Siswa Teladan Itu Lahir Dari Sekolah Berpagar Bambu

KUNINGAN (Mass) – Matahari siang itu sangat menyengat. Wajar saja karena saat itu jam menunjukan pukul 12 lebih. Dari sebuah sekolah menengah atas yang terletak di pinggiran desa keluarlah seorang siswa berbadan tinggi.

Sepintas dengan tinggi badan  180 cm akan banyak orang menyangka siswa itu kalau bukan atlet bola voli pastinya basket. Ternyata tebakan itu salah karena Aryo Bimo Adjie siswa kelas XII IPA 1 SMAN Ciniru adalah anggota paskibraka.

Aryo bukan anggota paskibra biasa. Ia pernah terpilih lima terbaik anggota paskibraka di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016. Siswa yang lahir pada tanggal 2 November 2000 itu nyaris lolos sebagai pengibar bendera di Istana, tapi sayangnya hanya diambil dua orang dari lima besar yang ada di Jabar.

Sambil mengajak duduk kuninganmass.com di teras sekolah, Aryo menyebutkan, meski gagal ke tingkat nasional. Tapi, ia bangga menjadi petugas pengibar bendera pada HUT RI ke 71 tingkat Jabar.

Kebahagian  terus berlanjut dimana satu bulan kemudian terpilih sebagai petugas pengibar bendera pada acara pembukaan PON Jabar 2016. Bukan hanya pada pembukaan, pada saat penutupan PON juga ia kembali dipercaya.

“Bagi saya terpilih masuk lima besar terbaik di Jabar sangat luar biasa. Saya datang dari sekolah di pinggiran bahkan sekolah pun pagarnya sebagian  masih menggunakan bambu. Saya juga bangga membawa nama baik Kuningan,” ujar Aryo dengan suara lantang kepada kuninganmass.com Sabtu (5/8).

Anak kesatu dari tiga bersaudara ini mengaku, motivasi dari  sekolah pinggiran yang membuat ingin membuktikan. Aryo percaya semua punya potensi selama diberikan kesempatan.

Ia tidak minder bersaing dengan anggota paskibra dari 27 kota di Jawa Barat. Justru semakin banyak pesaing semakin termotivasi.

Aryo yang terlihat antusias menceritakan pengalamannya mengatakan,  pada saat itu bukan hanya fisik tapi mental sangat diuji. Pengalaman selama ini berlatih sejak SMP membuat mental semakin tertempa.

Siswa yang bercita-cita lolos ke Fakultas Kedokteran ini, menikmati  perjuangan untuk menjadi anggota paskibaraka. Ia melewati seleksi dari sekolah lalu berlanjut ke tingkat kabupaten.

Di tingkat kabupaten persaingan semakin sengit. Dalam pikirannya bagaimana memberikan yang terbaik bukan ambisi ingin lolos ke provinsi dan ternyata  hasil kerja keras tidak pernah salah dimana ia lolos ke provinsi.

Tantangan belum usai ketika lolos ke provinsi selama beberapa minggu digemleng di tempat karantina. Ketika Ketua Purna Paskibaraka Indonesia (PPI) mengumumkan lolos menjadi lima terbaik perasaan Aryo lega.

“Saat itu perasaan saya sangat bangga. Rasa lelah berlatih selama ini terbayar. Masa karantina itu tidak mudah karena jauh dari orang-orang yang dicintai,”  ujar Aryo yang menghela napas panjang seolah menceritakan semua diperoleh tidak mudah.

Layaknya manusia Aryo pun pernah kecewa. Rasa kecewa ketika ia tidak terpilih menjadi dua terbaik untuk di kirim ke tingkat nasional. Padahal dua orang diambil dari 5 paskibaraka.

“Saya saat itu berpikir belum rejeki saya. Semua ada yang mengatur. Toh sudah masuk lima besar saja perjuangan sangat berat,” tandas siswa jurusan IPA yang tampak selalu tersenyum itu.

Pengalaman pernah menjadi petugas paskibraka di tingkat Jabar membuat siswa yang tinggal di Desa Ciniru itu, ingin membagikan ilmu kepada adik–adik kelasnya. Maka, usai pulang sekolah selalu memberikan bimbingan.

Dalam dua tahun terakhir ini dari SMAN Ciniru selalu meloloskan paskibraka baik untuk bertugas di kabupaten maupun di tingkat provinsi. Tradisi ini ingin dipertahankan bahkan ingin yang bisa menembus ke tingkat nasional.

“Saya juga melatih paskibraka di tingkat kabupaten. Jadwalnya hari Sabtu sekalian saya mengikuti bimbel agar bisa mencapai cita-cita jadi dokter,” ujar Aryo yang potongan rambutnya selalu polontos itu.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Aryo ternyata mengungkapkan pernah juara MC tingkat SLTA yang digelar Humas Setda  Kuningan.  Meski tidak juara pertama tapi pengalaman itu memberikan kesan sangat mendalam bahwa ada potensi lain dalam dirinya.

Waktu setengah jam berbincang dengan siswa teladan itu berakahir ketika bunyi bel sekolah terdengar. Kuninganmass.com berkesempatan berbincang dengan Kepala SMAN I Ciniru Sulaeman MPd

Ia mengaku, bangga dengan pencapaian Aryo selama ini. Apa yang ditunjukan Aryo selalu menjadi motivasi bagi siswa yang lain agar bekerja keras dalam mewujukdan cita-cita.

“Aryo termasuk siswa teladan di sekolah. Bukan hanya prestasi non akademik saja, tapi dibidang akademik juga bagus. Sudah 2 tahun SMAN 1 Ciniru mengirim wakil paskibraka ke Provinsi Jabar. Tahun 2015 diwakili siswa bernama Andi Noviar,” ujar Sulaeman.

Eman menyebutkan, siswa teladan itu tidak harus terlahir dari sekolah di perkotaan dengan berbagai fasilitas. Tapi, dari sekolah yang mau mengajarkan kerja keras kepada siswanya pun bisa.

Terpisah, orang tua Aryo yang bernama Dina Danarti dan Lili Susparli mengaku, selalu mendukung apa yang dilakukan Aryo selama hal positif. Prestasi yang sudah diraih merupakan hasil kerja kerasnya. (agus “sagi” mustawan)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com