KUNINGAN (MASS) – Soal isu keretakan hubungan politik antara Bupati Kuningan Dr Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani kembali menjadi perhatian.
Menanggapi isu tersebut, mantan juru kampanye pasangan Dian Rachmat Yanuar-Tuti Andriani (DIRAHMATI) pada Pilkada 2024, Agus Ebreg, memastikan hubungan keduanya tetap harmonis dan tidak mengalami keretakan.
“Kalau orang berpandangan ada keretakan, saya pastikan tidak ada keretakan. Yang namanya satu paket, kita kategorikan dalam bab rumah tangga. Ada bumbu-bumbu manis, ada bumbu-bumbu pahit. Dinamikanya jangan terlalu dibesar-besarkan,” ucap Agus, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Agus, dinamika antara kepala daerah dan wakil kepala daerah merupakan sesuatu yang wajar dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia meminta berbagai dinamika tersebut tidak ditarik terlalu jauh hingga menimbulkan kesan seolah-olah terjadi perpecahan.
“Saya pastikan Bupati dan Wakil Bupati Dian Rachmat Yanuar-Tuti Andriani tidak ada keretakan,” tegasnya.
Agus bahkan meyakini pasangan Dian-Tuti masih memiliki peluang untuk kembali bersama menghadapi kontestasi politik pada Pilkada 2029.
“Kalau dikaitkan dengan harmonisasi Dian-Tuti, saya pastikan masih harmonis. Bahkan nanti menjelang 2029, saya sebagai mantan juru kampanye memastikan akan ada DIRAHMATI jilid dua,” ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini Dian dan Tuti masih memiliki fokus yang sama, yakni memastikan program-program pemerintahan berjalan dan dapat dirasakan masyarakat.
Menurutnya, kondisi Kabupaten Kuningan yang perlahan mulai membaik juga menjadi perhatian utama keduanya. Karena itu, Agus menilai energi pemerintahan seharusnya diarahkan pada pelaksanaan program, bukan pada isu mengenai hubungan personal maupun politik antara bupati dan wakil bupati.
“Sekarang Bupati dan Wakil Bupati ini lagi fokus bagaimana 10 program Dian-Tuti ini berjalan dengan baik, dirasakan oleh rakyat Kabupaten Kuningan,” katanya.
Agus juga menyinggung peran Tuti dalam mendorong pembangunan infrastruktur, khususnya terkait anggaran yang akan diluncurkan pemerintah daerah.
“Amih Tuti berfokus di anggaran yang akan diluncurkan, sebagaimana masyarakat Kabupaten Kuningan menginginkan adanya pembangunan-pembangunan jalan untuk roda ekonomi, baik di sektor pedesaan, sektor kota maupun sektor wisata,” tuturnya.
Lebih lanjut, Agus turut menanggapi munculnya nama Tuti Andriani sebagai salah satu figur yang disebut berpeluang memimpin DPC Partai Gerindra Kuningan.
Menurutnya, persoalan tersebut sepenuhnya merupakan ranah internal partai. Dalam politik, kata Agus, setiap kader memiliki peluang untuk mendapatkan kepercayaan partai, namun keputusan akhir tetap berada di tangan struktur partai di tingkat pusat.
“Namanya berpolitik, tentunya dalam partai itu punya namanya ketua partai. Yang saat ini Bapak-Bapak tahu bahwa ketua Partai Gerindra ini adalah Pak Presiden,” tuturnya.
Ia mengatakan, keputusan mengenai siapa yang akan memimpin Gerindra di daerah harus dilihat sebagai bagian dari strategi partai untuk memastikan program dan kebijakan partai dapat berjalan hingga tingkat daerah.
Karena itu, ia menilai tidak tepat jika munculnya nama Tuti dalam bursa Ketua DPC Gerindra Kuningan langsung dikaitkan dengan isu keretakan hubungannya dengan Dian Rachmat Yanuar.
“Tidak menutup kemungkinan kalau tidak ada bupatinya, berarti wakilnya yang dari Gerindra, atau DPR RI-nya. Itu ranah pusat,” pungkasnya. (didin)