Pidato Unik Rana Suparman Mengupas Makna Hari Jadi Kuningan

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bismillahirrohmanirohim

Alhamdulillahi robbil’alamin, wa bihi nasta’in  ala kulii umuriddunya waddin,

Subhanaman, nafada fii kulli sai’in hukmuh, subhanallohiladzim, wa bihamdih, adada kholqih, wa ridhoo’a nafsih, wa ziinata arsih, wa mablaqo ilmih, wa ayatih. Yaa robbanaa, sholli wa sallim, ala syafi’il umam, wal ali, waj’alil anam, musri’iina bilwahidiyati, lirobil’alamin, yaa robbana igfir, yassir, iftah wahdinaa, qorrib, wa allif, bainana yaa robbana. 

S a m p u r a s u n …………..?

Pun sapun salaksa ampun,

Saketi neda paralun

Wiwitan ka sang rumuhun

Sadaya para karuhun

Ka rengrengan girang puun

Sadaya para linuhung

Jagasatru kumna kampung

Amit jabung tumalapung

”Wilujeng sumping para sepuh kadang wargi sadaya dina raraga Milangkala ka 519-Kuningan tahun 2017

Pada hari ini senin 4 September 2017 DPRD kembali melaksanakan rapat paripurna istimewa, dalam rangka peringatan hari jadi, atau yang kita kenal hari kelahiran yang ke 519, mengawali rapat paripurna istimewa ini, untuk memanjatkan puji dan syukur, kehadirat Allah swt, tuhan yang maha pencipta, tiada lain  atas rahmat, pertolongan dan bimbingan-nya kita semua dapat hadir di sini, dalam keadaan sehat wal’afiaat.

Solawat serta salam semoga senantiasa tercurah untuk jungjunan alam, panutan seluruh mahluk, habibana wa maulana Muhammad saw. Kepada para keluarga sucinya, sahabat terkasihnya, pengikut setianya sampai kepada kita umatnya yang senantiasa mengikuti sunnahnya. Semoga haq syafaat dan pertolongannya tercurah pula pada kita di sini  dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini dan juga di kehidupan akhirat yang akan datang dengan pasti.  Demikian  semoga keselamatan menyertai segenap makhluk Allah swt, wabil khusus semoga keselamatan senantiasa menyertai warga Kuningan yang kita cintai, dimana pun dia berada.

Seiring dengan itu, saya atas nama pimpinan, dan anggota DPRD Kabupaten Kuningan, menghaturkan ucapan terima kasih, kepada undangan yang berkenan hadir untuk memenuhi undangan kami, untuk mengawali pelaksanan rapat istimewa ini, dengan berpedoman kepada tata tertib, maka dengan mengucapkan bismillahirahmannirrohim rapat paripurna istimewa peringatan hari jadi kuningan ke 519, kami nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Rapat paripurna istimewa DPRD dan hadirin yang kami muliakan. 

Baru saja kita bersama-sama memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tepatnya 17 agustus 2017, dengan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Kiranya kita semua berkomitmen untuk tetap memupuk jiwa patriotisme guna menggelorakan dan memperjuangkan cita-cita proklamasi kemerdekaan kita,

Begitu juga dengan hari ini berdasarkan kesepakatan pimpinan dewan, bersama dengan bupati, serta jajaran kepanitiaan yang seyogyanya peringatan hari kelahiran Kuningan dirayakan pada tanggal 1 september digeser pada tanggal 4 sekarang ini karena 1 september bertepatan dengan perayaan agung yaitu idul qurban, 

            Rapat paripurna istimewa DPRD dan hadirin yang kami muliakan. 

pada saat yang khidmat ini, dimana detik demi detik terasa menala hati kita, sehingga hati dan rasa ini lebih terbuka akan makna keber”ada”an kita, sebagai manusia Kuningan, sekaligus sebagai masyarakat negeri Kuningan, inilah momen yang tepat dan insya allah  waktu yang mustajab  untuk menghayati, merenungkan dan memahami “siapa sejatinya kita” atau siapa otentisitas diri kita sebagai manusia dan masyarakat kuningan.

