Lahan hingga Pasar

Peningkatan produktivitas, menurut Wahyu, baru merupakan salah satu tahapan dalam pengembangan ubi jalar. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil produksi memiliki pasar dan dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Karena itu, GEMBOL diarahkan untuk memperkuat rantai nilai ubi jalar mulai dari budidaya, produktivitas, pascapanen, pengolahan, pemasaran hingga hilirisasi.

“Petani jangan hanya menjadi produsen. Kita harus mendorong petani menjadi pelaku usaha pertanian. Nilai tambah jangan berhenti di lahan, tetapi bergerak sampai pengolahan dan pasar,” ujar Wahyu.

Menurutnya, keberhasilan GEMBOL nantinya tidak hanya dilihat dari luas tanam atau jumlah produksi, tetapi juga dari kemampuan meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, nilai tambah dan kesejahteraan petani. (eki)