KUNINGAN (MASS) – Gelombang aksi demonstrasi yang marak di berbagai daerah kembali mendapat sorotan tajam publik. Insiden terbaru, yang melibatkan ojek online (ojol) ditabrak aparat hingga kekerasan terhadap demonstran dan tenaga medis yang viral di beberapa platfom medsos, menambah daftar panjang catatan kelam kebebasan berpendapat di Indonesia.
Aktivis sosial asal Kuningan, Dimas Hidayatullah menegaskan, fokus utama dari aksi yang sedang berlangsung yakni penolakan terhadap kenaikan atau penambahan tunjangan DPR. Menurutnya, isu itu muncul di tengah situasi ketika pemerintah gencar menggaungkan efisiensi anggaran dan masyarakat dibebani dengan berbagai pajak.
“Awalnya aksi ini digelar untuk menolak kebijakan tunjangan DPR. Tapi dalam perjalanannya, banyak isu lain yang muncul, terutama terkait tindakan represif aparat. Semua isu ini wajib kita kawal hingga tuntas,” tegasnya, Sabtu (30/8/2025).
Menurut Dimas, aksi-aksi yang kian memanas justru menunjukkan semangat demokrasi yang tumbuh di kalangan masyarakat sipil. Ia menilai, tragedi yang menimpa demonstran maupun tenaga medis tidak boleh mengaburkan tuntutan utama yang harus disuarakan bersama.
Lebih jauh, Dimas mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak hanya pada isu tunggal atau teralihkan oleh kasus yang viral semata. Ia menekankan pentingnya solidaritas lintas isu agar gerakan tidak kehilangan arah.
“Semua isu ini adalah prioritas, jangan sampai kita hanya fokus pada satu titik. Demokrasi menuntut kita mengawal semuanya,” ujarnya.
Aksi unjuk rasa sendiri terus meluas di sejumlah daerah dalam beberapa pekan terakhir. Selain di Jakarta, aksi juga terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera. Setiap aksi berlangsung dengan dinamika berbeda, namun benang merah tuntutannya tetap sama, yakni menolak kenaikan tunjangan legislatif di tengah kondisi ekonomi rakyat yang serba sulit.
Video dan foto yang memperlihatkan bentrokan antara aparat dan demonstran pun banyak beredar di media sosial. Peristiwa ojol yang ditabrak aparat serta tindakan kekerasan terhadap tenaga medis menjadi simbol keresahan publik terhadap cara negara merespons kritik.
“Kita harus bersama-sama menjaga agar gerakan ini tidak berhenti di tengah jalan. Ini soal keadilan bagi rakyat,” pungkasnya. (argi)
