Pahitnya Sabar, Manisnya Takdir

KUNINGAN (MASS) – Pernahkah kamu mencicipi jamu? Pahit, getir, membuat wajah mengernyit. Tapi orang tua kita selalu berkata, “Minum, Nak. Ini pahit, tapi bikin sehat.”

Begitulah sabar.
Sabar itu pahit seperti namanya, tetapi akibatnya lebih manis dari madu.

Kata “sabar” dalam bahasa Arab, ash-shabru, seakar dengan tumbuhan shabir yang sangat pahit. Allah sengaja memilih nama itu. Karena memang begitulah hakikatnya.

Menahan marah itu pahit. Menerima musibah itu pahit. Berjuang dalam taat saat semua orang lalai, itu pahit. Bertahan dari maksiat padahal kesempatan terbuka lebar, itu jauh lebih pahit.

Tapi kenapa kita disuruh bertahan dalam pahitnya? Karena Allah sedang meracik madu untukmu. Allah tidak pernah menyia-nyiakan rasa pahit yang kita telan karena-Nya.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10].

Tanpa batas. Tanpa timbangan. Tanpa kalkulator. Bayangkan, gaji di dunia ada slipnya. Pahala sabar? Allah katakan: bighairi hisab. Ambil sepuasmu di surga nanti.

“Dan sungguh, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96).

Kita sabar ditinggal teman? Allah ganti dengan sahabat surga. Kita sabar dalam belajar? Allah ganti dengan ilmu yang berkah. Kita sabar difitnah? Allah angkat derajat kita hingga pemfitnah malu sendiri.

Sabar adalah Cahaya

Rasulullah SAW bersabda:
“Sabar itu adalah cahaya.” [HR. Muslim].
Kenapa cahaya? Karena saat hidup gelap karena masalah, sabarlah yang menerangi jalan keluar. Orang yang tidak sabar akan menabrak-nabrak dalam gelap: marah, putus asa, bahkan menyalahkan Allah.

Ingatlah, tidak ada kepahitan yang abadi bagi orang yang bersandar pada Allah. Setiap tetes air mata yang kita tahan karena Allah, sedang Allah kumpulkan untuk dijadikan sungai madu di surga.

Maka jangan minta Allah cepat-cepat menghilangkan pahitnya, sebelum madunya matang. Tugas kita hanya bertahan, taat, dan percaya.

Karena sejatinya, sabar bukan tentang seberapa kuat kita menahan. Tapi seberapa besar kita percaya bahwa Allah tidak akan salah menakar takdir.

Semoga Allah selalu membimbing kita agar Istiqomah dalam kesabaran dan ketaatan. Amin.

Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat