Sepucuk Surat untuk Calon Bupati

KUNINGAN (MASS) – Surat di bawah ini adalah surat yang ditujukan kepada Calon Bupati Kuningan periode 2018-2023. Surat tersebut hasil coretan polos dari seorang siswi setingkat SLTA. Sebuah coretan tanpa “kepentingan”. Bagi mereka yang punya “syahwat” tinggi untuk berkuasa, nampaknya perlu menyimak untaian kata-kata dari seorang pelajar yang masih “putih” ini.

Dari sekian banyak peserta, surat inilah yang mendapat penilaian juri paling tinggi pada Lomba Menulis Surat untuk Calon Bupati Kuningan, belum lama ini. Hingga akhirnya ia didaulat sebagai peraih juara pertama. Mari kita sama-sama menyimak surat yang sengaja dimuat secara utuh ini.

Kuningan, 27 Agustus 2017

Yth. Bapak calon bupati Kuningan

Assalamualaikum wr.wb

         Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada bapak calon bupati kuningan yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengadakan mengikuti perlombaan menulis surat kepada bapak mengenai dengan tajuk “Untuk Yang Terhormat Calon Bupati Kuningan Masa Depan”. Saya harap bapak berkenan membaca dan dapat meresponnya.

         Bapak, saya ingin mengucapkan “Semangatlah tuk menjadi sosok pemimpin di Kota Kuningan tercinta ini”. Saya yakin, bapak jika terpilih menjadi Bupati Kuningan 5 tahun ke depan, akan ada banyak hal yang akan bapak perbaiki dan perbaharui menuju Kuningan sebagai kabupaten yang makmur, sejahtera, baik pemerintahannya, rakyatnya,atau segala hal yang ada di Kuningaan ini.

          Ada beberapa hal yang menjadi kebanggan Kuningan ini, pak. Seperti asrinya Kuningan yang masih terjaga. Begitu indah dan asrinya Kuningan ini. Apalagi dengan adanya gunung ciremai yang masih tertata rapih keindahan alamnya, dan juga sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat. Bukan hanya dari itu saja, masih banyak wisata alam yang patut di acungkan jempol, pak. Misalnya Waduk Darma, Bukit Panembongan, wisata alam Cidomba, dan lain sebagainya yang menunjukkan bahwa Kuningan ini masih peduli dengan alam yang begitu mempesona ini. Bahkan pembangunan taman kota semakin di tingkatkan, terutama dalam pelestarian tumbuhan. Banyak tanaman yang tertata rapih, sehingga membuat banyak orang betah berkunjung kesana. Bukan hanya dilihat dari segi pelestarian alamnya saja yang bisa menjadi suatu kebanggaan, fasilitas umum pun semakin memadai dan semakin berkualitas.

         Dibalik Kabupaten Kuningan yang hebat ini, tentu ada sosok pemimpin yang hebat. Kepemimpinan dari generasi ke generasi yang semakin maju, memperhatikan rakyat, dan semakin rapih dalam menata sistem pemerintahannya. Saya berharap bila bapak terpilih sebagai Bupati Kuningan periode 2018-2022, bapak bisa menjadikan Kabupaten Kuningan sebagai kabupaten percontohan. Kabupaten dengan pemerintah yang memiliki semangat tinggi dan kinerja yang semakin baik untuk memajukan Kuningan ini, dan tentunya rakyat yang semakin makmur dan cinta terhadap kota dengan julukan “Kota Kuda” ini. Tak lupa juga Kabupaten Kuningan ini bisa mewujudkan pemerintahan yang memiliki etos “Semangat Kerja tuk Mewujudkan Kesuksesan” dan anti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

          Tak asing lagi pak,jika mendengar kata KKN, terutama di lingkungan masyarakat sering beredar dengan kata “korupsi”. Membahas tentang korupsi, kasus ini memang sangat sulit untuk diberantas. Terkadang, tanpa kita sadari banyak hal kecil yang tak sengaja kita lakukan merupakan tindakan korupsi. Saya sendiri pun pernah mengalami. Ketika saya berbelanja, kemudian kembaliannya permen. Memang hal ini perilakunya sepele, namun tetap saja merugikan dan merampas hak pelanggan. Jika berkeping-keping koin di tabungkan, mesti akan lebih menguntungkan dari pada harus menabung permen, atau harus makan permen tiap kali kita berbelanja. Benar kan pak ?. Atau ada contoh lain yang datangnya bahkan dari diri sendiri. Seperti ketika sudah waktunya belajar namun malah asik bermain sehingga lupa belajar. Bahkan yang lebih mirisnya lagi ketika bilang “malas ah, nanti aja deh belajarnya”. Pada akhirnya waktu yang berharga tersebut terbuang sia-sia. Karena kesempatan itu tak mudah di dapat, belum tentu waktu belajar besok bisa dipakai untuk mengganti waktu kemarin. Seperti itulah pak kebiasaan buruk yang walaupun terlihat sepele, namun  apabila tidak segera diperbaiki bisa menjadi suatu kesalahan yang skalanya besar, namun tak terasa pak. Saya sangat setuju dan mendukung jika pendidikan yang mengajarkan mengenai upaya menghindari korupsi yang di tanamkan sejak dini.

