KUNINGAN (MASS) – Ketupat selalu jadi salah satu makanan khas yang tak boleh absen di Hari Raya Idul Fitri. Di banyak rumah, ketupat hadir bukan hanya sebagai pelengkap hidangan, tapi juga sebagai simbol tradisi dan kebersamaan.
Salah satu pembuat ketupat di Ciomas, Kecamatan Ciawigebang, Ma Entong menyebutkan pembuatan ketupat masih dikerjakan dengan cara tradisional. Proses dimulai dari anyaman daun kelapa. Anyaman itulah yang menjadi wadah beras—bentuknya menyerupai belah ketupat.
“Awalnya membuat anyaman dari daun kelapa membutuhkan ketelatenan supaya rapi dan rapat, supaya pas diisi dan direbus, beras tetap berada di dalam dan hasilnya padat,” tuturnya saat diwawancara kuninganmass.com pada Jumat (20/3/2026).
Setelah anyaman siap, beras yang akan dipakai terlebih dahulu direndam selama sekitar satu jam.
“Beras itu di rendam dulu agar butiran beras lebih mudah matang merata saat direbus dan mengurangi waktu pengolahan. Setelah direndam, beras dimasukkan ke dalam anyaman sekitar sepertiga dari isi ketupat—tidak penuh, supaya beras masih bisa mengembang saat matang,” tambahnya.
Dalam sekali produksi, Ma Entong biasa membuat sekitar 200 buah ketupat—jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan menjelang hari besar seperti Idul Fitri.
“Tahun ini bikin 200 buah kupat, harganya 3000an per ketupat siap makan,” pungkasnya. (raqib)













