Objek Wisata Legend Jadi Terbengkalai, 7 Tahun Tak Hasilkan PAD, Mantan Pengelola Linggarjati Indah Sedih

KUNINGAN (MASS) – Salah satu objek wisata legend yang ada di Kabupaten Kuningan, Linggarjati Indah, kini kodnisinya memprihatinkan setelah sekitar 7 tahun belakangan terbengkalai. Waterboom yang diklaim pertama di Kuningan ini, kini tak lagi terurus.

Bukan tanpa sebab. Saat dipegang pengelola lama, objek wisata yang berdiri di tanah Pemda ini sebenarnya menarik kunjungan yang tinggi, bukan hanya lokal, tapi juga dari kabupaten/kota sekitar. Namun kini kondisinya berbeda, selain rumput ilalang yang tumbuh tinggi, banyak bangunan yang tidak terurus dan bahkan dibongkar.

Ir Oji SF, mantan pengelola Linggarjati Indah, dalam Podcast Kuninganmass yang tayang di YouTube, mengaku sedih saat melihat kembali kondisi Linggarjati Indah yang sempat dikelola pihaknya selama 35 tahun, kondisinya memprihatinkan, tak ada yang mengurus.

“Aduh, perasaannya sedih banget. Sedih, yang dulu kita di sini dengan teman-teman karyawan ramai 24 jam. Tiba-tiba dengan adanya aturan habis kontrak akhirnya diputuslah. Kontrak itu habis, pengelolaannya juga habis dan karyawan kita juga akhirnya banyak yang dirumahkan dengan kejadian habis kontrak ini,” kata Oji, Jumat (14/8/2026).

Cerita Oji, saat itu habis kontrak pengelolaan jatuhnya pada tahun 2019. Dan ternyata, setelah habis kontrak itu tidak ada lagi yang mengelola, baik dari pemerintah maupun dari pihak ketiga lainnya. Total sudah sekitar 7 tahun terbengkalai.

“(Padahal dulu ramai banget ya, Pak ya?) Iya, ramai dan sangat legend itu. Jadi ada bahasa orang Indramayu, belum lebaran kalau enggak ke objek wisata Linggarjati,” jawabnya.

Bukan tidak mau memperpanjang, Oji mengaku pihaknya sempat mengajukan perpanjangan kontrak setahun sebelum habis. Ia mengaku, surat pengajuan itu diterima Pemda, sempat dipanggil untuk pemparan juga dan dijanjikan untuk dikaji.

Namun ia juga tak mengerti apa yang terjadi karena kontrak tak kemudian dilanjut, padahal dalam kontrak ada poin hendak memprioritaskan yang pertama mengelola. “Kita ini ngebangun dari tahun 1986 hampir 35 tahun kita kelola, makanya sempat booming Linggarjati itu karena saat itu mungkin belum ada wisata lain gitu dan di sini komplit ada villa, ada kolam renang, ada ikan dewa dan sebagainya gitu,” ucapnya.

Dengan luas hampir 2 hektare, ia mengaku tak mengerti apa kendala,  kenapa kemudian tidak ada yang mengelola. Oji mengaku tahu beberapa pengelola baru sempat masuk, namun di tengah perjalanan selalu menyerah, tidak lanjut untuk mengelola OW Linggarjati Indah.

Saat dikelola pihaknya, pemasukan untuk daerah cukup besar, dilakukan dengan cara sharing tiket bahkan mencapai 65 : 35. Setiap tahunnya, pemasukan ke daerah terus mengalami kenaikan. Total dengan pajak restoran dan pajak lainnya bisa mencapai Rp 300 juta pertahun.

“Terakhir pokoknya 2019 kalau enggak salah bulan Agustus ya,” sebutnya.

Di akhir, Oji juga angkat bicara fenomena objek wisata terbengkalai di Kabupaten Kuningan. Ia menyarankan, terutama bagi objek wisata yang dikelola oleh pihak ketiga namun tanahnya milik Pemda, belajarlah dari Lingarjati Indah. Ia maklum, Pemda mungkin punya keinginan memasukan investor baru, tapi jangan melupakan sejarah.

Yang pertama membangun, lanjutnya, biasanya lebih berat di awal karena harus babat alas. Namun mereka yang dari awal biasanya lebih mengerti, juga sudah menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

“Saya mah hanya menyarankan kalau memang ada wisata yang kira-kira dengan Pemda ini sudah mau habis ataupun yang baru, lebih baik lihatlah yang lama biar baik buruknya yang lama itu lebih lebih tahu, lebih paham di lapangan gitu. Jangan malah nanti terbengkalai kayak begini, seperti Linggarjati ini sangat miris gitu loh,” pesannya.

“Makanya jangan melihat hanya ingin besar investnya, tapi melupakan sejarah yang pertama dia babak gitu, yang dia rintis itu. Itu sangat pedih. Itu enggak mudah gitu ya. Intinya antara pengusaha dengan pemerintah daerah itu ada win-win solution yang terbaikah,” imbuhnya di akhir. (eki/deden)