Mengenali siapa sejatinya kita manusia Kuningan yang sekaligus masyarakat Kuningan, barangkali tidak pernah terpikirkan oleh kita semua,  mengenai fitroh diri kita sebagai manusia dan sebagai masyarakat Kabupaten Kuningan. Sebuah kefitrahan yang mencerahkan dan memerdekakan. Hari ulang tahun Kabupaten Kuningan tentunya bisa menjadi suatu rutinitas seremonial yang membosankan, jika kita tidak berupaya untuk selalu memaknainya. Tetapi kita merasakan, seolah olah ditarik, menyembul dari kolam keseharian kita yang banal dan dangkal, dengan bising hiruk pikuk dunia, yang tak pernah berhenti menimbuni kesadaran kita yang terdalam. Dimana dunia keseharian itu selalu menghempas dan melemparkan kita dari keberadaan dan kesadaran kita yang sesungguhnya. Menghempas kita dari diri yang terjaga, sadar, hening, syahdu, lirih, berfijar cinta dan bahagianya merdeka.

Maka, di saat ini  tidak salah, kalau kita, sejenak membuka hati dan muhasabah, merefleksikan momen ini untuk pencerahan kehidupan kita ke depan selaku diri dan  negeri kuningan.

Hadirin rapat paripurna istimewa yang kami muliakan 

Sebelumnya izinkan saya menyampaikan muhasabah diri sebagai warga negeri Kuningan yang secara struktural  atas nama lembaga DPRD Kabupaten Kuningan dan secara kultural sebagai  incu putu pangauban Kuningan, yang merasa terpanggil untuk ikut bertangung jawab bagi kemulyaan lemah cai dan para penduduk kuningan. Muhasabah atau refleksi dengan pemikiran: “memfitrahkan diri, memfitrahkan negeri, sebuah strategi untuk menguatkan keberdayaan kebudayaan kuningan”

Dari pemikiran tersebut, muncul pertanyaan yang patut diajukan disini yaitu, pertama : “dalam konteks apa peringatan hari jadi Kabupaten Kuningan saat ini, sebaiknya kita tempatkan?”. Kedua : “apa makna hari kelahiran Kabupaten Kuningan ini bagi kita semua, hari ini…? Dan di sini ?”

Pertama, peringatan hari lahir Kabupaten Kuningan kali ini, kita letakan dalam konteks bagian dari hidup berbangsa dan bernegara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,  proses trasformasi ini yang kita perjuangkan menuju  arah yang lebih baik, arah yang pernah diimajinasikan oleh para pendiri bangsa,  yaitu suatu kemerdekaan yang seutuhnya, yang sesungguhnya, yang sejati-sejatinya, dimana terwujud suatu masyarakat dengan kecerdasan spiritual, mental dan intelektual serta terwujudnya kesejahteraan material bagi rakyat kebanyakan,  sehingga dapat ikut melaksanakan perdamaian dan keadilan dunia. Dengan kata lain adalah suatu masyarakat dari bangsa indonesia yang dicita-citakan yang terbangun jiwanya, terbangun raganya untuk indonesia raya.

Mengapa hal ini menjadi penting..? Sebab kita masyarakat Kabupaten Kuningan  bagian dari bangsa Indonesia, merasa prihatin dengan dinamika kebangsaan yang seakan semakin rapuh tampak sekali kurang mampu menghormati persatuan, kurang memiliki rasa kekeluargaan dan gotong royong sesama anak bangsa. Kita prihatin jika sampai terjadi di suatu masyarakat pemimpin dan rakyatnya tidak bisa saling asah, asih, asuh, sabilulungan menjaga suasana silih wangian. Tetapi saya yakin kita sebagai manusia dan warga Kuningan tidak seperti itu. Kita memahami sesungguhnya persatuan tersebut adalah kesepakatan dan perjanjian kokoh bangsa dan suku dalam wilayah teritorial nusantara, untuk hidup bersama dalam kesetaraan dan keadilan,  kehidupan yang sajajaran saamparan yaitu setara, sejajar dalam hamparan tanah air nusantara. Ini adalah penemuan agung dari para leluhur kita, yang wajib untuk dikembangkan, dijaga, dipertahankan serta memperjuangkannya. Persatuan bangsa dan suku nusantara ini diikat oleh sebuah tatanan pengelolaan organisasi modern atau yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Inilah horison dan cakrawala terluas kita. Ibarat rumah, nusantara indonesia ini adalah rumah besar kita, yang di dalamnya banyak kamar-kamar, berupa pulau-pulau besar dan kecil dengan  penduduk dan sejarah kemanusiaanya yang membentuk corak, karakter dan budayanya masing-masing. Tidak rasional dan melawan fakta alam, apa bila kamar, merasa lebih besar dari rumahnya.

