KUNINGAN (MASS) – Memasuki abad kedua perjalanan Persyarikatan, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru dalam menjaga efektivitas gerakan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Kemampuan beradaptasi dan membangun tata kelola berbasis digital dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan organisasi tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Semangat itu menjadi salah satu pembahasan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) SatuMu yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan) dengan melibatkan unsur Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di Kabupaten Kuningan.
Kegiatan turut dihadiri Rektor UM Kuningan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kuningan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Majelis Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (MPI), unsur PCM, serta pemateri dari Bank Danamon.
Ketua PDM Kuningan, Dr KH M Empi Adrapi, menuturkan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari tantangan Muhammadiyah dalam menjalankan gerakan organisasi.
Menurut Empi, pembaruan menjadi kebutuhan agar Persyarikatan mampu merespons perubahan zaman. Teknologi harus dipandang sebagai instrumen yang dapat membantu Muhammadiyah bekerja lebih efektif, bukan sebagai sesuatu yang justru memperlambat aktivitas organisasi.
“Memasuki abad kedua, Muhammadiyah harus terus melakukan pembaruan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Teknologi harus kita manfaatkan untuk memperkuat kerja Persyarikatan,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan pola kerja akibat perkembangan teknologi menuntut seluruh tingkatan organisasi memiliki kesiapan yang sama. Karena itu, penguatan kapasitas hingga tingkat PCM menjadi penting agar transformasi digital tidak hanya berlangsung di tingkat pusat atau daerah.
Hal senada disampaikan Hermawan yang membawahi LPCRM. Ia menilai transformasi digital Muhammadiyah membutuhkan keterlibatan seluruh unsur Persyarikatan.
“Kita tidak cukup hanya mengetahui perkembangan teknologi. Kita harus mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan menggunakannya untuk memperkuat Persyarikatan,” tegas Hermawan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penerapan SatuMu, platform digital yang dirancang untuk mengintegrasikan data keanggotaan, aset, dan organisasi Muhammadiyah dalam satu sistem.
Melalui platform tersebut, Muhammadiyah berupaya membangun pola pengelolaan data yang lebih terintegrasi. PCM juga didorong untuk menerapkan sistem tersebut agar proses pendataan dan koordinasi organisasi dapat berjalan lebih seragam.
Penerapan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) elektronik turut menjadi bagian dari pembahasan. Digitalisasi KTAM diharapkan dapat mendukung terbentuknya basis data keanggotaan yang lebih tertata sekaligus terhubung dengan sistem SatuMu.
Sementara itu, Rektor UM Kuningan, Dr Apt Wawang Anwarudin, menyampaikan dukungan kampus terhadap program-program Persyarikatan Muhammadiyah.
Ia menilai Bimtek SatuMu menjadi bagian dari penguatan sistem terpadu yang dapat membantu pengelolaan data dan organisasi secara lebih efektif. UM Kuningan, lanjutnya, berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Persyarikatan.
“Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan gerakan dan tata kelola organisasi,” tuturnya.
Selain membahas digitalisasi organisasi, Bimtek juga menghadirkan pemateri dari Bank Danamon dengan materi “Syariah untuk Muhammadiyah”. Materi ini membahas layanan keuangan syariah serta peluang sinerginya dengan kebutuhan warga dan amal usaha Muhammadiyah. (didin)