Jangan Cuma Modal Grafik!

KUNINGAN (MASS) – Jujur, ya. Sebagai anak muda, kita ini seringkali tidak sadar sedang menjalani hidup dengan mode auto-pilot. Salah satu fiturnya adalah dalam urusan memilih pasangan. Tiba-tiba otak kita sudah punya template sendiri: harus cantik, manis, lucu, dan kalau bisa senyumnya kayak aktris drakor yang bikin kita senyum-senyum sendiri kayak orang kena angin malam, haha.

Tidak ada yang salah dengan menyukai keindahan. Itu manusiawi, itu fitrah. Yang kadang lucu adalah gap antara ekspektasi dan realita. Ekspektasi: dapat pasangan visualnya seperti lukisan Renaissance. Realita diri sendiri: tiap pagi lihat kaca cuma bisa menghela napas sambil mikir, “Makhluk apa ini?” awokawok.

Padahal, kalau kita tarik benang merahnya, milih pasangan itu logikanya sama kayak milih kendaraan. Serius. Kita tidak mungkin beli mobil cuma karena catnya glossy dan lampunya LED projector keren, sementara mesinnya suka mogok dan AC-nya angin doang. Kita pasti lihat spesifikasi. Kita pasti baca user manual-nya, minimalnya lihat review yutub. Giliran urusan hati, user manual itu kita buang jauh-jauh, karena merasa cukup berbekal modal “yakin”.

Nah, di zaman serba canggih ini, ada baiknya kita buka lagi user manual dari sumber yang sudah teruji berabad-abad. Dulu, ada seorang manusia paling bijak, yang ucapannya selalu visioner, siapa lagi kalo bukan Nabi Muhammad Saw, Beliau bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari No. 5090, Muslim No. 1466)

Hadis ini, kalau dibaca santai, seperti seorang mentor yang sedang roasting kita. Beliau tidak bilang “cantik itu tidak penting”. Sama sekali tidak. Cantik itu bonus, free gift, welcome drink. Tapi ketika ditanya, “Mana yang harus jadi prioritas utama?”, jawabannya jelas: agama. Yang dalam bahasa sehari-hari artinya akhlak. Karena pada akhirnya, perjalanan hidup ini tidak selalu Instagram-able.

Bayangin skenario sederhana. Kita dapat pasangan yang visualnya 10/10, mirip pahlawan di game gacha. Tapi tiap hari update-nya cuma marah-marah. Baju kusut dikit dicereweti, pulang telat 5 menit diinterogasi seperti ditilang polisi. Kerjanya ngegas mulu, kayak motor bebek knalpot racing. Apa kita sanggup? Itu namanya bukan rumah, tapi battle royale, awokwok.

Sementara itu, ada tipe pasangan yang mungkin secara visual biasa saja. Tapi akhlaknya seperti powerbank: selalu bisa mengisi ketenangan dimana pun dan kapan pun kita butuhkan, azheek. Saat kita cerita soal atasan yang toxic, dia mendengarkan, bukan malah nyaut, “Makanya kerja yang bener.” Saat saldo ATM lagi low batt, dia jadi support system, bukan alarm pengingat utang. Nah, tipe yang ini, harganya tidak ada di marketplace.

Ada satu kebenaran pahit yang sering kita lupakan: wajah itu ada masa kedaluwarsanya. Hari ini pipi tirus, dagu V-line, kulit flawless, dan paras muka seperti Diah Pitaloka pas diculik sama majapahit. Tapi 10-20 tahun lagi, gravitasi akan melakukan tugasnya. Pipi turun, dagu menyatu dengan leher, dan rambut berubah warna—entah siapa yang duluan, kita atau dia. wkwk. Lalu, apa yang tersisa? Cuma satu: kecantikan akhlaknya. Dan di titik itulah kita baru sadar, bahwa kita sebenarnya selama ini tinggal bersama akhlak, bukan visual.

Lucunya, banyak dari kita yang waktu muda menggebu-gebu mengejar pasangan visual goals, tapi lupa bahwa yang menemani kita saat sakit bukan wajahnya, melainkan tangannya yang merawat. Yang bertahan saat ekonomi gonjang-ganjing bukan senyum manisnya, melainkan kesabarannya. Yang mengisi hari tua kita nanti bukan photo card, melainkan obrolan dan tawa yang nyaman.

Jadi, mari sedikit lebih bijak. Tidak perlu anti pada kecantikan. Silahkan cari yang cantik, asal jangan jadikan itu syarat mutlak. Karena sekali lagi, cantik itu early access, akhlak itu full version. Yang satu cuma trailer, satunya lagi film utuh sepanjang hidup.

Anggap saja kita sedang mengisi spesifikasi kendaraan impian. Jangan cuma centang kolom “Warna metalik” dan “Velg racing”.Tapi centang yang paling utama: “Mesin bandel”, “Irit emosi”, dan “Nyaman diajak touring seumur hidup”. Soalnya nanti, ketika di tengah jalan, bukan velg racing yang menolong. Tapi kualitas yang tak kasat mata, azheek.

Pilihlah dengan bijak. Jangan sampai menyesal di tengah jalan, karena user manual-nya dulu cuma dibaca sekilas, lalu sok-sokan expert. wkwkwk.

Oleh: Dzulfadly Firdiansyah