Dalam istilah sunda, nusantara adalah pangauban ageung kita. Pangauban adalah tempat dimana kita aub. Yaitu tempat dimana kita terlahir, hidup, tumbuh bersama, matang, menua dan terkubur jasad di sini, dimana tempat kita diberi fasilitas dan kebutuhan dasar oleh tanah, air, udara dan api di sini. Itulah  pangauban ageung nusantara.

Salah satu sub nusantara adalah nusa jawa, dan nusa jawa dalam pemikiran kami terbagi menjadi tiga yaitu nusa jawa girang (kulon), nusa jawa tengah dan nusa jawa hilir (wetan). Kuningan   merupakan  pangauban kita yang berada di nusa jawa girang secara tata wilayah atau batas alam. Jadi pangauban Kuningan adalah unsur pembentuk dan bagian tak terpisahkan dari nusa jawa girang dan nusa jawa. Dan secara kebudayaan merupakan unsur pembentuk serta bagian tak terpisahkan dari kebudayaan nusa jawa girang yaitu sunda.

Hadirin sidang paripurna istimewa yang kami muliakan 

Saya ingin mengatakan bahwa dalam ke-kuningan-an kita itu ada dua aspek, pertama wilayah teritorial dan kedua sejarah kemanusiaan, sehingga di atas wilayah tersebut membentuk kebudayaan. Yang dalam konsep karuhun disebut tritangtu, yaitu tangtu wilayah, tangtu wahay dan tangtu lampah. Wilayah adalah teritorial, pancernya adalah gunung ciremai, karena gunung sebagai pancer, teutengger, atau simbol peradaban yang membagi oksigen dan mengalirkan air pada DAS dan subDASnya sehingga DAS dan subDAS sering di jadikan batas wilayah kedaerahan atau pemerintahan, dan diatas wilayah ini kita mengalami wayah atau waktu dan lampah atau proses dinamika kehidupan, maka secara wilayah kita adalah bagian dari gunung-gunung di nusa jawa girang dan secara kebudayaan kita adalah bagian dari kesundaan. 

Namun demikian, kita semua melihat dan merasakan, betapa bangsa ini masih menghadapi kendala, hambatan dan tantangan yang serius dalam mewujudkan cita-cita tersebut, masih banyak  rongrongan dan hambatan dari kekuatan asing yang  bercokol dan beroperasi dari dulu hingga sekarang, namun rongrongan,  hambatan dari dalam bangsa sendiri yang lemah mental dan oportunis dimana hanya memenuhi kepentingan dekat dan sesaat, sehingga tega mengoyak persatuan dan tatanan harmoni warisan karuhun masih saja terjadi, yang pada akhirnya kerja kebudayaanlah yang harus mengobati luka-luka itu dengan penuh kesabaran.

Kita  dapat mengambil contoh dari krisis-krisis di sekitar kita, baik yang skalanya nasional, regional maupun lokal, ataupun pada level negara, bahkan masyarakat dan individu sekalipun. Tapi tak usah kiranya  memperdalam contoh-contoh itu. Yang jelas, kita memang sedang mengalami fase puncak krisis multidimensi dan menuju titik nadir keterpurukan bangsa ini. Tapi insya allah dan yakinlah bahwa, setelah puncak pasti ada turunan, setelah titik nadir pasti ada kebangkitan, badai krisis dan keterpurukan ini sebenter lagi akan berlalu, seiring menyingsingya fajar kebangkitan nusantara Indonesia. Dan jika ditanya kapankah kebangkitan itu…? Maka jawabanya ada pada diri kita semua, yaitu  jawaban dari bapak ibu hadirin disini, sebagai incu, putu pangauban Kuningan untuk menjawab, kebangkitan itu akan dimulai di sini di Kuningan ini…!!! Serta dimulai pada hari ini…!! Dengan satu kalimat yaitu, saya, berani..! Dan akan dilakukan pada hari ini…!, saya punya keyakinan sebagai incu putu pangauban nagari Kuningan akan mampu mengatakan sanggup…!

