KUNINGAN (MASS) – Desa Sagaranten, Kabupaten Kuningan, kini memiliki Taman Baca Masyarakat (TBM) sebagai ruang belajar dan pengembangan literasi bagi warga. TBM resmi diluncurkan sebagai salah satu program kerja Kelompok 1 KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang ditempatkan di Desa Sagaranten.
Peresmian TBM dirangkaikan dengan Seminar Literasi yang menghadirkan dua narasumber dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan, Wiwi Patmawati dan Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana PAUD, Eris Rismayana.
Keduanya menyampaikan pentingnya membangun budaya literasi sekaligus mengoptimalkan TBM sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.
Kepala Desa Sagaranten, Diding, mengatakan penguasaan ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi perlu dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif, terutama sebagai sarana belajar.
“Yang dibutuhkan sekarang itu ilmu, dan pandai-pandai memanfaatkan teknologi untuk belajar sebaik-baiknya, bukan hanya untuk hiburan saja tetapi untuk belajar,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).
Sementara itu, Eris Rismayana menekankan bahwa literasi merupakan kebiasaan yang perlu dibangun sejak dini.
“Budaya literasi itu kebiasaan untuk melakukan membaca, dan segala sesuatu itu dimulai dengan membaca,” katanya.
Menurut Eris, kehadiran TBM menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan sarana pendidikan nonformal berbasis masyarakat. TBM diharapkan dapat memperluas akses pembelajaran sekaligus mendukung ekosistem pendidikan yang mencakup berbagai kelompok usia.
Dalam seminar bertema “Bersama Literasi, Meraih Masa Depan Penuh Inspirasi”, Wiwi Patmawati mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang beredar melalui media sosial.
“Saat membaca berita di media sosial, kita tidak boleh langsung percaya. Harus dicari dulu kebenarannya,” ucapnya.
Ia mengingatkan masyarakat terhadap maraknya hoaks dan penipuan digital. Menurutnya, literasi tidak sebatas kemampuan membaca buku, tetapi juga mencakup kecakapan menggunakan teknologi dan menyaring informasi.
Wiwi menjelaskan terdapat enam jenis literasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu:
- Literasi baca-tulis, mencakup kemampuan membaca, menulis, serta memahami informasi tertulis, termasuk petunjuk penggunaan obat.
- Literasi numerasi, yaitu kemampuan menggunakan angka dan berhitung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengelola keuangan.
- Literasi sains, yakni kemampuan memahami fenomena alam berdasarkan pengetahuan ilmiah, termasuk menjaga kebersihan lingkungan.
- Literasi digital, berupa kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, menjaga etika di media sosial, dan memanfaatkan gawai untuk hal positif.
- Literasi finansial, yaitu kemampuan mengelola keuangan, menabung, menentukan prioritas kebutuhan, serta menghindari utang yang tidak diperlukan.
- Literasi budaya dan kewargaan, yakni kemampuan memahami kebudayaan, menghargai perbedaan, serta menjalankan peran sebagai warga negara dengan baik.
“Masyarakat yang memiliki literasi baik akan lebih cerdas, lebih kreatif, dan lebih selektif dalam menerima informasi. Pemikirannya akan lebih terbuka sehingga tidak mudah terpancing atau percaya pada berita yang tidak benar,” kata Wiwi.
Wiwi menilai TBM tidak seharusnya hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi dapat berkembang sebagai pusat pembelajaran dan aktivitas masyarakat.
“TBM adalah sekolah kedua bagi masyarakat. Di sinilah anak-anak belajar mencintai buku, remaja mengembangkan potensi, orang tua menambah wawasan, dan masyarakat memperoleh keterampilan baru, sekaligus menjadi ruang diskusi bersama,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan TBM penting untuk menumbuhkan minat baca, memperluas wawasan dan keterampilan, serta membuka ruang kolaborasi antara pemerintah desa, sekolah, PKK, Karang Taruna, Bunda PAUD, pelaku usaha, dan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca. Keteladanan orang tua dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat baca anak.
TBM Sagaranten terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya anak-anak.
“Yang bisa datang ke TBM itu semua masyarakat bukan hanya anak-anak, tapi juga remaja, orang tua, lansia, guru, dan pelaku UMKM,” katanya
Wiwi menegaskan pengelolaan dan pengembangan TBM merupakan tanggung jawab bersama.
“Bukan hanya tugas ibu-ibu atau PKK, tapi juga tugas Karang Taruna dan semua elemen masyarakat untuk mengajak warga membudayakan kunjungan ke TBM,” tutut Wiwi.
Peluncuran TBM Sagaranten diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya literasi di tingkat desa. Selain menyediakan akses terhadap bahan bacaan dan informasi, ruang tersebut diharapkan menjadi tempat masyarakat belajar, berdiskusi, mengembangkan keterampilan, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital. (didin)