Hilangkan Stigma Demo Selalu Anarki

KUNINGAN (Mass) – Aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Kuningan yang berbuntut insiden pemukulan mahasiswa, menuai reaksi pula dari BARAK (Barisan Rakyat Kuningan). Organisasi ini meminta agar jangan muncul stigma bahwa demonstrasi selalu akan cenderung anarki.

“Tindakan kekerasan yang dilakukan oknum ASN dan kepolisian dalam penanganan aksi mahasiswa HMI dan IMM untuk menolak Perppu ormas sangat disayangkan dan dikecam BARAK,” kata Ketua BARAK, Nana Rusdiana SIP kepada kuninganmass.com, Kamis (10/8).

Tindakan kekerasan tersebut, menurut Nana, telah menambah daftar panjang represifitas aparat dalam menghadapi penyampaian aspirasi di tempat publik. Aparat pemerintah yang sejatinya diharapkan telah mereformasi diri justru terkesan menunjukan arogansi dan anti demokrasi.

“Apakah dengan alasan menjaga ketertiban umum dapat dijadikan dalih bagi aparat untuk melakukan tindakan represif terhadap para demonstran?,” tanya Nana.

Ia juga mempertanyakan makna dari ketertiban umum. Nana mengkorelasikan antara ketertiban umum dengan kebebasan berekspresi.

“Lantas bagaimana kita harus memaknai ‘ketertiban umum’? apakah ketertiban umum selalu bertentangan dengan ‘kebebasan berekspresi’? lalu bagaimana juga kita memaknai ‘kebebasan berekspresi’ (demo) itu sendiri? Batasan apa yang bisa digunakan untuk melihat sebuah aksi melanggar ketertiban umum?,” ucapnya bernada tanya.

Aparat di lapangan, imbuh dia, harusnya memahami adanya situasi-situasi sosial yang kadang kala tuntutannya progresif. Kadang pula tuntutannya menjadi absurd.

“Mengapa orang melakukan tuntutan radikal, mengapa orang tiba-tiba bakar diri, mengapa orang aksinya bakar ban sehingga mereka menganggapnya aksi anarki,” ucapnya.

Menurut Nana, ini adalah bagian dari sistem berpikir yang harus ditangkap oleh institusi kepolisian sebagai hak konstitusional. Jangan dianggap sebagai penghambat dari situasi-situasi umum keamanan.

“Demonstrasi itu dijamin oleh konstitusi. Tugas kepolisian sebenarnya memberikan perlindungan dan jaminan kebebasan berekspresi pendapat setiap orang, dan jangan muncul stigma bahwa demonstrasi itu selalu akan cenderung anarki dan harus berpikir bahwa bagaimana membuat aksi tersebut menjadi damai,” tandas Nana. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com