Untuk menjawab pertanyaan kedua di atas, yaitu tentang makna dari kelahiran kembali kuningan ini, karena kita adalah kanagaraan leutik dari bagian kanagaraan ageung nusantara Indonesia, dan subkultur sunda nusa jawa girang, maka untuk menyongsong kebangkitan itu, kita bisa mulai dari diri kita dan diri Kuningan kita. Seperti makolah dalam islam mengatak “ibda binafsik” mulailah dari diri sendiri, disinilah makna kelahiran dan hari jadi Kuningan itu, mungkin untuk kita gali, kita dalami dan kembangkan terus.

Untuk itu dengan segala kerendahan hati, sebagai tanggung jawab moral kita sebagai incu putu pangauban kuningan, saya akan mencoba menawarkan jalan menuju kebudayaan kita yang mungkin kita tempuh.

Kelahiran adalah momen memaknai kefitrahan, kefitrahan asal kemerdekaan

Teringat dalam sebuah hadis nabi, “kullu mauludin yuladuna ‘alal fitrah”, bahwa setiap yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah disini umumnya mengartikan dengan suci, bersih. Tapi jika menyimak firman allah swt , “fa akim wajhaka lidini hanifah, fitrotallohi lati fatoronnasa ‘alaiha”, fitrah disini yang saya pahami adalah keadaan asal yang otentik dan asli. Tidak tercemar, tidak terkikis apalagi terkooptasi dengan yang lain. Itulah fitrah Allah swt, yang ditanamkan kepada diri manusia, fitrah ini bukan milik manusia, tapi fitrah Allah yang tertanamkan.

Tugas kita mengingat dan menemukan kembali fitrah itu, yang mungkin telah tertimbun dalam dalam karena kelalaian, kelupaan dan kealfaan kita sehari-hari, karena hanya dengan kefitrahan itu, apa yang disebut kedaulatan, keberdayaan dan kemerdekaan berasal, tanpa itu yang ada hanyalah kelupaan, kealfaan, kebisingan dalam gelap. Keadaan inilah yang menimbulkan keterbelengguan diri dan pada akhirnya menjadi keterjajahan politik dan kemandegan kebudayaan kita.

Maka memperingati momen kelahiran sejatinya membuka hati, memaknai kembali kefitrahan diri kita yang asali dan otentik, kembali kepada keadaan asal yang fitrah maka, inilah yang saya maksud dengan fitrah diri.

Diri yang fitrah ini, kemudian ber-tajalli, memanifestasi dan mewujud di pagelaran sejarah kemanusiaan, dalam ruang dan waktu tertentu, diri fitri ini dikejewantahkan dalam struktur sosial, politik, ekonomi yang pada puncak sejarahnya diri fitri ini memanifestasi dalam apa yang kita sebut dengan negara. Sehingga struktur sosial dan negara adalah proses menjadikan monumen dari diri yang fitrah ini. Inilah yang saya maksud fitrah negeri.

