Menanti Gerakan Sosial Haji dan Hajjah

KUNINGAN (MASS) – Setiap tahun, ribuan umat islam Indonesia antri untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Banyak factor yang menggugah semangat antrian tersebut. Salah satunya untuk menunaikan kewajiban rukun islam yang terakhir.

Ketika tiba saatnya berangkat haji, harapan dan doa terus terucap menyertai calon jemaah. Baik doa dirinya sendiri, keluarga, maupun dari orang lain yang menyaksikan keberangkatannya. Semua berdoa supaya kepergian jemaah untuk beribadah haji berjalan lancar, selamat sampai tujuan, dan pulang kembali menyandang predikat mabrur dan mabruroh.

Predikat haji mabrur dan mabruroh tidak hanya sedekar pelaksanaan haji yang diterima oleh yang kuasa, Allah Tuhan Yang Maha Esa, melainkan dalam makna kontekstual, yaitu mampu menjawab harapan dari makna pelaksanaan haji itu sendiri.

Seperti sudah lazim diakui masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim, harapan dan doa yang mengiringi kepergian tetangga atau sanak saudara yang melaksanakan ibadah haji adalah lahirnya dampak positif terhadap perubahan social. Bukan tanpa alasan, harapan ini bersandar kepada sebuah peristiwa atau kisah yang amat mashur. Yaitu, orang yang dikatakan mabrur oleh Nabi ketika lebih memilih tidak melanjutkan ibadah haji demi menolong orang “tidak mampu” yang dijumpainya.

Singkatnya, doa kemabruran adalah sebuah dambaan atau pesanan predikat untuk calon jemaah haji. Supaya nanti, usai kepulangannya dari tanah suci bisa memberi dampak baik kepada negeri yang dijumpainya kembali. Terlebih kondisi tanah air ini sedang dalam keadaan gunjang-ganjing, morat-marit, dan keprihatinan-keprihatinan lainnya.

Kepulangan jemaah haji nanti, diharapkan membawa berkah ke tanah air. Masyarakat di tanah kelahiran masing-masing berharap kedatangan para superhero yang mampu menampilkan dirinya tampil berani untuk lebih baik. Siap memberantas korupsi, membayar hutang dan janji kemerdekaan, menyejahterakan rakyat, menyantuni tetangga, dan lain sebagainya.

Dalam doa dan harapan haji yang mabrur, tersimpan cita-cita kemantapan haji sebagai pilar doktrin Islam yang mampu memotivasi masyarakat warga supaya sadar, bebas, terhormat, dan bertanggung jawab secara social. Sebuah harapan akan cahaya terang yang mampu menjadi membuka tabir kegelapan hidup. Tidak hanya menyinari dengan dakwahan dan tausiyah sebagaimana umumnya, melainkan mampu mengangkat realitas social dari keterpurukan menjadi tananan masyarakat yang adil makmur.

Seperti pemikiran yang dikembangkan oleh sosiolog muslim kenamaan Ali Syariati. Melalui ritual Ibadah haji, segala macam pakaian harus ditanggalkan menjadi satu pakaian yang sama. Yaitu baju Ihrom. Artinya, segala jenis dan ciri khas baju kedaerahan yang dipakainya, identitas social yang disandangnya, pangkat dan jabatan yang diembannya mau tidak mau harus dilepas dan diganti. Yaitu oleh sebuah kesederhanaan yang tersimpan dalam symbol kain ihrom. Siapapun orangnya, mau tidak mau harus melekatkan dalam kondisi dan keadaan bagaimanapun sebuah kesederhanaan di hadapan Tuhan.

Kemudian, simbol lain yang harus diwujudkan sepulang ibadah haji adalah larangan bercermin yang menyimbolkan tatapan terhadap diri sendiri atau egois, larangan memakai wangi-wangian yang menyimbolkan cinta kesenangan dunia, larangan menyuruh orang lain yang berarti mengekploitasi, larangan menyakiti hewan, dan merusak tumbuhan.

Larangan-larangan tersebut sudah seharusnya menjadi pilar para jemaah haji usai kepulangannya ke tanah air. Menjadi pelopor dalam segala jenis pembangunan tatanan social yang lebih baik. Tidak mencuri hak orang lain, tidak memperkaya diri, tidak menjadi tuan bagi budaknya. Tetapi, kehadiran para haji dan hajah sejatinya menjadi pelestari alam, penebar kedamaian, dan penyelaras kehidupan supaya berjalan amam tentram dan selamat.

Selain itu, harapan dan doa haji mabrur dan mabruroh harus terwujud dalam setiap perlombaan menggapai kebaikan. Bagaiana melakukan fastabiqul khoirot supaya tidak menjadi keburukan bagi orang lain. Sebagaimana pesan ketika berhaji, upaya keras mencapai hajar aswad (ka’bah), tidak harus serta merta meluluh lantahkan jemaah lain di sekitarnya hanya untuk menyium atau menyentuh batu hitam, dan tidak melawan arah yang bersebangan dengan jalan orang lain. Melainkan seiring berjalan sesuai alur yang sudah ditentukan dan menjadi sunatullah.

Karena itu menurut Syariati, kenapa ka’bah isinya kosong dan tidak satupun tamu Allah memasukinya? karena ka’bah bukan tujuan. Sedekat apapun para jemaah tidak diperbolehkan masuk. Melainkan terus tawaf, beraktifitas, berjalan, mengatur keseimbangan hidup dengan jemaah-jemaah yang lain. Jangan berhenti apalagi melawan arus, melainkan harus terus seiring dan sejalan dengan aturan.

Tentu, masih banyak pesan yang disimbolkan dalam pelaksanaan haji untuk menuju harapan kemabruran ini. Dari awal persiapan pemberangkatan haji, perpaduan dengan anggota kelompok sampai kembali lagi ke pangkuan keluarga, masing-masing menyimpan bejuta makna. Bahkan tidak akan selesai untuk dituliskan dalam bentuk apapun.

Sekali lagi, harapan dari haji mabrur dan mabruroh yang terpenting adalah menerapkan kembali semua pesan yang tersampaikan dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji di tanah suci. Ibadah haji yang merupakan sebagian kecil perjalanan hidup di tanah air harus menjadi kekuatan besar untuk kembali mengabdi.

Ke Mekkah para jemaah hanya datang untuk diingatkan. Saat kembali ke tanah air, mereka harus menerapkan makna-makna. Jangan sampai jemaah tersebar di seluruh penjuru tanah air tetapi tidak memberikan kebaikan kepada tempat yang didiaminya. Apalagi kalau jumlah haji dan hajjah terus bersaing dengan bertambahnya masyarakat miskin. Wallahu a’lam***

Penulis: Ceng Pandi (Anggota Majelis Diskusi Filsafat dan Agama (MIFA) Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com