Tugas Brimob Kian Berat, Karakteristik Kejahatan Bersifat Zerro Dot Nine

KUNINGAN (MASS) – Sekitar jam 13.30 waktu Kalimantan Tengah Kamis (7/9) rombongan Tim dari Kompolnas memasuki kawasan Satbrimobda Kalteng. Tim Kompolnas dipimpin oleh Dede Farhan Aulawi selaku Komisioner Kompolnas. Kompolnas datang untuk menjalankan fungsinya sebagai pengawas fungsional kepolisian. Dimana mekanisme pengawasan dilakukan melalui kegiatan pemantauan dan penilaian kinerja dan integritas anggota dan pejabat Polri sebagaimana amanat Perpres No. 17 Tahun 2011 tentang Komisi Kepolisian Nasional. Kompolnas memandang bahwa fungsi satuan Brimob di Polri itu sangat penting dan strategis.

Korps Brigade Mobil ( Brimob) adalah unit (Korps) tertua di dalam Kepolisian Republik Indonesia (Polri) karena mengawali pembentukan kepolisian Indonesia pada tahun 1945. Korps ini dikenal sebagai Korps Baret Biru Tua. Brimob termasuk satuan elit (pasukan khusus) dalam jajaran kesatuan POLRI, untuk itulah Brimob sangat memiliki nilai historis dilihat dari sejarah perjalanan kepolisian, dan sangat strategis dari tugas – tugas pokok yang diembannya.

“Tugas – tugas Brimob ke depan akan semakin berat. Kejahatan telah bermetamorfosa dalam berbagai bentuk, jenisnya heterogen, sifatnya super dinamik dan eskalasinya tidak lagi linier melainkan eksponensial. Skalanya bisa Zerro Dot Nine (ZDN) artinya dalam situasi tenang bisa tiba – tiba muncul dan membesar, setelah itu hilang lalu muncul lagi dengan perubahan model dan modus yang unpredictable. Situasi seperti ini akan semakin menuntut kesiapsiagaan seluruh anggota Brimob di setiap waktu. Anggota Brimob itu harus memiliki karakteristik yang cerdas akalnya, prima staminanya, sigap responnya, gesit keterampilannya, super disiplinnya, hebat kinerjanya dan bisa diandalkan kehadirannya. Termasuk kemampuan pengendalian emosi yang luar biasa yang mencerminkan watak dan kematangan pribadi yang handal ,“ papar Dede Farhan Aulawi dalam pengarahannya.

Dalam crime forecasting mengilustrasikan bahwa conventional crime akan berkurang seiring dengan peningkatan kecerdasan dan kualitas pengetahuan, namun jika hal tersebut tidak diimbangi dengan pendidikan moral dan agama bisa bermutasi menjadi gen – gen contemporary crime. “Lihat saja kejahatan – kejahatan terbaru saat ini. Sumber kejahatan analog berkurang, sementara kejahatan digital meningkat artinya banyak kejahatan – kejahatan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi khususnya bidang IT. Dan hal ini akan terus berkembang tidak pernah berhenti. Kemampuan dalam melakukan Scientific Crime Investigation menjadi sangat – sangat penting “, tandas Dede Farhan Aulawi.

Sehubungan dengan karakteristik kejahatan yang berkembang ke depan bersifat Zerro Dot Nine ini, maka fungsi Brimob akan semakin strategis. Tidak saja strategis dari fungsi internal kepolisian, tapi juga strategis dalam mengemban amanah untuk mengamankan bangsa dan negara. “Jaga amanah ini dengan baik. Tingkatkan kesiapan, kesigapan dan keterampilan. Belajar terus setiap waktu, baik belajar dari buku maupun belajar dari pengalaman. Baca….baca….baca….dan selamat bertugas ,” seru Dede Farhan Aulawi.

Berbagai arahan yang disampaikan oleh Komisioner Kompolnas Dede Farhan Aulawi di berbagai satwil dan satker Polri, menunjukkan bahwa dirinya memiliki kapabilitas dan komitmen yang tinggi untuk kemajuan Polri. Tidak kenal lelah terus mendorong dan memotivasi seluruh anggota Polri untuk menjalankan tugas dengan tulus dan penuh pengabdian. Dede tidak sekedar menyampaikan orasi sebagai orator, tetapi juga mengajak untuk terus memperbaiki institusi Polri yang dicintainya dengan tulus.

“Menjadi polisi yang baik bukan sekedar harapan institusi Polri tetapi juga amanah bangsa dan negara yang dipercayakan pada Polri. Jadilah ksatria – ksatria Polri masa kini, yaitu Polisi yang mengabdi untuk negeri dan dicintai masyarakat. Tidak mudah pasti, tetapi jangan lelah dalam berbenah dan tidak putus asa untuk terus berusaha,” pesan bijak Dede. (deden/rls)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com