Maka dalam konteks memperingati hari kelahiran Kabupaten Kuningan adalah bagaimana kita mengingat, mengenali dan memahami kembali, momen kefitrahan diri dan negeri Kuningan ini. Tanpa itu peringatan ini akan tanpa makna dan sia-sia. Maka pertanyaan kita adalah, “ pada momen waktu yang mana,  alur waktu sejarah di tanah air Kuningan ini, kita dapat menemukan fitrah diri dan fitrah negeri itu..?” Maka, disinilah betapa pentingnya mengkaji sejarah kemanusiaan kita. Saat dimana fitrah diri dan fitrah negeri Kuningan ini mewujud, dalam struktur sosial politik pemerintahan di Kuningan dalam fase waktu tertentu, itulah tradisi kita sesungguhnya, tradisi dimana tempat kita merujuk, berpijak, menggali hikmah dan menyepakatinya hari ini. Maka tersadarlah kita bahwa membangun tradisi aman, sehat, rindang indah di kuningan, tidak lepas dari peran pendahulu kita yang telah, menjaga alam ini tanpa mengedepankan kepentingan sesaat. Itulah salah satu makna hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, dimana masa lalu yang telah gemilang harus hadir, hari ini, disini,

Membangun kebangkitan menuju kegemilangan kita bisa, me-qiyas-kan kepada Islam, tradisi Islam di fase  Mekah dan Madinah pada abad ke 7 masehi, waktu dan tempat itulah yang oleh kita umat Islam selalu dirujuk, ditimba hikmah dan pelajarannya untuk dikonvensikan pada tempat disini dan kini, jika kita harus merujuk kepada peradaban barat modern, dimana tempat merujuk peradaban barat itu adalah tradisi yunani, yang mengalami renaisance atau pencerahan pada abad ke-14 masehi. Dan apa bila kita sekarang harus  merujuk pada peradaban Sunda, sebagai pakem yang kita pegang maka, fase pajajaran itu harus direferensikan kepada kasilihwangian di abad 14 – 15 masehi, dimana tempat manusia sunda merujuk dan menimba pelajaran. Itulah tradisi yang saya maksud. Dimana tradisi sebagai upaya kebudayaan dalam mengambil hikmah kelahiran dan memaknai sebuah fase perkembangan kemanusiaan di masa lalu dan masa yang akan datang. Sehingga cara budi dan daya kita mewarnai program – program pembangunan Kuningan kita 

Hadirin sidang paripurna istimewa yang kami muliakan

 Untuk sekedar mengingat kembali bahwa jalan menuju kebudayaan diantaranya ada 3 yaitu:

  1. Jalan Demitologisasi

Demitologisasi berasal dari kata mitos. Dari kata ini muncul kata mitologi. Kita menyebutnya legenda, bagi manusia modern mitos dianggap dongengan masa lalu belaka, sehingga manuisa modern gagal memahami mitos. Secara bijak mitos itu mitis, karena terlahir dari tutur manusia yang disucikan, seperti kata pujangga ronggowarsito, mitos adalah ”karya simpanan mulia”. Karena itu masih penting dan perlu keberadaannya. Suatu mitos memiliki ajaran moral tertentu dan bersifat spiritual.

Contoh mitos mitos besar di tatar sunda seperti sangkuriang dan ciungwanara atau mitos dari pantun sunda seperti mundinglaya dikusma, lutung kasarung, sumur bandung, panggung karaton, budak manyor dan lain-lain.

Mitos biasanya menampilkan tokoh, alur peristiwa dan tempat, yang  sesungguhnya sakral, mitis dan moralis.

Demitoligasi bukanlah desakralisasi seperti dilakukan oleh manusia modern dengan menghilangkan yang sakral, semuanya dibuat rasional dan objektif, sebagaimana yang mendasari model pengetahuan positivisme yang menjadi mainstream di indonesia sekarang.

Padahal pengetahuan kita, soal tempat dan waktu tidak homogen, bagi pengetahuan leluhur kita, tempat dan waktu  ada yang sakral, ada yang suci dan duniawi, seperti  tempat atau wilayah gunung, misalnya, ada wilayah larangan, tutupan dan baladahan. Leuwung larangan itu sakral dan suci, leuweung baladahan itu  duniawi, diantara keduanya adalah leuwung tutupan. Bagi leuweng larangan ada hukum pamali dan pacaduan sedang bagi wilayah baladahan itu hukumnya meunang dan wenang. Bagi manusia dan masyarakat modern semua waktu dan tempat itu tidak mengenal sakral dan tabu, semuanya menjadi profan, duniawi dan objektif.

