KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, dikejutkan dengan pemasangan spanduk bertuliskan “Dijual/Dikontrakan Hubungi: BUMDes” di pintu Kantor Desa Windujanten, Selasa (3/3/2026) dini hari.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa (Kuwu) Windujanten, Rohman Hidayat, mengaku terkejut dan menyatakan pihak desa masih melakukan pendalaman terkait kejadian tersebut.
Menurutnya, spanduk yang terpasang bukan spanduk baru. Spanduk tersebut diduga merupakan spanduk lama yang diambil dari tempat lain, kemudian dipasang kembali dengan tambahan tulisan “BUMDes”. Ia juga menyebut kondisi spanduk memang sudah rusak.

“Memang dari spanduknya bukan spanduk baru. Sepertinya spanduk lama yang diambil dari tempat lain lalu dipasang di kantor desa dan ditambahkan tulisan hubungi BUMDes. Itu yang sedang kami dalami,” ujar Rohman kala dikonfirmasi Rabu (4/3/2026).
Rohman menjelaskan, pemasangan spanduk diduga terjadi antara pukul 00.00 hingga 02.00 WIB. Saat petugas ronda masih berjaga hingga pukul 00.00 WIB, spanduk tersebut belum terlihat.
“Sekitar jam dua kurang seperempat pertama kali diketahui oleh warga yang sedang ronda,” katanya.
Hingga kini, pelaku pemasangan spanduk tersebut belum diketahui dan belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta pengurus BUMDes untuk membahas kejadian tersebut.
“Kami sudah koordinasi dengan BPD, tokoh masyarakat, juga pengurus BUMDes. Semua masih dalam tahap pendalaman,” jelasnya.
Ia menegaskan, apabila pemasangan spanduk tersebut dilakukan secara serius dengan maksud tertentu, maka ada jalur hukum yang bisa ditempuh. Namun, jika hanya sebatas aksi iseng, pihak desa akan mempertimbangkan pemberian peringatan.
“Kalau memang serius, tentu ada jalur hukum. Itu bisa masuk penghinaan. Tapi kalau hanya iseng, mungkin cukup diberikan peringatan,” tegasnya.
Rohman memastikan, sebelum kejadian tersebut tidak ada audiensi atau keluhan dari masyarakat terkait hal-hal tertentu, termasuk di tengah maraknya aksi demonstrasi di sejumlah desa.
“Tidak ada audiensi atau komplain sebelumnya. Biasanya masyarakat kalau ada masalah datang ke desa, ngobrol, riungan bareng cari solusi,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah desa selama ini terbuka terhadap aspirasi masyarakat. Warga yang memiliki persoalan, baik sosial maupun pembangunan seperti saluran irigasi mampet dan lainnya, dipersilakan datang langsung ke kantor desa untuk berdiskusi mencari solusi bersama.
“Kami dari dulu terbuka. Kalau ada masalah, datang ke desa, kita ngobrol dan cari solusi bersama. Jadi jangan sampai ada insiden seperti ini lagi,” katanya.
Rohman berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar ke depan tidak terulang kembali peristiwa serupa.
“Kami akan dalami. Mudah-mudahan ini hanya iseng saja. Semoga ke depan tidak ada lagi kejadian seperti ini,” pungkasnya. (didin)
















