Tape Ketan Didorong Jadi Makanan Internasional

KUNINGAN (MASS) – Tape ketan yang telah menjadi ikon makanan khas Kabupaten Kuningan didorong untuk menjadi makanan internasional. PT Permodalan Nasional Madani (Persero) siap bersinergi dengan pelaku usaha, cendikia dan pemerintah daerah di Kuningan dalam upaya mencapai keinginan tersebut.

Ini terungkap dalam acara PKU (Pengembangan Kapasitas Usaha) Gabungan dan Pengukuhan Program Klaster Tape Ketan yang digelar di Al Kenzie Convention Hall Mayang Catering, Selasa (17/10/2017). Hadir Bupati H Acep Purnama, Kepala Dinkop UKM Ir Bunbun Budhiyasa dan puluhan pengusaha Tape Ketan.

Direktur Bisnis PT PNM, Bambang Siswaji mengatakan, untuk menjadi makanan internasional sudah ada contoh. Diantaranya Rendang Padang dan Nasi Goreng. Kedepan, tidak menutup kemungkinan Tape Ketan pun akan menyusulnya.

“Maka dari itu kita lakukan klasterisasi produk Tape Ketan ini. Disamping ikut membantu permodalan para pelaku usaha, kita juga lakukan pendampingan,” kata Bambang, salah seorang direksi BUMN tersebut.

Dalam beberapa bulan ke belakang, PNM telah melakukan pendampingan dengan membuat packaging yang lebih menarik. Kemasan yang biasanya dari ember hitam, dibuatkan kemasan baru berbentuk kotak.

Bukan hanya itu, pendampingan terhadap pelaku usaha Tape Ketan pun dilakukan dari sisi lain. Pihaknya bersyukur ada pelaku usaha di wilayah Kecamatan Cibeureum kini sudah membuat produk turunan dari Tape Ketan. Seperti Sirup Tape, Puding serta kue berbahan dasar Tape.

“Dalam pendampingan, kita juga komitmen bersama memanfaatkan globalisasi seiring dengan perkembangan teknologi agar UKM tidak tersisih,” tandasnya.

Selain bupati, kadinkop UKM dan pejabat dari Disperindag, hadir juga Rektor Untag yang menjadi mitra PT PNM. Bupati H Acep Purnama menyambut baik apa yang dilakukan PT PNM selama ini yang sejalan dengan keinginan Pemkab Kuningan untuk mendongkrak Indeks Daya Beli masyarakat.

“Pelaku UKM khususnya produk Tape Ketan membutuhkan bimbingan peningkatan kapasitas, kualitas dan pemasaran. Jadi bukan hanya bantuan permodalan saja. Dari sisi Packaging juga,” kata Acep, calon petahana.

Meski kemasan Tape Ketan dikembangkan berbentuk kotak, ia mengakui kemasan ember hitam tidak perlu ditinggalkan begitu saja. Justru menurut Acep, keunikan atau ciri khas Tape Ketan berada pada kemasan ember hitam. Untuk itu, ia berharap semuanya maju baik kemasan ember maupun kemasan berbentuk kotak.

“Yang penting kita punya label produk kita. Sampaikan kenapa tape warna hijau. Kenapa buah kerajinan tangan ini dibungkus pakai daun jambu katuk. Apa sih khasiat dari daun jambu. Semuanya sampaikan ke konsumen,” arah bupati berbasic pengusaha itu.

Sekarang ini, imbuh Acep, konsumen kerap melihat unsur kimia pada berbagai produk makanan yang dipasarkan. Ketika Tape Ketan memiliki kelebihan, maka perlu disampaikan agar konsumen merasa aman dan nyaman sehingga mau membeli produk Tape Ketan.

“Tape yang dibungkus daun jambu itu kan membuat orang penasaran. Lalu kenikmatannya. Pokoknya gimana caranya agar konsumen merasa aman, nyaman dan percaya untuk membeli produk kita,” kata Acep di hadapan sekitar 100 pelaku UKM.

Hebatnya orang Kuningan yang merantau ke Jakarta, ketika mudik dan kembali ke tempat rantaunya, mereka membeli tape ketan. Jika tidak membawa tape ketan, tutur Acep, mereka merasa seolah kurang sempurna. Untuk itu, pada produk ini ia memandang penting bagaimana agar bisa memasarkan tepat waktu.

“Produksinya dikejar waktu. Kalau Tape Ketan telat dikonsumsi maka tidak enak lagi. Untuk itu bagaimana caranya agar memasarkan Tape Ketan ini tepat waktu. Ini jadi bagian dari pendampingan yang dapat dilakukan terhadap pelaku UKM,” ucapnya.

Hadir sedikitnya 100 pelaku UKM dalam acara itu. Mereka para nasabah PNM yang memiliki 2 produk unggulan yang berfokus pada ekonomi kerakyatan. Dua produk unggulan tersebut yaitu Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) dan Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com