          Banyak tindakan yang telah dilakukan untuk mencegah dan memerangi korupsi. Salah satunya, setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia. Korupsi merupakan kejahatan yang harus kita hindari, bahkan harus diperangi seluruh penduduk sedunia. Yang paling terpenting adalah dari diri kita sendiri yang harus membentengi dari segala tindakan korupsi. Berani, yakinkan diri bahwa korupsi itu merupakan kejahatan, dan kejahatan itu harus dihindari dan diperangi. Saya ingin bapak sebagai calon bupati Kuningan bisa lebih meningkatkan lagi dalam berupaya memberantas korupsi. Dengan keyakinan, keteguhan, kegigihan, dan partisipasi semua lapisan masyarakat, saya yakin masalah ini dapat diberantas.

            Bapak, mungkin saya bukan siapa-siapa. Namun, jiwa saya ini sangat menginginkan bangsa, terutama masyarakat Kuningan bisa hidup sejahtera. Terkadang, laju roda kehidupan selalu berputar. Kadang, kita berada dalam keberuntungan dan kejayaan. Tetapi ada masanya pula keterpurukan menghampiri kita. Maka, saya sangat berharap, di era baru kepemimpinan nanti kita mampu membebaskan bangsa dari jeratan sengsara. Karena bebas sengsara berarti tercapainya pula kehidupan yang sejahtera, seperti hal nya dalam kutipan Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “…. Untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…”

           Sebagai calon Bupati Kuningan masa depan, sangatlah penting bagi bapak mengetahui semua kondisi lapisan masyarakat ini. Terutama nanti jika terpilih menjadi pemimpin, bapak memang penting bagi Kuningan untuk menjadi adikuasa. Namun, meraih kuasa tidak selalu memakai logika. Perlu juga rasa dan nurani yang harus diandalakan pula. Bapak beserta petinggi lainnya diatas, hendaknya menjadikan realitas di bawah sini sebagai suatu hal yang perlu diingatkan kala hendak mengambil suatu kebijakan.

           Di bawah sini, bapak, masih banyak pula muda dan tua yang terbata mengumpulkan koin demi koin, lembar demi lembar rupiah, untuk menyambung rantai usia juga kehidupan walaupun harus rela mandi keringat, menggadai peluh dengan hasil yang nominalnya tak seberapa. Pergi pagi, pulang sore bahkan malam, terkadang hampir 24 jam di gunakan selalu untuk kerja, kerja, dan kerja. Namun, rupiah tetap tak mencukupi keperluannya. Sebatas makan mungkin bisa terpenuhi, tetapi kebutuhan lainnya, seperti administrasi ini itu, masih belum bisa tercukupi. Seakan ekonomi menjadi dilema terbesar bagi kalangan masyarakat, pak. Banyak kejadian dari minimnya rupiah yang didapat oleh masyarakat. Kejahatan seperti mencuri, merampok, bahkan tak kurang yang mencari sesuap nasi dengan pekerjaan yang tak seharusnya mereka kerjakan, melanggar aturan hukum agama juga negara ini, pak.

           Masih masalah ekonomi, pak. Seperti saya ini yang hanya hidup di kalangan bawah dengan ekonomi rendah, masih banyak hambatan dan tantangan tuk melawan kesengsaraan ini. Misalnya, bapak saya yang hanya seorang buruh, dan ibu saya sebagai pedagang makanan ringan anak di sekolah. Bapak dan ibu saya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, terkadang tak cukup, pak. Suka terlambat biaya sekolah, sandang dan pangan yang masih minim tuk memenuhi syarat cukup, pak. Apalagi sekarang bapak telah tiada, meninggalkan keluargaku selama lamanya, sehingga tinggal ibu yang harus bekerja keras sekuat tenaga, dengan bekal kegigihan, berjuang tuk menafkahi keluarga. Dan kejadian seperti ini bukan saya saja, pak. Banyak yang lebih menderita lagi akibat ekonomi yang masih rendah, dan harus dikembangkan dan ditingkatkan lagi.