Jadi jalan demitologisasi adalah tidak membuang mitos, tetapi  mempertahankan mitos yang sakral, mitis, tabu, pamali dan cadu itu, hanya saja bagaimana mitos itu difahami secara rasional dan dapat didayagunakan dan dioprasionalkan dalam kehidupan hari ini.

Kita ambil contoh mitos mundinglaya dalam pantun mundinglaya dikusumah. Mundinglaya adalah putra raja pajajaran yang suatu saat harus mempimpin sebuah mandala atau kabuyutan (negara), tapi sebelum itu dia harus melakukan katarsis atau pensucian diri  berupa suluk untuk mengambil pusaka lalayang salaka domas, yang ada di sabaning langit. Untuk mendapatkan itu harus mengalahkan dulu jongrang kalapetong yang ada di suatu pulau terpencil di tengah lautan. Maka dari mitos ini kita dapat memahami bahwa sebagai  pemimpin negara dan masyarakat di wilayah kerajaan Pajajaran, diharuskan menempuh pendidikan spiritual dengan menundukan ego, kecongkakan yang hanya untuk menutupi kekurangan dan ketidaktahuan yang bersifat saithoniyah, (seperti jongrang kalapetong). Baru setelah itu dia akan mendapatkan amanat suci, yaitu lalayang salaka domas, kemudain syah untuk memimpin suatu kabuyutan (yaitu wilayah untuk dikelola dan diperintah). Dalam kontek sekarang bahwa calon pemimpin negara dan masyarakat harus memiliki kompetensi spiritual, moral dan etik. Pendidkan seperti ini harus ada di sekolah-sekolah, madrasah, pesantren, lembaga pemerintahan bahkan partai-partai politik. Itulah Demotologisasi Kuningan kita.

Kuningan ini kaya akan mitos, yaitu sasakala atau legenda suatu tempat, tokoh dengan peristiwanya. Semua itu berguna dan masih relevan bagi kita untuk kita fahami kandungan moral dan spiritnya. Di bidang pendidikan dan agama bisa menjadi pendidikan karakter anak-anak kita. Itu sangat penting, seandainya mitos, sasakala dan legenda kita  dilekatkan dengan konteks sejarah, wilayah dan tokoh lokal kita, maka mitos  bersifat historis, antropologis dan sosiologis kebudayaan setempat, sehingga kita diajak masuk dalam kesadaran sejarah dan asal usul kita sendiri. Ada pepatah sunda yang bijak,  ”moal apal bakal,  mun teu apal asal “. Kaum santri punya koidah ushul, yaitu, “man jahila ashla, lam yusbihil far’a abadan”, artinya jika kita tidak mengetahui dasar maka tidak akan sampai kepada cabang. Dalam konteks politik koidah ini mengatakan bahwa jika suatu masyarakat tercabut dari asal usulnya, maka mereka tidak akan dapat memenangkan masa depan, alias dijajah dan dikalahkan. Disinlah pentingnya jalan Demitologisasi bagi Kuningan kita.

  1. Jalan Kritik Historis

Kedua adalah kritik historis. Berangkat dari pitutur bijak sepuh dan itu sudah menjadi aksioma bagi kita, aksioma itu teori yang tidak usah dibuktikan lagi kebenarannya, karena memang benar adanya, yaitu, hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, artinya adanya hari ini karena adanya hari kemarin, tak akan ada hari ini jika tak ada hari kemarin. Kita berada di alur waktu bihari, kamari dan kiwari, dan di masa depan,  hari ini akan menjadi masa lalu. Dengan kata lain, kita adalah anak-anak sejarah dari masa lalu, yang hadir di masa kini, jadi kepada masa lalu itu ada dua sikap ekstrim, pertama romantisme buta, kedua meninggalkannya. Romantisme itu, ingin kembali kepada masa lalu yang dianggap gemilang, sehingga lupa berada pada masa kini yang harus dihadapi, dan meninggalkan sejarah itu serta tidak mau melihat masa lalu untuk dihadirkan di masa kini. Kedua ekstrim itu tidak menguntungkan bagi kita, maka  kritik historis berada ditengah-tengah sikap ekstrim tersebut. Kita tidak romantis akan masa lalu, tapi kita juga tidak meninggalkannya sama sekali.

