Koalisi Umat Menuai Kritik

KUNINGAN (Mass) – Baru saja Koalisi Umat yang merupakan gabungan 4 parpol lahir, langsung menuai kritik. Salah satunya menganggap, penamaan koalisi tersebut salah tempat.

Kritik ini dilontarkan Koordinator Nasional Aliansi Nasional Cendikia Akar Rumput (ANCaR), Tunggul Naibaho. Kepada kuninganmass.com Selasa (1/8), ia menegaskan Kuningan memiliki homogenitas yang tinggi.

“Koalisi Umat yang saya singkat KU itu menurut saya salah tempat. Kuningan memiliki homogenitas yang tinggi baik atas agama maupun suku,” kata Tunggul.

Ia mengibaratkan KU seperti sekelompok pemain musik dangdut yang kemudian membuat panggung sendiri. Promosinya musik kasidahan tapi instrument yang ada terdapat musik lain.

“Promosinya ini musik kasidahan tapi dari instrument yang ada, dangdut juga atau paling tidak orkes melayu,” ucapnya.

Dia melanjutkan, KU menjadi berlebihan kalau tidak dibilang menyesatkan. Karena istilah umat, menurutnya masuk dimensi agama.

“Umat itu dimensinya agama. Kalau rakyat dimensinya politis. Masyarakat di sosial, warga di teritori, penduduk di administrasi dan orang itu di adat istiadat,” terangnya.

Jika hanya dimensi agama saja, Tunggul menilai terlalu sempit. Padahal menurut dia, parpol yang mendeklarasikannya tidak hanya akan mengurus satu dimensi saja.

“Saya menilai KU tidak mendidik. Hanya sekadar ingin berbeda, dan itu pun gagal. Faktanya sama saja. Karena di Kuningan, tidak beda antara KU dan KR (Koalisi Rakyat),” tandasnya.

Sementara itu, Jumat (28/7) lalu, 4 parpol sepakat menggalang kekuatan menghadapi Pilkada 2018. Keempat parpol tersebut yaitu PAN, PKS, Demokrat dan Gerindra. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com