KUNINGAN (MASS) – Lima warga dari berbagai latar belakang profesi mendapat penghargaan dalam Puncak Pangajen Rakyat Pinunjul Tahun 2026 yang digelar Forum Diskusi Waroeng Rakyat Kabupaten Kuningan di Erion Space, Awirarangan, Minggu (23/8/2026).
Penghargaan itu diberikan kepada Amini asal Cikadu sebagai Petani Pinunjul, Dede Eka Rajadanu sebagai Guru Pinunjul, Abdul Hakim asal Kadatuan sebagai Buruh Pinunjul, Nina Setianah asal Maleber sebagai Pedagang Pinunjul, dan Daskim asal Dukuhmaja sebagai Marbot Pinunjul.
Kelima sosok itu terpilih setelah melalui rangkaian seleksi dan verifikasi. Panitia tidak hanya menilai berdasarkan profesi, tetapi juga menelusuri kehidupan serta peran mereka dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ketua Panitia, Dzikri Caesar dalam sambutannya menjelaskan, penghargaan yang diberikan lahir dari keinginan untuk mengangkat cerita warga yang selama ini jarang mendapat sorotan.
“Banyak masyarakat di Kuningan yang mempunyai cerita inspiratif mengenai perjuangan di kampung-kampung atau di desa-desa mereka. Itulah yang kita cari dan kita angkat,” ujar Zikri.
Menurut dia, proses pencarian dilakukan sejak pendaftaran, verifikasi hingga kunjungan langsung ke lapangan. Dari penelusuran itu, panitia menemukan sejumlah nominator menjalani lebih dari satu pekerjaan demi menopang kehidupan keluarga.
“Walaupun kategorinya hanya satu profesi, kebanyakan mereka memiliki banyak pekerjaan sampingan untuk menghidupi keluarganya,” katanya.
Program ini menjadi bagian dari aktivitas Forum Diskusi Waroeng Rakyat, komunitas yang digagas lima founder, yakni Ilham Ramdhani, Rio Kencono, Dede Awaludin, Alehandro Malik dan Yusup Dandi Asih.
Founder Forum Diskusi Waroeng Rakyat, Ilham Ramdhani, menyampaikan bahwa komunitasnya berupaya mengambil peran dalam persoalan sosial yang belum banyak tersentuh.
Forum tersebut, kata dia, telah berlangsung selama 17 tahun. Selain menjadi ruang bertukar gagasan, kegiatan forum juga diarahkan untuk membangun kader dan melibatkan generasi muda.
“Urusan politik biarlah diurus oleh partai politik. Urusan sosial, urusan kedinasan, biarlah diurus oleh yang lain. Mari kita mengurus yang tidak diurus oleh orang lain,” ujarnya.
Ilham menambahkan, Pangajen Rakyat Pinunjul tidak dimaksudkan untuk menampilkan keterbatasan para penerima. Sebaliknya, penghargaan diberikan sebagai bentuk penghormatan dan dukungan atas manfaat yang telah mereka berikan.
Apresiasi juga datang dari Bupati Kuningan Dr Dian Rachmat Yanuar. Ia menilai kontribusi masyarakat merupakan bagian penting dalam perjalanan pembangunan daerah.
“Pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Kuningan, tidak selalu hadir dari kebijakan pemerintah, apalagi tidak harus hadir dari keputusan bupati atau ketua DPRD,” tuturnya.
Menurut Dian, banyak warga yang bekerja tanpa mencari pengakuan, tetapi hasilnya dirasakan oleh orang-orang di sekeliling mereka.
“Bekerja dalam diam, bekerja dalam senyap, dan manfaatnya dirasakan oleh orang banyak,” tuturnya.
Ia menyebut lima penerima penghargaan sebagai contoh yang patut diteladani. Dari 25 nominator yang masuk dalam proses seleksi, menurutnya, seluruhnya memiliki nilai yang dapat menjadi pertimbangan pemerintah daerah untuk memberikan apresiasi pada momentum Hari Jadi Kabupaten Kuningan.
Meski demikian, Dian mengingatkan agar penghargaan tidak berhenti sebagai simbol berupa piagam maupun hadiah. Menurutnya, apresiasi semestinya mampu memicu lebih banyak masyarakat untuk melakukan tindakan positif di lingkungannya.
Ia turut menyoroti peran aktivis dan kelompok masyarakat dalam menyampaikan kritik. Kritik, kata Dian, akan lebih bermanfaat apabila dibarengi gagasan dan kesediaan untuk terlibat menyelesaikan persoalan.
“Jangan sampai bertanya, mengapa ini belum selesai, tapi bertanya, apa yang harus kita bantu untuk menyelesaikan persoalan ini,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, lanjut Dian, diperlukan dalam menangani persoalan seperti lingkungan, sampah, serta pengembangan potensi desa. Ia juga mendorong masyarakat untuk tidak berhenti pada menyampaikan keluhan melalui media sosial, tetapi mengambil bagian dalam penyelesaian di lapangan.
“Ukuran kepedulian bukan ditentukan dengan suara keras atau tidaknya seorang aktivis, tapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkan akibat suara itu,” tutupnya.
Acara ini turut dihadiri sejumlah unsur Forkopimda Kabupaten Kuningan, termasuk Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy, Sekretaris Daerah U Kusmana. Turut hadir tokoh Kuningan Ridho Suganda, Wakil Ketua Baznas, akademisi, aktivis, tokoh masyarakat.l
Dalam proses penilaian, panitia melibatkan dua panelis utama, yakni Topic Offirstson dan Pandu Hamzah. Penilaian juga didukung panelis ahli sesuai bidang masing-masing, yaitu Harnida Darius Haryanto untuk kategori buruh, Dr Wahyu Hidayah untuk petani, Dr A Fenny Rahman untuk guru, Heri Kosasih untuk marbot, serta Dr Risna Nurlia untuk pedagang. (didin)