Widiyanti mendapatkan satu unit Notebook sebagai hadiah juara pertama dari H Dudy Pamuji SE MSi.

          Bapak, masih ada gema yang hendak bapak dengarkan. Keadilan, pak. Sebagian dari kami masih mencari kemana hak kami dibawa pergi. Di sisi lain, banyak orang yang seharusnya mereka ambil, bahkan sengaja sengaja menikmati lebih dari apa yang mereka terima. Banyak pertanyaan yang kami lontarkan, namun hanya bisa melayang di udara. Dan kami disini hanya bisa berusaha meraba jawaban dari si ‘mengapa’.

          Masih di bawah sini, pak. Lagi-lagi realitas yang sama pahitnya. Tiang utama yang seharusnya menjadi tumpuan bangsa ini justru seakan-akan hancur porak poranda. Pendidikan, pak. Banyak generasi muda, yang seharusnya merasakan bangku sekolah justru harus rela mengubur dalam-dalam mimpi mereka mengenyam bangku pendidikan. Mereka lebih memilih bekerja dari pada harus sekolah. Itu karena ekonomi keluarga mereka yang tak memadai, bahkan tak mendukung tuk menempuh jenjang pendidikan. Atau pula generasi muda yang terlalu bebas dalam pergaulan sehingga membuat hati mereka enggan tuk meraih kesuksesan masa depan dengan mencari ilmu. Tak sedikit kasus – kasus yang ada dikalangan remaja yang merusak masa depan, pak. Mulai dari mencoba merokok, sering berada di tongkrongan, cuma main-main saja, bahkan ada pula yang sudah mencoba mengonsumsi obat-obat terlarang, pak. Kami tak ingin remaja masa kini, sebagai calon penerus yang sudah tua, menjadi bangsa yang hanya bisa berada dalam lingkungan yang penuh gelimang maksiat saja, pak. Kami harap bisa mengikuti jejak para pejuang, tetua yang senantiasa mensukseskan bangsa ini, terutama tuk mengabdi pada negara, tanah air, khususnya Kuningan tercinta ini. Sebagai generasi, kami ingin menjadi sosok yang berkualitas, terutama menjadikan Kuningan ini sebagai kota yang maju, juga anak-anak muda yang berilmu tinggi, dan dapat menerapkan ilmunya ke dalam kehidupan sosial ini. Sehingga, semua masalah yang kita hadapi selama ini semuanya dapat teratasi. Mewujudkan semua harapan dan impian dari semua kalangan masyarakat. Kami ingin semua generasi muda, tunas bangsa, mempunyai bekal ilmu dengan mengenyam pendidikan. Kami ingin hidup kita lebih baik ke depannya, dengan bersama-sama membangun bangsa yang semakin berkualitas.

            Mari, bapak. Kita bersama-sama membersihkan Indonesia dari apa yang kita sebut sebagai korupsi, yang merupakan sebuah kejahatan yang harus diberantas. Mari kita kembalikan senyum para muda dan tetua. Mari kita tegakkan keadilan, sehingga Kuningan ini didiami oleh penduduk yang berkehidupan makmur, adil, dan sejahtera. Mari kita buka gerbang harapan dan impian putra putri bangsa. Jangan sampai generasi muda hanya berangan di balik keterpurukan. Semua masalah akan mudah diatasi jika kita bersama-sama meningkatkan kualitas diri sendiri, juga kebersamaan yang kokoh pula. Apalagi jika Kuningan ini putih, bersih dengan tak adanya korupsi.

           Bapa beserta petinggi lainnya tidak akan sendiri tuk berjuang hadapi semua masalah ini, pak. Masih ada kami, rakyat yang peduli. Kami siap berjuang, kami siap berbaris rapih di depan tuk memajukan Kota Kuningan menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi.

Bapak, salam cinta dari kami. Semangat tuk bapak sebagai calon Bupati Kuningan masa depan, semoga cita-cita kita semua dapat kita raih. Kami disini yang ingin turut mengabdi tuk Kuningan tercinta ini.

Hormat saya,

Widiyanti, pelajar MA Mursyidul Falah Cikubangsari

Surat di atas merupakan karya besar seorang pelajar yang mendambakan sebuah idealitas negeri, khususnya Kabupaten Kuningan. Ini menjadi amanat berharga bagi calon bupati untuk diemban kelak setelah benar-benar duduk di Gedung Putih. Lomba Menulis Surat untuk Calon Bupati ini diselenggarakan oleh Trendy (Tim Relawan Dudy Pamuji) yang diketuai Asep Sufyan Ramadhy. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com