Dokter dan Kepala KUA Mendadak Jadi Tukang Cukur

KUNINGAN (MASS) – Prosesi puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sebagaimana ujaran Nabi saw., “al-hajj ‘arafah—haji adalah Arafah.” Ibadah haji tidak sah tanpa wukuf di Arafah. Sebenarnya, bukan hanya wukuf. Ada beberapa rukun haji lain yang harus dipenuhi setiap jamaah, termasuk thawaf, dan sai. Namun, wukuf menggambarkan keseluruhan ibadah haji. Wukuf benar-benar menjadi puncak dan inti ibadah haji sebagaimana digambarkan hadis Nabi saw. itu. Karena itulah Pelayan Haramain—Dua Tanah Suci—memusatkan perhatian aparatnya pada puncak pelaksanaan ibadah haji ini. Angkutan bus shalawât (jamak dari kata shalât) dihentikan beberapa hari menjelang pelaksanaan wukuf. Beberapa akses utama menuju Masjidil Haram juga ditutup.

Tujuannya jelas, agar semua calon jamaah haji yang menetap cukup jauh dari Masjid bisa mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pelaksanaan wukuf. Mereka dianjurkan untuk tidak pergi beribadah ke Masjidil Haram. Beberapa hari menjelang 9 Zulhijjah, pemerintah RI melarang para jamaah haji Indonesia untuk pergi ke Masjidil Haram atau melakukan aktivitas di luar pemondokan. Dengan begitu, diharapkan mereka benar-benar sehat dan siap untuk mengikuti prosesi puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, Mabit di Mina dan di Muzdailifah, lalu melontar jamarât.

Jamaah haji asal Kabupaten Kuningan juga mengikuti anjuran dari pemerintah. Para calon jamaah haji berdiam di pondokan masing-masing menjelang pelaksanaan wukuf. Kendati demikian, ada beberapa jamaah yang diam-diam, di luar sepengetahuan petugas, pergi ke Masjid untuk shalat, thawaf, atau iktikaf. Tanggal 8 Zulhijjah, semua jamaah haji, termasuk jamaah haji asal Kab. Kuningan diberangkatkan menuju Arafah. TIdak ada kesulitan dalam proses pemberangkatan kecuali bahwa maktab menyalahi janjinya. Awalnya mereka menjanjikan 8 bus untuk mengangkut 409 jamaah haji kloter 86 JKS. Namun, kenyataannya, pihak maktab hanya menyiapkan 5 bus sehingga para jamaah mesti berdesak-desakan.

Seluruh jamaah haji tiba di Arafah dengan selamat dan ditempatkan di empat tenda yang cukup besar. Sebenarnya, tenda-tenda di Arafah cukup nyaman untuk beristirahat karena dilengkapi dengan water fan dan AC yang memadai. Namun, karena cuaca Arab Saudi yang sangat panas—di hari Arafah suhunya mencapai 45-500C—tetao saja banyak jamaah yang mengalami serangan hawa panas (heat stroke). Hari itu petugas dan paramedis benar-benar bekerja keras agar para jamaah haji, terutama yang sepuh dan lemah tidak tumbang karena sengatan panas. Dari waktu ke waktu kami mengingatkan jamaah untuk minum dan membasahi tubuh mereka dengan air. Bahkan, karena saking khawatirnya, kami mengganggu kekhusyukan ibadah wukuf mereka dengan membagikan botol minuman ketika mereka birzikir dan berdoa. Alhamdulillah, dari 409 jamaah (yang sebagian besarnya tergolong risiko tinggi), hanya dua orang yang mesti diinfus di dalam tenda perawatan karena menderita heat stroke.

Ketika hari memasuki 10 Zulhijjah, jamaah haji diberangkatkan menuju Muzdalifah. Dan malam harinya, skeitar pukul 01 WAS sebagian besar jamaah haji asal Kab. Kuningan berjalan menuju Jamarât untuk melempar jumrah aqabah. Sementara, karena jarak yang cukup jauh, kurang lebih 7 km., para jamaah yang sepuh dan sakit tinggal di tenda di Muzdalifah/Mina. Barulah pada tanggal 12 Zulhijjah para jamaah yang sepuh dan sakit dijemput oleh para petugas haji dan pengurus KBIH menggunakan bus. Mengingat biasanya banyak jamaah yang menggunduli rambutnya sebagai penegasan tahallul, saya berinisiatif membeli seperangkat alat cukur. Berkah, alat cukur itu dimanfaatkan para jamaah untuk menggunduli rambut mereka. Tepat setelah saya, paramedis dan beberapa jamaah melaksanakan thawaf ifadhoh, secara bergantian saya dan dr. Yan Floresta menjadi tukang cukur untuk menggunduli rambut para jamaah haji asal Kab. Kuningan.

Hingga catatan perjalanan haji ini ditulis, masih ada sejumlah jamaah yang belum melaksanakan thawaf ifadhoh karena bus shalawât yang mengangkut jamaah ke Masjidil Haram belum beroperasi dan juga karena situasi Masjidil Haram yang masih sesak oleh jamaah haji dari negara-negara lain. Apalagi para jamaah yang sepuh dan sakit. Mereka baru akan melaksanakan thawaf ifadhoh pada tanggal 15 Zulhijjah, karena harus dibawa dengan kursi roda. Secara umum, dari sisi kesehatan, hampir sebagian besar jamaah mulai terserang flu dan batuk. (Laporan Dedi Ahimsa/Petugas Haji/Kepala KUA Lebakwangi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com