Bagaimana kritik sejarah itu bekerja ? Dimulai dari, apakah yang disebut “kesadaran” dan  hari ini betul betul sebuah kesadaran ? Ataukah sesungguhnya sebuah ketidaksadaran ? Ketika kita mempertanyakan itu, disinilah kritik itu beroperasi. Kesadaran kita bisa jadi sebuah ketidaksadaran dan kelupaan masal, yaitu suatu kesadaran palsu, maka tugas kritik sesungguhnya adalah membuka kedok  kepalsuan dari kesadaran kita.

Mengapa demikian? Sebab isi fikiran kita yang disebut kesadaran itu sesungguhnya ada asal-usul, konteks dan sejarah terbentuknya, seperti contoh, ide yang kita sebut dengan negara, ideologi, pancasila, poliltik, ekonomi, kerakyatan, kebangsaan dan sebagainya dan itu diracik, dibentuk dan dimapankan oleh suatu kekuatan pembentuk dan itu terjadi di masa lalu, dan kita gunakan operasikan hari ini. Sayangnya, seringkali ide-ide itu diracik dan dibentuk oleh kekuatan  yang ingin mendominasi, disinilah kita mengenal adagium bahwa sejarah itu milik para pemenang yang berkuasa, bagaimana jika suatu generasi atas klaim ide masa lalu, terus meracik atas nama kebenaran dan pengetahuannya, dan bukan untuk membebaskan rakyat dari belenggu-belenggu keterjajahan, melainkan sebaliknya ide diracik, dibuat dan dimapankan untuk suatu penguasaan, penaklukan dan penjajahan atas tanah air dan rakyatnya ? Maka celakalah kita, karena sudah dilumpuhkan dan dikalahkan  fikiran dan keserakan  kita. Maka disinilah perlunya kritik kita, atas sejarah yang membentuk kesadaran kita itu.

Dalam konteks  hari ini di Kuningan, demi fitrah diri dan fitrah negeri, maka kesadaran kita itu perlu dimurnikan dari kepalsuan yang dibuat oleh kekuatan yang ingin menaklukan kita. Dan kita sebagai bangsa-bangsa di nusantra telah mengalami penaklukan dan penjajahan eropa selama berabad-abad di abad 17 – 19 masehi. Ada fase sejarah kita yang diputus oleh rezim penjajah. Sebelum mereka menguasai tanah air ini, pasti mereka membuat rekayasa penghilangan sejarah kita dengan mengganti ide-ide yang membenarkan penjajahan dan penguasaan mereka yang dimasukan ke isi kepala-kepala anak-anak bangsa ini. Dan bukan tidak mungkin, sampai hari mereka kaum penjajah itu masih melangsungkan hegemoni ide-ide tersebut yang berbeda kemasan.

Dalam konteks Kuningan, yang kita butuhkan hari ini adalah menemukan kembali sejarah kita yang terbebas dari intervensi dan rekayasa kekuatan yang membelenggu dan menjajah kita. Kesadaran kita hari ini, kita kritik, kita koreksi dan berusaha melapauinya, dengan merujuk kembali pada fase  dimana kemerdekaan, kedaulatan dan kemulyaan yang gemilang dari kuningan , dan itu jalan kembali kita. Maka kami hanya mengingatkan, kritik sejarah, bukan untuk meninggalkan masa lalu kita, dan bukan pula  romantisme masa lalu kita. Kritik sejarah ini untuk menemukan sejarah kita, yang memfitrahkan diri dan negeri Kuningan, sehingga anak cucu kita tidak kehilangan jejak.

Hadirin rapat paripurna yang kami muliakan

  1. Jalan Geopolitik Strategis

Geopolitik strategis  dibutuhkan untuk mengenali dan menentukan arah kebijakan politik pembangunan sosial dan ekonomi kita.

