KUNINGAN (MASS) – Di sejumlah daerah, pembangunan jalur yang kini menyerupai sirkuit menjadi simbol gairah baru dalam pengembangan ekonomi lokal. Namun setiap pembangunan membawa tanggung jawab, dan tanggung jawab itu tidak boleh berhenti pada bentuk fisik proyek. Ia harus meluas pada perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat, dan keberlanjutan jangka panjang.
Karena pada akhirnya, kualitas kepemimpinan dinilai bukan dari seberapa cepat lahan dibuka, tetapi seberapa aman hasilnya bagi warga di sekitarnya.
Fenomena jalur yang terbentuk di kawasan perbukitan bukan hal yang salah dengan sendirinya. Namun tanpa mitigasi ekologis, ia berpotensi menimbulkan kerentanan. Di negara dengan curah hujan tinggi dan geologi variatif seperti Indonesia, kelalaian sekecil apa pun bisa berubah menjadi risiko yang tak proporsional.
*Mitigasi sebagai Fondasi Legitimasi Kebijakan Publik*
Pembangunan yang bertanggung jawab selalu bertumpu pada dua pilar:
1. Keberanian untuk maju, dan
2. Kebijaksanaan untuk menjaga keseimbangan.
Ketika sebuah proyek menimbulkan pertanyaan di tengah publik, jawaban yang paling berharga bukan slogan, melainkan tindakan konkret yang menunjukkan bahwa keselamatan ekologis diprioritaskan.
Dalam konteks ini, penanaman pohon beringin bukan sekadar pilihan teknis, melainkan penegasan bahwa pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan stabilitas tanah.
– Jarak antar pohon 20–30 meter agar akar dapat membangun jaringan penguat kontur.
– Jarak aman 10–15 meter dari badan lintasan agar peran ekologis bekerja tanpa mengganggu struktur jalan.
– Penempatan pada sisi jalur sirkuit dan bagian lereng yang rentan sebagai benteng alami terhadap erosi.
Langkah sederhana ini membawa pesan kuat:
pembangunan tetap melaju, tetapi dengan tata kelola yang matang.
Politik Kehadiran yaitu Ketika Negara Terlihat Melindungi
Di ruang publik, persepsi sering kali sama pentingnya dengan fakta. Masyarakat ingin merasakan bahwa negara hadir bukan hanya dalam bentuk proyek yang tampak gagah, tetapi juga dalam bentuk perlindungan yang mereka rasakan.
Filsuf Reinhold Niebuhr pernah menulis,
“ Kekuatan sejati adalah kemampuan menahan diri demi kebaikan bersama”.
Dalam konteks kebijakan publik, menahan diri berarti tidak tergesa-gesa menempatkan estetika atau manfaat jangka pendek di atas keselamatan ekologis. Pembangunan infrastruktur di kawasan sensitif membutuhkan kecermatan moral selain kecermatan teknis.
Menanam beringin sebagai pengawal lereng adalah bentuk kehadiran itu. kehadiran yang sunyi, tetapi nyata.
Melaju Tanpa Mengabaikan yang Menopang
Indonesia tidak kekurangan proyek berani. Yang kita butuhkan adalah proyek yang berumur panjang karena direncanakan dengan bijaksana. Jika lintasan mirip sirkuit di bahu gunung ini ingin menjadi aset bagi daerah, maka ia harus dibangun di atas tanah yang stabil, aman, dan dihormati.
Karena tidak ada pembangunan yang benar-benar maju ketika masyarakat di bawahnya hidup dengan kecemasan.
Pembangunan adalah tentang keberanian.
Mitigasi adalah tentang kebijaksanaan.
Dan negara yang kuat adalah negara yang mampu menggabungkan keduanya.
Maka biarkan proyek ini berjalan,
biarkan beringin menjaga,
dan biarkan masyarakat menyaksikan bahwa pembangunan Indonesia semakin matang,
bukan hanya berlari kencang, tetapi juga melangkah dengan kehati-hatian yang beradab.
Oleh: Dadan Satyavadin, Pemerhati Kebijakan Publik
