KUNINGAN (MASS) – Dalam mengisi liburan Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat, selaku Kepala Divisi Humas dan Dakwah, KH Imam Nur Suharno memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan pembinaan terhadap santri SMPQ Al-Hayah di Pondok Pesantren Al-Hayah Hayatuna Pati Jawa Tengah.
Dalam kesempatan tersebut Kiai Imam memperdalam makna Al-Hayah Hayatuna. Kehidupan adalah hidup kita. Al-Hayah Hayatuna untuk Penuntut Ilmu. Wahai para penuntut ilmu… Santri, pelajar…
Masa menuntut ilmu ini bukan masa tunggu. Inilah “Al-Hayah” = Kehidupanmu yang sebenarnya. Tidak ada hidup kedua untuk mengulang masa muda yang terbuang.
Allah sudah mengingatkan kita tentang nilai waktu. “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3).
Imam Syafi’i berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini, niscaya surat ini telah cukup bagi mereka.”
Artinya: Rugi besar jika waktu mudamu, waktumu di bangku ilmu, habis tanpa iman, amal, dan ilmu.
Perintah Menuntut Ilmu Sampai Mati. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Dan beliau juga bersabda: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” (HR. Al-Baihaqi).
Maknanya: Selama hayat masih dikandung badan, selama itulah “Al-Hayah” kita harus diisi dengan ilmu. Jangan tunda sampai “nanti sudah lulus, nanti sudah kerja”.
Banyak keutamaan bagi penuntut ilmu, salah satunya sebagaimana hadits Nabi SAW, “Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Setiap langkahmu ke pesantren, ke majelis ilmu… itu langkah menuju surga. Maka jangan kamu anggap remeh. Mengapa masa ini disebut “Hidup” Karena tiga nikmat ini hanya ada sekarang.
Pertama, waktu luang untuk Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Masa santri = sehat + waktu luang. Kalau tidak kalian pakai untuk ilmu sekarang, nanti saat sudah sibuk dengan mencari nafkah dan keluarga, kalian akan menyesal.
Kedua, guru yang masih ada. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi…” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi). Selama Kiai dan Ustadzmu masih hidup dan mengajar, duduklah di hadapannya. Itu rezeki yang tidak semua orang dapat.
Ketiga, hati yang masih lembut. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Derajat itu dibangun sejak muda. Hati yang masih kosong itu ibarat tanah subur. Tanami dengan ilmu dan adab sekarang.
Dengan demikian: hidupkan hayahmu. Maka Al-Hayah Hayatuna adalah perintah: Hadir Zahiran wa Batinan: Badanmu di pesantren, hatimu di ilmu. Jihad melawan nafs: Kurangi tidur, kurangi scroll, tambah murojaah. Niatkan Lillah: Belajar bukan untuk ijazah, tapi untuk mengangkat derajatmu di sisi Allah dan menjadi cahaya bagi umat.
Wahai para penuntut ilmu…
Jangan sampai 10 tahun lagi kalian berkata: “Andai dulu aku serius…” Karena “Kehidupan adalah hidup kita”. Hidup yang ini. Detik yang ini. Majelis yang ini. Jangan sia-siakan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis : Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat