Susah Payah Membiayai Kuliah, Loper Koran Itu Akhirnya Melihat Anak Diwisuda

KUNINGAN (MASS) – Udara pagi itu sangat sejuk, matahari pun bersinar dengan terang. Dari sebuah rumah sederhana yang terletak di Blok B Perum Korpri Cigintung Kelurahan Cigintung Kecamatan Kuningan tampak sepasang suami istri sudah menggunakan stelan rapih.

Mereka itu adalah  Yudi Sukmayadi (51) dan Siti Komariyah (50). Mereka berdua tidak sendiri tapi didampingi anaknya Sukron Hanif dan Sahdan.

Pagi itu merupakan hari bersejarah bagi Sukron karena ia akan diwisuda sebagai sarjana jurusan Teknik Informatika fakultas Komputer di Uniku.  Bukan hanya Sukron tapi Yudi  sangat menunggu  momen penting ini.

Saking pentingnya ayah dua anak ini meningggalkan “tugasnya” sebagi loper koran yang rutin ia jalani setiap harinya. Agar pelanggan tidak kecewa Yudi sudah meminta ijin ke pelanggan untuk libur dan mereka pun memakluminya.

Tepat jam 8  mereka tiba di kampus Uniku. Raut muka Yudi dan istrinya tampak bahagia seperti 817 orang tua yang mengahidiri acara wisuda ke 21.

Bagi Yudi membiayai Sukron terbilang berat. Ia jatuh bangun berkerja demi memuluskan langkah anaknya mengejar titel sarjana.

“Saya bangga anak saya akhirnya diwisuda. Bagi orang lain menyekolahkan anak mudah karena punya uang. Tapi, bagi saya perlu perjuangan,” ujar Yudi mengawali cerita, Selasa siang.

Pria yang sudah menggeluti profesi loper koran selama 25 tahun itu anaknya masuk kuliah tahun 2012. Meski cukup sulit namun uang kuliah selalu terbayar.

Kalau pun tidak punya uang, sebagai orang tua Yudi selalu datang ke kampus untuk minta dispensasi. Dan pihak kampus selalu memberikan keringanan ketika belum bisa bayaran.

Keringanan yang diberikan itu membuat ia semakin termotavasi. Namun, takdir berkata lain ketika ia lagi semangat-semangat mencari nafkah untuk anak dan istri tahun 2014 ia ditabrak pengendara mobil.

Dan Yudi pun harus terbaring di rumah sakit dan ia pun harus istirahat total selama dua tahun. Dokter meminta ia untuk istirahat agra kondisi kaki yang ditabrak pulih.

Lalu tugas mengantarkan koran ke pelanggan oleh siapa? Ternyata istrinya  Siti menggantikan peran itu.

Dengan dibantu bergantian dengan dua anaknya ia mengantarkan koran ke tiap pelanggan. Mereka sekeluarga bahu membahu untuk mempertahankan kehidupan.

Setelah Yudi pulih dari kecelakan dan berjalan normal ternyata musibah lainnya datang yakni tangah, kaki dan nyaris seluruh badan seperti terbakar. Ternyata akibat kesalahan obat tubuhnya seperti sekarang ini.

Meski begitu bagi Yudi yang terpenting bisa sembuh dan bisa berkerja seperti sedia kala. Yudi sedikit malu ketika istri dan anaknya berjuang keras untuk membiayi hidup, yang seharasunya beban itu ada di pundaknya.

Ternyata cobaan itu tidak berhenti disana, ketika memasuki semeter 7 dan tengah menyusun skripsi Sukron tiba-tiba down. Ia memilih cuti ketika proposal skripsi selalu ditolak.

Dengan bijak Yudi dan Siti membiarkan Sukron yang tengah dwon sambil terus memberikan motivasi dan akhirnya pada tahun 2017 anak sulungnya itu beres kuliah.

“Saya berharap Sukron bisa mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari dan memperoleh pekerjaan sesuai dengan cita-cita,” tandas Yudi yang diamini Siti sambil melirik ke arah Sukron.

Sukron sendiri berjanji dengan modal doa dan ijazah akan terus melamar pekerjaan. Ia yakin doa orang tua akan memudahkan jalan kehidupannya.

“Terima kasih ibu bapak dan juga dorongan adik, akhirnya hari ini saya diwisuda. Perjuangan lima tahun yang cukup melelahkan sekaligus membanggakan,” ucap Sukron.

Sementara itu, kisah Yudi dan anaknya bisa menjadi inspirasi bagi semuanya. Untuk meraih cita-cita ternyata bukan hanya perlu uang tapi juga perlu perjuangan dan pengorbanan yang lainnya. (agus mustawan)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com