Gunung Agung Aktif Terus, Bagaimana Dengan Ciremai?

KUNINGAN (Mass)- Perhatian warga Indonesia saat ini terfokus ke Bali. Pasalnya, di pulau dewata itu saat ini kondisi gunung Agung terus aktif dan diprediksi akan meletus.

Kondisi ini membuat warga Kuningan sebagian was-was dengan gunung Ciremai. Karena gunung tertinggi di Jawa Barat itu termasuk ke kategori gunung berapi aktif.

“Tiap gunung berapi itu memiliki dapur magma yang berbeda-beda sehingga ketika yang satu meletus atau aktif tidak ada hubungan apa-apa,” jelas Petugas Pos Pengamatan Gunung Ciremai Iyus Rushana kepada kuninganmass.com, Sabtu (7/10/2017).

Diterangkan, hingga saat ini gunung Ciremai terus tertidur. Tertidur sangat pulas sehingga tidak ada batuk sekali pun.

Pria yang sudah bertugas sejak tahun 1980-an ini menyebutkan, Ciremai merupakan gunung yang masuk ke jajaran 127 gunung berapi yang ada di Indonesia. Gunung Ciremai sendiri merupakan gunung berapi yang terbilang jarang “menggeliat”.

Ini dibuktikan sejak meletus terakhir kali pada tahun 1938 hingga saat ini aktivitas gunung adem ayem. Memang pada tahun 2003 pernah terjadi getaran. Namun, geteran itu disebabkan oleh gempa tektonik lokal yang membuat Ciremai terbangun. Sebab, yang bisa memicu gempa vulkanik salah satunya ada gempa tektonik. Tapi, geteran tersebut tidak masuk kategori berbahaya.

Meski karakter gunung berbeda dengan gunung lain yang selalu rutin menggeliat. Namun, warga harus tetap waspada karena yang namanya gunung berapi bisa aktif kapan saja. Buktinya adalah Gunung Agung dan Sinabung.

Ia menyebutkan, apabila gunung sampai meletus maka akan banyak dampak negatif yang menimpa wilayah sekitar gunung khususnya Kuningan. Meski dampak positif yakni lahan tanah jadi subur.

Dari berbagai sumber yang dihimpun kuninganmass.com selama kurun waktu 400 tahun terakhir, Gunung Ciremai hanya meletus sebanyak tujuh kali. Letusan pertama Gunung Ciremai tercatat terjadi pada 3 Februari 1698.

Lalu, letusan itu disusul letusan kecil pada 11-12 Agustus 1772, 1775, dan April 1805. Ketiganya tanpa menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Tahun 1917 terjadi semburan uap belerang di dinding selatan gunung yang dikategorikan dalam letusan. Kemudian pada September 1924 terjadi tembusan fumarola kuat di bagian barat kawah dan dinding pemisah kawah.

Letusan besar terakhir tercatat pada periode 24 Juni 1937– 7 Januari 1938. Berupa letusan preatik dari kawah pusat dan celah-celah radial di dalam perut gunung.

Meski tidak jatuh korban jiwa maupun kerusakan berat, tetapi abu vulkanik yang dimuntahkan gunung tersebut tercatat jatuh tersebar di kawasan seluas 52.500 kilometer persegi.(agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com