KUNINGAN (MASS) – Di zaman sekarang, kita sering dipaksa untuk menjadi “sempurna”. Media sosial membuat kita sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Ketika merasa kurang cantik, kurang pintar, atau hidup tidak seberuntung orang lain, kita mulai menyalahkan diri sendiri. Padahal, kita lupa bahwa diri ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan dari Allah.
Mencintai diri bukan berarti memanjakan semua keinginan atau menganggap diri paling baik. Mencintai diri yang benar adalah menerima setiap kekurangan, merawat apa yang Allah titipkan, dan menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya. Tubuh, hati, akal, bahkan waktu yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga diri adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Menyakiti diri, meremehkan diri, atau mengabaikan kesehatan fisik dan hati bukanlah bentuk tawakal, melainkan bentuk lalai terhadap amanah yang Allah berikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.”(HR. Bukhari )
Hadis ini mengajarkan bahwa tubuh memiliki hak untuk dijaga, diistirahatkan, diberi makanan yang baik, dan dijauhkan dari hal-hal yang merusaknya. Artinya, merawat diri bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga bagian dari ibadah.
Maka, berhentilah membenci diri hanya karena tidak sesuai dengan standar manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana diri ini bernilai di hadapan Allah. Selama kita terus memperbaiki diri, menjaga amanah-Nya, dan melangkah menuju ridha-Nya, kita sedang menjalankan salah satu bentuk syukur yang paling nyata.
Sebab pada akhirnya, yang akan kembali kepada Allah bukanlah tubuh yang paling indah atau kehidupan yang paling mewah, tetapi hati yang bersih dan amal yang diterima. Maka jagalah titipan itu sebaik-baiknya, karena semua yang ada pada diri kita hanyalah amanah dari-Nya.
Oleh: Novia Risca, mahasiswi Sekolah Tinggi Husnul Khotimah Kuningan