ES BATU USIAMU: Jangan Tunggu Cair Baru Menyesal

KUNINGAN (MASS) – Pernah pegang es batu di tangan? Dingin, padat, utuh. Tapi diamkan saja, tanpa diapa-apakan, ia tetap mencair. Detik demi detik, tetes demi tetes, habis tanpa bekas.
“Hidup itu seperti es batu, nikmatilah dengan baik sebelum ia mencair.”

Begitulah umur kita. Dipakai atau tidak dipakai, ia tetap berkurang. Digunakan untuk taat atau maksiat, jatahnya tetap sama: makin sedikit. Bedanya hanya: saat cair nanti, ia jadi air yang menyegarkan atau jadi genangan yang disesali?

Waktumu Adalah Modalmu

Allah bersumpah dengan waktu di surat Al-‘Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian”

Ibnu Katsir menjelaskan: Allah bersumpah dengan masa karena di dalamnya ada keajaiban. Ada malam dan siang, ada sehat dan sakit, ada kaya dan miskin. Dan semua manusia rugi kecuali yang mengisi waktunya dengan 4 hal: iman, amal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Rasulullah SAW mengingatkan: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari]

Sehat kita kira selamanya. Waktu luang kita kira tidak akan habis. Padahal keduanya es batu yang sedang mencair pelan-pelan.

“Engkau tidak akan mengerti nilai waktu yang sesaat, sampai waktu itu menjadi kenangan.”
Kemarin sudah jadi masa lalu. Esok hanya harapan. Yang nyata hanya hari ini. Dan hari ini pun sedang mencair.

Seni Menunggu

Hidup ini proses. Allah tidak ciptakan alam semesta dalam sekejap, padahal Dia Kuasa. Manusia tidak lahir langsung dewasa. Ulat tidak tiba-tiba jadi kupu-kupu. Semua ada fasenya.

Maka Imam Syafi’i rahimahullah menasihati: “Bersabarlah yang baik maka kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dalam urusannya maka dia pasti akan selamat. Barang siapa yang yakin dengan Allah, maka ia tidak akan merasakan penderitaan. Barangsiapa berharap kepada Allah maka Allah pasti akan memberi pertolongan.”

Sabar bukan diam pasrah. Sabar adalah aktif berikhtiar sambil hatinya yakin: Allah tidak akan menyia-nyiakan tetes keringat hamba-Nya.

Nabi Ya’qub kehilangan Yusuf bertahun-tahun. Tapi beliau berkata: “Maka sabar yang indah” [Q.S. Yusuf: 18]. Ujungnya? Allah pertemukan kembali dengan cara yang tidak disangka.

Setiap Orang yang Datang Adalah Takdir

Dalam hidupmu, manusia silih berganti. “Sebagian orang datang padamu sebagai nikmat, dan sebagian datang sebagai pelajaran. Maka jagalah nikmat itu dan pelajarilah pelajarannya.”

Ada yang datang menguatkan imanmu. Itu nikmat, jaga. Ada yang datang menyakitimu. Itu pelajaran, ambil hikmahnya lalu maafkan. Jangan sampai es batumu habis untuk membenci orang yang Allah kirim justru untuk menaikkan derajatmu.

Sebelum Es Batu Habis…

Waktu kadang terlalu lambat bagi yang menunggu, terlalu cepat bagi yang takut, terlalu panjang bagi yang gundah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Tapi bagi yang mengisi waktunya dengan mencintai Allah, waktu adalah bekal menuju keabadian.

Maka selagi peluang masih ada: Isi ruang shalatmu sebelum ruang kuburmu diisi, perbanyak istighfar, dan gunakan sehatmu sebelum sakitmu.

Semua akan ada waktunya. Seperti musim yang berganti. Seperti roda yang berputar. Tugas kita bukan mengatur kapan cairnya, tapi memastikan setiap tetesnya jatuh di jalan ridha-Nya.

Ya Allah, jangan jadikan es batu usia kami mencair dalam kelalaian. Bimbing kami agar setiap detiknya jadi saksi amal shalih, hingga Engkau ridha memanggil kami pulang. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Penulis : Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat