KUNINGAN (MASS) – Organisasi Santri Husnul Khotimah baru saja menuntaskan Musyawarah Besar (MUBES) 2026 Santri Putra, Senin (20/7/2026) di Gedung Darul Arqam Pondok Pesantren Husnul Khotimah. MUBES 2026 resmi ditutup setelah melewati proses panjang yang dinamis.
Mengusung tema “Peralihan Nada, Suara Pembaru Masa”, MUBES 2026 sendiri menjadi panggung penting bagi para santri untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menyampaikan gagasan, merumuskan arah perjuangan, sekaligus menentukan para penerus estafet kepemimpinan organisasi santri Husnul Khotimah.
Rangkaian MUBES 2026 diawali dengan sidang pembacaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh masing-masing organisasi. Agenda kemudian dilanjutkan dengan Sidang Komisi A, Komisi B, dan Komisi C yang menjadi ruang bagi para peserta untuk menyampaikan gagasan, mengevaluasi perjalanan organisasi, serta merumuskan berbagai rekomendasi dan perubahan.
Rangkaian MUBES kemudian berlanjut pada sidang pemilihan ketua masing-masing Badan Semi Otonom (BSO). Setelah melalui proses pemilihan, para ketua terpilih kemudian ditetapkan dan dikukuhkan melalui Sidang Pleno Paripurna.
Ketua Pelaksana MUBES 2026, Faiz Al-Qodri, dalam laporan penutupan menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan. Ia menyampaikan bahwa seluruh proses MUBES telah menjadi perjalanan bersama yang penuh dengan pembelajaran. Dengan berakhirnya MUBES 2026, Faiz berharap lahir semangat baru bagi para penerus organisasi.
“Kami berharap seluruh keputusan, gagasan, dan rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi pijakan bersama untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Bumi Husnul Khotimah,” ucapnya.
Faiz juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, peserta, pimpinan sidang, pengurus organisasi, dan seluruh pihak yang telah memberikan waktu, tenaga, serta pikiran demi terselenggaranya MUBES 2026.
Mudir Husnul Khotimah Kiyai Mulyadin Lc MH, menyampaikan pesan pada para santri. Kyai Mulyadin mengatakan, MUBES bukan sekadar forum pergantian kepengurusan atau memilih pemimpin baru. Lebih dari itu, MUBES merupakan bagian dari proses pendidikan kepemimpinan bagi para santri.
“Di dalamnya, para santri belajar untuk mendengar. Belajar menyampaikan pendapat. Belajar menghargai perbedaan. Dan belajar mengambil keputusan untuk kepentingan bersama,” ujarnya.
Ia berpesan kepada para pengurus demisioner agar tidak menganggap berakhirnya masa jabatan sebagai berakhirnya pengabdian. Sebab, pengalaman selama menjalankan amanah organisasi merupakan bekal berharga untuk perjalanan kehidupan di masa depan.
“Jabatan boleh selesai, tetapi semangat untuk berkhidmat tidak boleh berhenti,” pesannya.
Kepada para pengurus baru, Kiyai Mulyadin juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan tentang kebanggaan atas jabatan. Kepemimpinan, lanjutnya, adalah tentang kesediaan untuk melayani. Memberikan keteladanan dan menghadirkan manfaat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan dinamika yang sehat dalam organisasi selama dilandasi adab dan niat untuk mencari kebaikan.
“Boleh berbeda dalam pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu memutus persaudaraan. Setelah musyawarah selesai, mari kita kembali menjadi satu keluarga besar yang saling mendukung dan saling menguatkan,” pesannya.
Senada, Kanit Pembinaan Putra, Ust. Latipudin, S.Psi., M.Pd., memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus OSHK periode 2025/2026 yang telah bekerja keras menjalankan amanah organisasi.
Menurutnya, perjuangan para pengurus selama satu periode akan menjadi warisan kebaikan bagi generasi berikutnya. “Apa yang telah kalian lakukan selama satu periode ini, insya Allah akan menjadi sebuah warisan kebaikan yang akan terus dirasakan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan selamat kepada para penerus kepemimpinan organisasi santri Husnul Khotimah, baik tingkat MTs dan MA, para pengurus MPS, serta para pengurus BSO yang telah terpilih.
Ust. Latipudin mengingatkan bahwa perbedaan pendapat dalam forum musyawarah merupakan sesuatu yang wajar. Namun setelah sidang selesai dan keputusan telah ditetapkan, seluruh elemen organisasi harus kembali bersatu. “Satu keluarga. Satu barisan. Satu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah,” tegasnya.
Ia berpesan agar tidak ada kedengkian, kebencian, hasut-menghasut, maupun saling menjatuhkan. Kepada generasi demisioner, ia berpesan agar menjadi teladan. Sementara kepada generasi penerus, ia mengingatkan untuk mewarisi kebaikan dan mengkoreksi kekurangan.
“Warisi kebaikan. Perbaiki kekurangan. Ciptakan inovasi untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya.
Dalam kegiatan tersebut, demisioner sekaligus Ketua OSHK 30, Kholid Iyahbullah, panjang lebar memberi pesan pada penerusnya. Ia juga wanti-wanti kepada para penerus agar tidak hanya menjadi penerus, tetapi mampu menjadi penyempurna.
“Banyak generasi datang membawa tema perubahan. Namun terkadang perubahan bukanlah satu-satunya solusi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu menjaga identitas, menjaga nilai, dan menjaga prinsip,” ungkapnya. (eki)