Mahasiswa, Pergerakan, dan Konsolidasi Demokrasi

KUNINGAN (MASS) – Kekuatan politik dipegang oleh berbagai macam elemen dan tingkatan masyarakat. Masyarakat yang memiliki kesadaran akan peran dan kedudukannya dalam sistem politik, akan memberikan nafas yang segar bagi kehidupan politik khususnya dalam kehidupan demokrasi. Akan tetapi, hal yang paling penting dalam kehidupan demokrasi adalah bagaimana mengelola  setiap elemen masyarakat agar dapat menciptakan suatu demokrasi yang sehat. Tentu saja pemeritah sebagai pemegang kekuasaan formal harus mampu mengelola demokrasi ini dengan memperkuat prinsip-prinsip yang sudah dipegang teguh dalam demokrasi.

Ditengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus rezim ini, banyak masyarakat yang menilai rezim Jokowi mengalami krisis demokrasi. Mulai dari pembubaran salah satu ormas yang dianggap mengancam falsafah negara Indonesia sampai penodaan demokrasi yang dilakukan penegak hukum akhir-akhir ini dengan ditangkapnya beberapa mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi.

Ketakutan rezim ini mengalahkan keyakinan pemerintah itu sendiri akan kemampuannya dalam mengelola demokrasi. Konsolidasi demokrasi yang menjadi puncak tahapan transisi demokrasi akan sulit dicapai apabila pemahaman demokrasi antara pemeritah dengan masyarakat berbeda.

Kedudukan Mahasiswa Sebagai Kekuatan Politik

Mahasiswa sebagai salah satu elemen terpenting dalam kehidupan demokrasi harus memberikan kontribusi yang nyata. Walaupun adanya pergeseran pergerakan mahasiswa antar rezim, hal itu tidak memudarkan peran mahasiswa sebagai pengawal dan pengawas setia kegiatan pemerintahan.

Kedudukan mahasiswa dalam sistem politik pun memiliki posisi penting, mahasiswa dianggap sebagai kaum elit yang sadar akan perannya dalam kehidupan politik. Tidak heran bahwa kegiatan-kegiatan mahasiswa banyak yang bersifat kritis dan menekan. Terkadang idealisme yang dimiliki mahasiswa harus diekspresikan, walaupun caranya bersebrangan dengan keinginan pemerintah.

Status quo saat ini mahasiswa seperti kehilangan orientasi dalam kehidupan demokrasi dan politik. Hal tersebut akan menimbulkan sifat-sifat yang buruk terhadap kehidupan demokrasi, seperti apatisme, hedonisme, dan sebagainya. Patut di apresiasi terhadap mahasiswa yang pada saat  ini masih memiliki orientasi yang jelas dalam kehidupan demokrasi dan melakukan pergerakan nyata untuk mengekspresikannya.

Satu hal terpenting yang jarang disadari oleh mahasiswa adalah perannya sebagai jembatan penghubung antara kelas bawah (under class) kepada kelas atas (upper class). Kelas bawah dapat diartikan sebagai masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, sedangkan kelas atas dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan.

Salah satu cara untuk menciptakan konsolidasi demokrasi atau kedewasaan demokrasi adalah membangun kesamaan pemahaman mahasiswa untuk berperan aktif dalam kehidupan demokrasi dan politik. Serta membangun bersama budaya politik yang sehat bagi kehidupan demokrasi kita, sehingga pada akhirnya disorientasi mahasiswa tidak akan terjadi.

Pesan Moral Demokrasi Untuk Mahasiswa

Tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam kehidupan demokrasi. Akan tetapi di era digital dan modernisasi ini kualitas peran mahasiswa menyurut. Kehidupan yang serba praktis membuat pola pikir mahasiswa pun praktis. Ketika dihadapkan masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan politik  atau demokrasi, banyak mahasiswa yang enggan memperjuangkan atau membuat suatu pergerakan yang nyata untuk memecahkan masalah tersebut.

Keengganan mahasiswa tersebut bukanlah tanpa sebab. Tumpulnya pergerakan mahasiswa berkaitan erat dengan eksistensi diri, mereka menganggap bahwa ketika terlibat dalam kehidupan poitik atau demokrasi eksistensi diri tidak akan didapatkan.  Hal tersebut merupakan efek laten dari berkembangnya teknologi terhadap peran mahasiswa.

Demokrasi memberikan nafas baru untuk kita agar memiliki kehidupan yang baik serta berupaya untuk mensejahterakan rakyat. Transisi demokrasi seakan tersendat dengan permasalahan-permasalahan yang menyulut identitas masyarakat itu sendiri, seperti etnisitas, agama, suku, budaya, dan sebagainya. Dimas Okky Nugroho (Staff Khusus Kepresidenan) mengatakan  bahwa demokrasi akan hancur bukan karena permasalahan perbedaan identitas, akan tetapi  negara akan hancur karena ketidak adilan itu sendiri.

Maka dari itu, pesan terpenting demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah upaya untuk menjaga keadilan yang seadil-adilnya. Baik itu keadilan dalam hukum, keadilan dalam politik, keadilan dalam kehidupan sosial, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tugas bersama terkhusus bagi pemerintah dan mahasiswa sebagai agent of change.

Demonstrasi Sebagai Jalan Terakhir

Berbagai macam cara mahasiswa atau masyarakat secara umum dalam memberikan pengaruhnya di kehidupan politik, baik itu cara formal maupun cara yang bersifat informal. Demokrasi memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpendapat dan mengkritik kebijakan pemerintah. Akan tetapi, salah satu patologi dalam demokrasi akan muncul ketika pemerintah menciptakan ruang yang sempit bagi warga negara untuk menjalankan haknya, terutama hak untuk berpendapat.

Salah satu jalan yang sampai saat ini tetap eksis adalah melalui demonstrasi. Demonstrasi terjadi bukan tanpa sebab, tahapan-tahapan yang panjang dan matang membuat keyakinan masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Sebagai jalan terakhir, demonstrasi diharapkan dapat menekan dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat.

Kita semua menyadari bahwa melalui demonstrasi kebijakan itu tidak akan berubah, karena kewenangan tetap berada ditangan pemerintah. Akan tetapi, demonstrasi hanya dapat menekan pemerintah agar kebijakan tersebut dapat berubah. Demonstrasi merupakan jalan terakhir dalam perjuangan demokrasi, demonstrasi akan mendapatkan citra yang buruk ketika pelaksanaannya chaos dan pemerintah tidak memberikan ruang bagi para demonstran.

Inilah demokrasi, sistem yang begitu bising tetapi memberikan hak-hak yang luas kepada manusia. Kemampuan pemerintah dalam mengelola demokrasi diuji ketika isu-isu demokrasi muncul kepermukaan. Pendewasaan demokrasi akan terus berjalan seiring dengan kesadaran warga negara khususnya mahasiswa untuk melindungi hak-hak orang lain dan memberikan kontribusi nyata dalam proses konsolidasi demokrasi.

Bagaikan dua sisi gelap dan terang, demokrasi  hadir bukan untuk menyatukan kedua sisi tersebut, akan tetapi menjaganya untuk selalu utuh dan melengkapi.***

Penulis: Muhammad Firdaus (Peneliti Laboratorium Ilmu Politik Universitas Andalas)

 

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com