Dengan, wawasan nusantra, wawasan kebangsaan, dan geoplitik strategis. Hendak difahamkan kepada kita, dan bagaimana kebijakan politik itu harus mengenali karakter kawasan, baik potensi, kekuatan, hambatan dan ancaman dari luar dan dari dalam, sehingga politik menjadi kekuatan  ihtiar dalam menjaga, memelihara dan mengelola wilayah untuk sebesar besarnya kemakmuran masyarakat lahir dan batin, sehingga geopolitk tertempatkan  sebagai  tata wilayah atau tata tanah air.

Dalam halnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah wilayah yang strategis bagi dunia secara alamiah, baik ekonomi dan politik dunia. Letak strategisnya itu juga merupakan ancaman bagi kedaulatan nasional, karena dari dulu bangsa-bangsa luar mengincar keuntungan dari tanah air kita. Saya tidak akan terlalu jauh soal geopolitik strategis Indonesia. Kita kembali ke Geopolitik wilayah Kuningan.

Tentunya kita percaya sain dan teknologi tentang kajian kewilayahan atau rencana umum tata ruang kita. Kami mencoba menterjemahkan kerangka besar  ilmu geopolitik sunda buhun,  yang  diambil dari naskha amanat galunggung, yang  dinisbatkan kepada raja sunda yang berasal dari kita, yaitu rahiyang dharmasiksa. Dimana inspirasi dari naskah ini sekarang sudah dibuat metodologinya.

Yang penting dari naskah amanat galunggung  bagi kajian wilayah dan geopolitik adalah falsafah dan konsep gunung pangauban, bahwa tata wilayah itu tidak lepas dari gunung sebagai tetengernya,  gunung adalah falsafah politik dan tata negara,  sebagi contoh,  kita di gedung dewan ini sedang berada di hamparan gunung, hanya saja kita berada di kaki gunung, atau di daerah hilir baladahan, atau wilayah karatuan gunung. Wilayah karamaanya di puncak gunung sampai batas wilayah larangan gunung.  Jadi konsep gunung dalam naskah kuno itu dari puncak hingga muara di lautan. Maka secara umum dibagi tiga wilayah gunung yaitu wilayah karamaan (atas), wilayah karesian (tengah) dan wilayah karatuan (hilir), atau yang  kita disebut makrokosmos jagat gede, adalah gunung pangauban.

Itulah hamparan wilayah kita yang disebut gunung pangauban dimana sungai besar (walungan) yang mengalirkan air sampai ke laut adalah sebagai garis simentrisnya. Jadi wilayah dimana bahe caina atau mengalirnya air menuju walungan, itulah yang disebut pangauban atau teritorialnya. itulah yang disebut tangtu pangauban atau hukum hukum pasti alamiah yang terbentuk jauh sebelum kita lahir. Dan mengenali tangtu pangauban adalah politik kewilayahan, secara lebih terperinci terhadap tangtu pangauban adalah tugas politik mengenali apa yang disebut tutupan. Yaitu mengenali wilayah-wilayah strategis dengan karakter alamnya yang terhampar dari puncak gunung sampai muara serta dengan mengenal flora fauna, dan manusianya, itu adalan potensi yang bisa di pormulasikan kedalam program dan strategi pembangunan social ekonomi masyarakat kita, itulah geopolitik kuningan  kita.

Demikianlah refleksi kami, di hari yang bersejarah kita ini. Tentunya ini tataran visi besar  dan filosofisnya. Mudah mudah bermanfaat dan menjadi political will ke depan tidak ada salahnya untuk mem break down pemikiran ini, sehingga mewarnai RPJMD kita dan menjadi program program strategis kebudayaan kita.

Saya akhiri dengan rajah galunggung :

Balungbung agung rahayu rumincing manjing walagri

Bray caang bray narawangan, wangi diri sanubari

Korejat saringkang ringkang

Rancage hate awaking

Rahayu diri, rahayu kuningan, rahayu sapuratina…

Merdeka !!

Cag, rampes

Wasalamu’alaikum

Wallohul muwafiq ila aqwamith thariq

Wassalamualaikum wr wb

Merdeka!!

 

Kuningan, 4 september 2017

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Kabupaten Kuningan

Ketua,

 

Rana Suparman, S.Sos

 

 

 

 

 

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com