KUNINGAN (MASS) – Dalam konteks politik, kita sering melihat jabatan sebagai sesuatu yang diperebutkan, dipertahankan, dan diperjuangkan dengan segala cara. Namun, dalam Islam, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan baik dan dipertanggung jawabkan di dunia dan di akhirat kelak.
Sejarah para sahabat Nabi menunjukkan kepada kita bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang diperebutkan. Kita lihat contoh nyata, tatkala dilantik sebagai khalifah, Abu Bakar As-Siddiq malah mengucapkan, “Innalilahi wa inna ilaihi rajiun”. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar menyadari bahwa jabatan khalifah bukanlah kehormatan, melainkan amanah yang berat dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Demikian pula dengan Umar bin Khaththab, ketika dilantik sebagai khalifah, ia malah menangis seraya berkata, “Aduhai, celakalah aku, wahai Umar! Engkau tidak akan dapat menanggung amanah ini, kecuali dengan pertolongan Allah.” Ini menunjukkan bahwa Umar menyadari bahwa jabatan khalifah bukanlah permainan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan baik dan dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, marilah kita ubah paradigma kita tentang jabatan. Jabatan bukanlah rebutan, melainkan sebuah amanah yang harus dijalankan secara profesional dan dipertanggung jawab. Semoga kita dapat menjadi pemimpin yang amanah dan berintegritas. Amin.
Imam Nur Suharno (Pembina Koprs Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat)