KUNINGAN (MASS) – Tradisi ziarah kubur atau nyekar masih tetap hidup di Desa Cijagamulya, Kecamatan Ciawigebang, pada Sabtu (21/3/2026). Setelah pelaksanaan salat Idul Fitri, warga ramai-ramai mengunjungi makam para sesepuh di pemakaman Kampung Pogor untuk berdoa, bersih-bersih makam, dan mendoakan sanak keluarga.
Suasana di Makam Pogor tampak khidmat namun hangat. Banyak keluarga datang membawa bunga dan air untuk membersihkan nisan. Aktivitas ini tak hanya dilakukan oleh generasi tua, anak muda dan anak kecil juga terlihat ikut bergotong-royong merapikan area makam sebelum melaksanakan doa bersama.
Selain ziarah kubur, tradisi saling bersalaman dan saling memaafkan antarwarga juga menjadi bagian penting momen Lebaran di kampung ini. Setelah salat Ied, warga saling berjabat tangan dan mengucapkan maaf sebagai wujud silaturahmi yang diperkuat oleh kebiasaan religius setempat.
Salah satu sesepuh yang hadir dalam ziarah Rohmat, mengatakan kegiatan ini penting untuk mengenang para orang tua dan leluhur kita yang sudah meninggal.
“Ziarah ini membuat kita ingat asal-usul, menghormati jasa mereka, dan mengingatkan bahwa suatu hari kita juga akan kembali ke situ,” ujarnya.
Kegiatan nyekar di Makam Pogor biasanya diwarnai pembacaan doa bersama dan tahlil singkat. Warga kadang juga membacakan almarhum nama-nama keluarga yang telah meninggal agar mendapat berkah dan ampunan.
“Tadi kita abis tahlil juga dan berdoa ke orang tua dan kakak serta nenek yang sudah meninggal,” tambahnya.
Tradisi ini dianggap mendidik generasi muda tentang nilai-nilai kekerabatan, rasa hormat kepada orang tua, serta pentingnya menjaga warisan budaya religius. Para orang tua berharap, dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan ziarah, nilai-nilai tersebut tidak hilang dan terus dipraktikkan setiap tahun.
“Iya semoga dengan terus terjaganya tradisi nyekar dan saling memaafkan, hari raya di Kampung Pogor menjadi momen yang bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi spiritual dan penguatan ikatan sosial antarwarga,” pungkasnya. (raqib)













