KUNINGAN (MASS) – Aulia Griandiny, perempuan 19 tahun asal Kelurahan Purwawinangun, Kuningan ini sedang berjuang untuk membawa harum nama Kuningan di kancah Provinsi. Aulia tercatat sebagai salah satu finalis yang tengah berkompetisi dalam ajang bergengsi Miss Hijab Jawa Barat.
Perjalanan Aulia menuju panggung Jawa Barat tidaklah instan. Di balik sosoknya yang anggun, ia adalah seorang mahasiswi aktif di Jurusan Gizi, Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, sebuah bidang yang menuntut ketelitian dan empati tinggi.
Tak hanya fokus di bidang akademik, Aulia juga dikenal sebagai sosok yang sangat aktif berorganisasi. Ia tercatat sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tempat ia mengasah jiwa kepemimpinan dan nalar kritisnya.
“Saya aktif di HMI, disinilah mental saya dibentuk menjadi pribadi yang berani tampil di depan publik dan meningkatkan jiwa kritisisme saya,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com Sabtu (4/4/2026).
Dedikasinya terhadap dunia literasi juga tidak perlu diragukan lagi. Sebagai Duta Baca Kabupaten Kuningan, Aulia aktif bergerak dalam kegiatan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kuningan. Ia percaya buku adalah jendela dunia, dan melalui literasi, ia ingin mengajak anak-anak muda di Kuningan untuk lebih gemar membaca dan memperluas wawasan.
“Buku kan jendela dunia, saya ingin anak muda di Kuningan khususnya gemar membaca dan berliterasi,” tambahnya.
Di sela kesibukannya yang padat, ia hobi bermain alat musik ini selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan bakat seninya. Baginya, musik adalah cara terbaik untuk menjaga keseimbangan antara pikiran dan hati. “Senang mendengarkan dan memainkan musik ini menjadi penyemangat saat lagi santai atau sedang dalam kompetisi,” tuturnya.
Aulia memiliki prinsip hidup yang sangat kuat. Ia memegang teguh kutipan yang selalu memotivasinya: “Jangan biarkan rasa takut gagal mencuri masa depanmu. Dunia butuh keberanianmu, bukan kesempurnaanmu”.
Menghadapi persaingan di Miss Hijab Jawa Barat, Aulia nampak optimis. Ia juga berbagi pesan dengan anak muda segenerasinya untuk terus belajar meskipun situasi terasa sulit. Menurutnya, harapan tidak akan pernah hilang selama seseorang menolak untuk menyerah pada keadaan. (raqib)
















