KUNINGAN (MASS) – Ramadhan yang menjadi pusat pendidikan terbaik untuk membentuk insan yang bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183). Insan bertakwa adalah insan yang komitmen dalam kebaikan. Ramadhan bulan yang kedatangannya selalu disambut dengan gegap gempita, namun kepergiannya tidak dilepas dengan penuh haru.
Agar suasana Ramadhan tidak berlalu begitu saja, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menunaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Selain berpahala seperti berpuasa sepanjang tahun, juga sebagai tanda diterimanya amal ibadah Ramadhan.
Ibnu Rajab menjelaskan, balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu ia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, itu sebagai tanda diterimanya amalan yang pertama. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan keburukan, ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.
Keberhasilan seseorang dalam menjalankan ibadah Ramadhan tidak dilihat dari aktifitasnya selama bulan Ramadhan, namun sejauhmana ia dapat melanjutkan kebiasaan baik selama Ramadhan pada sebelas bulan berikutnya. Ramadhan membentuk insan yang komitmen dalam kebaikan.
Saat berpuasa, dilarang melakukan hal-hal yang hakikatnya halal jika dilakukan pada siang hari selain Ramadhan, seperti makan dan minum. Maka, usai Ramadhan kita harus berkomitmen untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang jelas asal usulnya.
”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 168).
Saat berpuasa dianjurkan menghindari perkataan yang kotor. Usai Ramadhan kita berkomitmen dengan ucapan yang baik dan memberikan manfaat kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Saat berpuasa dilatih berinfak, usai Ramadhan harus berkomitmen peduli terhadap orang lain yang membutuhkan. ”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS Al-Hadid [57]: 7).
Saat berpuasa dilatih disiplin dengan sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan. Usai Ramadhan harus berkomitmen untuk selalu disiplin dengan waktu, dan begitu seterusnya, sehingga mampu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR Tirmidzi).
Jika demikian, Ramadhan berpotensi memberikan warna perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik. Dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Dari yang suka berdusta menjadi pribadi yang jujur, dari yang tidak amanah menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Begitu seterusnya, perubahan itu dimulai dari diri sendiri.
Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat menjaga kebiasaan baik yang dilakukan selama bulan Ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya. Amin.
Oleh: Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

















