KUNINGAN (MASS) – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM, sentil Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) yang membuka ruang-tuang komersil di kawasan hutan.
Sentilan itu disampaikan secara terbuka oleh KDM, dalam akun YouTube miliknya, saat berkomunikasi dengan Sekda Jawa Barat, baru-baru ini.
Mulanya, KDM menyebut TNGC membuka ruang-ruang komersialisasi kawasan. Hal itu kemudian diperjelas anak buahnya, dengan mengatakan bahwa belasan mata air juga komersialisasi, bahkan ada tempat widaya.
“Lho gak boleh, gak boleh. Mereka harusnya ngasih contoh, Kemenhut itu termasuk TNGC tugasnya menjaga hutan, sebagai cagar ayam, bukan membuat ruang usaha di kawasan hutan, hutan bukan tempat usaha,” tegas KDM.
Baca:
Mantan Bupati Purwakarta itu juga menjelaskan, salma sejarah Sunda, hutan itu tempat moksa, tidak boleh diganggu. Ada istilah-istilah seperti Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan yang kini lebih populer disebut kawasan konservasi.
“Yaudah kita tengok aja, walaupun itu kewenangan dia, tetapi justru menimbulkan kegelisahan warga dan ancaman bagi alam, kita hadapi aja, karena adanya di kita. Petingginya (TNGC) kalo kebanjiran longsor gak kebagian, tinggalnya di Jakarta,” kata KDM.
Selain itu, dalam konten KDM itu juga disinggung adanya pemanfaatan kawasan/air ilegal, yang kesannya dibiarkan oleh TNGC. Dan karena hal itu, pihaknya akan menyampaikan nota ke Kemenhut, protes atas aktivitas tersebut.
“Makanya hutan itu jangan dijaga oleh aparat, petugas, ke (mending dijaga oleh) kelong wewe, generuwo, kunti selesai (dijaga mitos hantu). Kunti tidak akan membuat kawasan wisata di hutan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Pemprov Jabar mengaku adanya keluhan itu informasinya bersumber langsung dari sejumlah warga, Alamku, yang melakukan unjuk rasa ke Gedung Sate. KDM mengaku senang didemo seperti demikian.
Di akhir, KDM juga memgaku akan segera datang ke Kabupaten Kuningan, permasalahan BTNGC, dalam waktu dekat. Tepatnya pelan depan setelah bertolak ke Sumut. (eki)










